Siapa Bermain Morowali?

0
Belasan TKA asal Tiongkok diamankan petugas Imigrasi dari kawasan tambang PT Bintang Sindai Mineral Geologi (BCMG), di perbukitan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Selasa (11/1). (JawaPos.com)

SALAH SATU PEMILIK SAHAM PT. BINTANG DELAPAN MINERAL – MOROWALI ADALAH SINTONG PANJAITAN,PENSIUNAN JENDRAL YANG SUKA MEMFITNAH PRABOWO SUBIANTO

ADA JENDRAL SINTONG PANJAITAN DI MOROWALI

@BPS

Ribut…,heboh..,ramai,…. berita tentang banjirnya Tenaga Kerja Asing dari China, tambah heboh ketika Mr. President mengeluarkan Perpres No 20 tahun 2018 yang intinya mempersingkat birokrasi pengurusan ijin tenaga kerja Asing dengan alasan demi Investasi Asing. Bapak yang satu ini memang sangat haus investasi Asing, semua mau dipermudah, ribuan regulasi yang melindungi kepentingan lokal di minta di hapus, sekali lagi demi investasi asing. Alasannya apa? klise saja, demi menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan negara, alasan yang sama ketika VOC dahulu masuk ke Nusantara. Lalu bagaimana dengan ancaman kedaulatan Mr. Presiden? apakah sudah diperhitungkan? Giliran Mr. Luhut yang jawab, “semua sudah diperhitungkan, saya ex tentara, jangan ragukan nasionalisme saya”…kurang lebih begitulah….namun apakah benar tidak ada ancaman kedaulatan atas semakin mudahnya investasi asing dan ijin tenaga kerja asing? Apakah memang sudah benar-benar dikalkulasikan secara matang oleh Mr. President dan Mr. Luhut? Atau ada alasan lain yang melatarbelakangi sehingga kalian akhirnya semberono? Ayo kita kupas sedikit tentang Morowali.

Belakangan ini kita diramaikan oleh berita-berita tentang Morowali – Sulawesi tengah, tentang ketidak adilan atas pekerja pribumi disana, tentang penguasaan lahan yang tidak adil, pencemaran lingkungan, gangguan sosial masyarakat pribumi, juga tentang ribuan pekerja China yang masuk mengisi lowongan pekerjaan di Proyek Nickel di Morowali, dari tenaga ahli, sopir, hingga tukang pikul. Buktinya Ombudsman mengeluarkan laporan bahwa ada 200 Sopir angkutan merupakan TKA China. Rakyat sedih, marah dan khawatir, mengapa negara Republik Indonesia jadi seperti ini? Kemana para pensiunan Jendral yang saat ini berkuasa mendampingi Mr. President? Apakah mereka tidak khawatir terhadap dampak pertahanan, keamanan dan dampak sosial yang akan terjadi? Apa sebenarnya penyebab sang Jendral yang sedang berkuasa itu diam saja atas banjirnya TKA di Morowali?

Karena penasaran saya tanya ke teman saya yang namanya minta dirahasiakan, bro….ada proyek apa saja di Morowali? Teman saya menjelaskan secara garis besar. Ternyata disana ada proyek pembangunan Komplek Industrial Smelter dan pernah diresmikan oleh Mr. President  pada tanggal 29 Mei 2015 milik PT. Sulawesi Mining Investment. SMI adalah perusahaan patungan antara Bintang Delapan Group dengan investor asal China yaitu Tsingshan, anak usaha Dingxin Group. Perincian sahamnya adalah Bintang Delapan memiliki 45%, dan 55% dikuasai Dingxin Group. Saya tertarik dengan nama PT. Bintang Delapan Mineral, siapakah pemiliknya? Sebab ada desas-desus bahwa PT. Bintang Delapan Mineral pemiliknya adalah delapan orang jendral. Saya pun penasaran, saya tanyakan lagi kepada teman saya, “Bro…siapa pemilik saham PT. Bintang Delapan Mineral”, dan Teman saya menjawab, namun yang ia sebutkan hanya dua orang jendral saja, enam orang jendral masih dirahasiakan oleh teman saya. Jendral yang pertama yaitu Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan mantan Pangdam IX/Udayana sekaligus mantan Penasihat militer Presiden BJ. Habibie , kedua Mayjen TNI (Purn) Hendardji Soepandji mantan Aspam Kasad.

Selama ini kita mendengar cerita tentang Sintong Panjaitan yang paling getol bercerita negatif terkait personal Juniornya Letjend TNI (Purn.) Prabowo Subianto. Sintong pernah di copot dari jabatannya karena peristiwa insiden pembantaian Santa Cruz Dilli pada tanggal 11 November 1991 dan terakhir beliau posisinya sebagai penasehat militer Presiden BJ Habibie. Dalam bukunya “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando” ia memberikan kesaksian negatif terkait personal Prabowo, seolah-olah Sintong seorang yang paling idealis sementara Prabowo orang yang sangat pragmatis.

Namun jika kita menilai seorang Sintong yang saat ini memiliki saham di proyek nickel Marowali, dimana proyek tersebut salah satu penyumbang banjirnya tenaga kerja china di Indonesia, pada akhirnya rakyat bisa menilai, siapa yang idealis dan siapa yang pragmatis? Apakah wajar seorang mantan Jendral yang katanya seorang patriot  setia kepada NKRI justru bekerjasama dengan perusahaan China dan memasukan banyak tenaga kerja China di Marowali sehingga menghilangkan hak-hak pribumi disana? Patut di pertanyakan kesetiaan sang Jendral atas Bangsa Indonesia dan NKRI.

Rakyat tentu tidak keberatan jika seorang purnawirawan berbisnis, namun rakyat pasti marah jika ternyata dibelakang hiruk-pikuk derasnya investasi China dan TKA China justru ada keterlibatan sang Jendral. Sewajarnya mereka berada di garda terdepan untuk menjaga kedaulatan NKRI, bukan justru sebaliknya bekerjasama dengan Negara China secara sembrono, mempermudah mereka masuk,  hanya karena nafsu untuk mengejar keuntungan pribadi dan pada akhirnya mengorbankan kepentingan rakyat dan mempertaruhkan kedulatan Negara.  Sungguh sangat menyedihkan,….

Ayo tobat donk pak Jendral harta tidak dibawa mati……….

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here