Ada Apa Dengan Infrastruktur Kita?

0

Oleh Hanibal Wijayanto

Kemarin kami mengundang dua komandan tim Basarnas yang menangani penyelamatan korban runtuhnya tembok sisi luar underpass jalan perimeter Selatan Bandara Soekarno Hatta. Dalam perbincangan mereka terungkap betapa mereka kesulitan mengangkat blok beton sepanjang 25 meter dan setebal 60 cm itu untuk menyelamatkan Almarhum Dita dan Muthmainah, sehingga memerlukan waktu yang cukup panjang.

Mereka juga mengungkapkan betapa blok beton sepanjang itu tidak dilengkapi lubang drainase dan tidak memiliki fondasi yang terpancang dalam-dalam di bawah permukaan tanah.

Karena itu mereka sempat panik ketika melihat tembok di sebelahnya mulai retak sementara banyak warga yang menonton proses evakuasi di atas dinding beton itu. Mereka khwatir jika tempok beton itu pun akan roboh.

Kemarin kami sedianya juga akan mengundang seorang pakar manajeman konstruksi, Guru Besar Universitas Pelita Harapan, Prof Dr Manlian Simanjuntak. Sayang karena jauhnya jarak sehingga kami tidak jadi mewawancarai beliau secara live saat breaking news kemarin.

Namun kemarin Prof Manlian sempat mengirim analisis singkatnya kepada saya. Analisisnya sangat menarik dan patut mendapat perhatian semua pihak. Apalagi analisis sang profesor tampak sejalan dengan temuan langsung di lapangan oleh kawan-kawan dari Basarnas, maupun laporan kajian Kementerian PU tentang beberapa kegagalan pemasangan gelagar dan girder jalan tol yang sempat saya baca tiga minggu lalu.

Karena itu, saya ingin membagi analisisnya kepada teman-teman semua:

===

INTEGRASIKAN SELURUH INDUSTRI KONSTRUKSI INDONESIA!!SEKARANG JUGA….!!

Kejadian kegagalan konstruksi akhir-akhir ini seharusnya jelas membuka lebar-lebar “mata hati” kita. Apa “improvementnya”??…Ini mungkin saja kelalaian kita semua.

1) Jelas seluruh tahap proses Penyelenggaraan Konstruksi mulai dari awal proyek, desain, pembangunan sampai dengan operasional hampir gagal semuanya.

2) Jakarta dan beberapa wilayah lain serentak mengalami kegagalan konstruksi secara dinamis. Hal ini jelas, usaha jasa konstruksi lintas bidang, lintas Pemda, lintas Kementerian, ini level NASIONAL,

3) Kelalaian juga menyertai para pihak yang terlibat, yang bukan saja memiliki kompetensi, tetapi juga disebabkan kelelahan & kejenuhan (fatic).

4) Hal teknis yang menyangkut dinamika desain & beban sistem struktur juga harus dicatat!! Cek benar rancangan sistem konstruksi di awal perencanaan sampai saat ini. Apakah beban konstruksi saat ini masih laik? Atau sudah overload?

5) Perlunya kehadiran Pemerintah Pusat secara khusus Pemda yang semakin cair untuk bersinergi mencegah kejadian kegagalan ini. RISIKO bukan BENCANA. Harusnya kan bisa DICEGAH!!

6) Ayo segera kita petakan semua aset konstruksi di DAERAH dan NASIONAL,

7) Perkuat dan OPTIMALKAN Peran Lintas Kementerian dan Bidang guna antisipasi risiko… PENGENDALIAN KESELAMATAN KONSTRUKSI sebagai bagian KEANDALAN KONSTRUKSI harus kita kerjakan sekarang juga…

(Prof. Dr. Manlian Ronald A. Simanjuntak, ST, MT, D.Min –Guru Besar Manajemen Konstruksi UPH —

===

Semoga semua fakta dan peringatan Sang Profesor bisa menjadi cambuk bagi pemerintah dan kita semua untuk memperbaiki semua masalah ini. |RED

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here