Beranda Beranda Pengamat: Kok Bisa Beda Hitungan Jonan dan Freeport

Pengamat: Kok Bisa Beda Hitungan Jonan dan Freeport

20
0
BERBAGI
Ribuan Karyawan Freeport yang mengelar Aksi Damai /timikasatu.com

PRIBUMINEWS – Surat balasan Freeport kepada pemerintah Indonesia, yang dibocorkan di publik, menunjukkan bahwa masih ada perbedaan pendapat dalam penetapan harga divestasi 51% saham Freeport.  Demikian diungkapkan Pengamat Energy dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi.

“Pemerintah mengusulkan bahwa penetapan harga saham Freeport ditetapkan berdasarkan perhitungan asset dan cadangan hingga 2021. Sedangkan, Freeport menghendaki penetapan harga saham yang memperhitungkan asset dan cadangan hingga 2041,” ujar Fahmy dalam rilisnya yang diterima Redaksi ENERGYWORLD INDONESIA Kamis, (12/10/17).

Menurut Fahmy pada saat Freeport menawarkan divestasi 10,64% tahun lalu, Freeport memasukan asset da cadangan hingga 2041. Dengan asumsi tersebut, Freeport mentapkan nila saham 10,64% sebesar US$ 1,7 miliar atau sekitar Rp. 22,95 triliun (US$ 1 setara Rp. 13.500). Berdasrkan perhitungan Freeport itu, harga 100% saham ditetapkan sebesar US$ 10,70  miliar atau sekitar Rp. 144.45 triliun.

“Dengan demikian, harga 41,36% saham, untuk mencapai divestasi saham 51%, diperkirakan sekitar sekitar US$ 4,43 miliar atau sekitar Rp. 58,32 triliun,”bebernya.

Berbeda dengan Freeport, Tim Kementerian (TK) ESDM menghitung harga 10,64% saham sebesar US$ 630 juta dollar AS atau sekitar Rp. 8,19 triliun. Asumsinya, TK ESDM memasukan perhitungan asset dan cadangan hingga 2021. Berdasarkan perhitungan itu, harga 100% saham Freeport diperkirakan sekitar US$ 5,90 miliar atau Rp. 79,65 triliun. Dengan menggunakan perhitungan tersebut, harga 41,36% saham diperkirakan sebesar US$ 2,44 miliar atau Rp. 32,94 triliun.

Masih kata Fahmy, di tengah perbedaan dalam penetapan harga saham, Menteri ESDM, Ignasius Jonan menghitung harga saham dengan pengunaan dasar yang berbeda. Dalam penetapan harga saham, Jonan tidak memasukan variabel asset dan cadangan. Jonan menetapkan fair market price yang didasarkan pada nilai kapitalisasi pasar saham Freeport McMoran (FCX) di bursa New York, dan kontribusi keuntungan Freeport Indonesia terhadap induk perusahaan. Jonan memperkirakan  nilai kapitalisasi pasar FCX senilai US$ 20,74 miliar pada saat penutupan perdagangan pada  Senen, 9 Oktober 2017. Sedangkan, kontribusi keuntungan Freeport Indonesia dalam 5 hingga 10 tahun terakhir diperkirakan rata-rata sebesar 40%.

“Dengan perhitungan tersebut, Jonan memperkirakan nilai 100 persen saham Freeport Indonesia sebesar US$ 8,01 atau sekitar Rp 108 triliun. Untuk mendapatkan 41,36% saham, Jonan memeperkirakan harganya sebesar US$ 3,31  miliar atau setara Rp. 44,67  triliun,” jelasnya.

Fahmy juga mengatakan kalau dibandingkan besaran harga saham ditetapkan oleh Freeport dan TK ESDM, ada selisih harga 41,36% saham sekitar 4,80 dollar AS atau setara 26,80 triliun. Namun, jika dibandingkan penetapan harga saham oleh Freeport dan Jonan, masih ada selisih, tetapi selisihanya relatif kecil, sekitar US$ 2,70 miliar dollar AS atau  Rp. 15,07 triliun.

Untuk mencapai hasil perundingan yang win-win solution, hasil perhitungan Jonan dalam penetapan harga saham dapat ditawarkan kepada Freeport sebagai salah satu opsi jalan tengah. “Kalau ternyata Freeport masih juga menolak opsi perhitungan Jonan, pemerintah sebaiknya memutuskan untuk memilih opsi mengambil alih Freeport pada 2021, pada saat kontrak karya berakhir,”pungkas Pengamat Ekonomi Energi ini yang pernah menjadi Tim transisi Migas Jokowo JK. |ATA/EWINDO

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here