Kuda Hitam di Jawa Timur?

0

OLEH Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Saifullah Yusuf dan Khofifah Indra Parawansa adalah rival politik sejak sepuluh tahun belakangan. Orang bilang: “musuh bebuyutan”. Dua kali pilgub, Khofifah keok oleh pasangan Karwo-Ipul. Khofifah penasaran, sebab kekalahannya dianggap tidak wajar. Intervensi kekuasaan saat itu dituduh ikut aktif berperan menjegal Khofifah, karena dianggap sebagai lawan paling tangguh.

Khofifah reborn sekarang. Saat ini, kekuasaan berpihak kepadanya. Istana berada di belakang Khofifah dengan kelengkapan partai, dan tentu saja amunisi. Saatnya Khofifah menunjukkan kekuatan dan jati diri.

Kedua kader dan tokoh NU ini terlalu kuat untuk mendapatkan lawan tanding. Khofifah telah dua kali jadi menteri dan empat periode menjadi ketua Muslimat NU. Empat periode? Publik bertanya-tanya: dimana kader yang lain?

Popularitas Khofifah tak diragukan, 98,90%. Hampir mentok. Sementara Gus Ipul, panggilan akrab Saifullah Yusuf ini punya popularitas yang berimbang: 98,10%. Gus Ipul darah biru dan dua kali jadi wakil gubernur Jatim.

Elektabilitas Gus Ipul 36,3%. Sementara Khofifah 32,4%. Hanya beda empat angka. Dari angka elekatabilitas ini menunjukkan keduanya sama-sama kuat dan bersaing ketat.

Jika angka elektabilitas keduanya dijumlahkan, maka menjadi 68,7%. Masih tersisa 31,3% yang belum menentukan pilihan. Kalau angka ini diambil oleh pasangan calon ketiga, maka diprediksi akan kalah. Benarkah?

Faktor inilah yang membuat koalisi oposisi; Gerindra, PKS dan PAN galau dan kehilangan fokus. Jika bergabung dengan salah satunya, sama-sama tidak menguntungkan. Mau dukung Khofifah, ada Jokowi di belakangnya. Mau dukung Gus Ipul, ada PDIP yang menjadi partai pionir penguasa.

Dalam politik, rasio sosial yang berlaku dari pada rasio matematis. Rasio sosial itu fleksibel, mudah bergerak dan berubah. Angka elektabilitas tidak baku, termasuk yang diperoleh Khofifah dan Gus Ipul saat ini. Bisa naik, bisa turun. Seperti iman manusia, fluktuatif. Bergantung situasi internal dan eksternalnya.

Masyarakat pemilih punya hati yang tidak stagnan, alias labil. Hampir pasti, pemilih “die hard” atau “cinta mati” tidak setinggi angka elektabilitas. Dalam politik ada “floating mass”. Artinya, elektabilitas kedua bacagub Jatim ini sangat memungkinkan untuk “downgrade” bergantung kepada; pertama, kemampuan dan model branding kedua kandidat calon tersebut. Kedua, tokoh baru yang akan menjadi “sparing partner” mereka.

Melihat angka popularitas kedua bacagub Jatim yang hampir mentok setelah melakukan branding, maka kemungkinan turunnya angka elektabilitas keduanya lebih terbuka dari pada naiknya.

Disinilah koalisi Gerindra, PKS dan PAN punya celah untuk mengajukan bakal calon ketiga. Bacagub yang diajukan koalisi oposisi ini harus sexy. Mesti figur kuat dan berasal dari kalangan Nahdliyin.

Ada tiga nama potensial yang bisa dipertimbangkan oleh koalisi oposisi ini, yaitu Mahfudz MD, Yenny Wahid dan Risma.

Di luar tiga tokoh itu muncul nama Suyoto, kader PAN yang masih menjabat sebagai bupati Bojonegoro. Wacanarnya akan disandingkan dengan Moreno Soeprapto, seorang pembalap asal Jawa Timur. Kedua nama ini diprediksi sulit menjadi lawan tanding dua kader terbaik NU di Jatim tersebut. Jatim adalah basis dan tempat lahirnya NU, ormas terbesar di Indonesia ini. Sementara back ground Kang Yoto, panggilan akrab Suyoto ini, adalah Muhammadiyah.

Sebelumnya ada nama La Nyalla Matalitti. Mantan ketua PSSI ini sempat disebut-sebut. Tapi tak lama kemudian namanya hilang dari peredaran, meski kabarnya sudah dapat garansi dukungan dari Amin Rais.

Yang bisa melawan darah biru di kandang NU adalah pertama, sesama darah biru. Kedua, tokoh kuat dari kalangan Nahdliyin. Ketiga, tokoh yang mendapat dukungan kuat dari kaum Nahdliyin. Yang memenuhi kriteria itu adalah Mahfudz MD, Yenny Wahid dan Risma. Mereka adalah lawan tanding yang sepadan.

Mahfudz kabarnya telah menolak tawaran dari tiga partai, tanpa menyebut partai apa saja. Jauh lebih elegan memang, jika Mahfudz tidak maju di kontestasi politik Jatim. Mahfudz adalah tokoh kelas nasional, sudah saatnya fokus pada politik dan kerja nasional. Lebih cocok jadi calon presiden atau wakil presiden dari pada harus melawan adik dan kadernya sendiri di Jatim.

Selain Mahfudz, ada Yenny Wahid. Putri sulung Gus Dur ini trah darah biru bagi kalangan Nahdliyin. Dia aktifis yang selama ini berseberangan dengan PKB-nya Muhaimin. Soal popularitas bisa diadu dengan Gus Ipul dan Khofifah. Jika Yenny bersedia dilamar partai oposisi untuk berlaga di Pilgub Jatim, maka ini akan menjadi moment terbaik bagi Yenny untuk turun lagi ke dunia politik yang sempat lama ditinggalkan setelah PKB diambil alih Muhaimin. Yenny bisa memulai kembali kiprahnya sebagai politisi. Partai opisisi bisa menjadi kendaraan pragmatis Yenny untuk reborn.

Kehadiran Yenny bisa menjadi kantong bagi 31,3% suara yang belum menentukan pilihan. Diantara mereka adalah kelompok ABJ atau Asal Bukan Jokowi dan kelompok Asal Bukan PDIP. Suara kelompok ini tidak tertampung di dua bakal kandidat yaitu Khofifah dan Gus Ipul. Yenny juga bisa mengambil suara komunitas Gusdurian yang semula telah memilih kedua bacagub tersebut.

Selain Yenny Wahid, di Jatim, ada tokoh wanita yang sangat cemerlang. Seorang srikandi yang kiprahnya di politik tak lagi diragukan, yaitu Risma. Dua periode Risma menjabat sebagai walikota Surabaya. Prestasinya cemerlang dan sukses menjadi magnet perhatian. Tidak saja arek-arek Suroboyo yang mengaguminya, tapi rakyat Indonesia simpati padanya.

Survey telah menempatkan Risma di urutan ke-3 dengan elektabilitas 19,9%. Padahal tidak ada tanda-tanda Risma mau mencalonkan diri. Ini angka yang telah melewati batas “psikologi kesukaan” masyarakat Jatim. Apalagi kalau Risma membuat pernyataan “mau maju”, maka akan sangat potensial suaranya naik dengan cepat. Suara Risma bisa meroket jika bersedia maju di pilgub Jawa Timur.

Kehadiran salah satu dari dua Srikandi Jawa Timur; yang satu putri berdarah biru dan satunya lagi politisi berprestasi, akan membuat pilgub di Jawa Timur makin seru. Ke”seru”annya bisa mengalahkan dinamika pilgub di Jabar. Bagi media, ini sexy banget.

Kehadiran srikandi-srikandi ini bisa menjadi “kuda hitam” diantara dua bacagub Jatim. Dipastikan akan terjadi perubahan konstalasi politik di pilgub Jawa bagian timur. Peta bergeser, kompetisi akan semakin panas.

Apakah laga ini akan terjadi? Bergantung kemauan dan kemampuan pimpinan dan tokoh-tokoh dari partai oposisi meyakinkan kedua srikandi tersebut.

Jakarta, 2/1/2018

BAGIKAN
Berita sebelumyaJurus Mabuk Ala Istana
Berita berikutnyaPOLITIK ITU WANGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here