PAHLAWAN KESESATAN

M Rizal Fadillah

by M Rizal Fadillah

10 November Bung Tomo menggelorakan semangat perlawanan pada penjajah. Para pejuang yang gugur memperjuangkan kemerdekaan Indonesia adalah pahlawan. Mereka yang berjuang hidup pun kelak dinobatkan sebagai “Pahlawan Nasional” karena membaktikan diri untuk kepentingan bangsa dan negara. Atas dasar keyakinan agama tentunya.

Kini banyak pejabat atau aktivis yang berteriak “NKRI harga mati” sebagai slogan kepahlawanan yang terpuji. Tetapi perilaku dan gaya hidupnya ternyata jauh dari “harga mati”. Yang jelas baginya NKRI adalah harga hidup. Mencari dan mencuri hidup atas nama NKRI.

Menurut agama, pahlawan adalah mereka yang langkahnya mencari balasan semata dari Allah SWT. Berkorban untuk tanah air dengan mengharap pahala. Berjuang dalam rangka kemuliaan diri di hadapan Ilahi. Kehadiran di bumi untuk memberi manfaat bukan menjadi penyakit atau parasit yang dibenci dan dijauhi.

Pahlawan kesiangan atau kesesatan adalah mereka yang sepertinya berbuat demi bangsa dan negara tetapi hakekatnya sedang berjuang untuk diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Dengan mengatasnamakan Negara dan Bangsa.

Karakter yang menandainya antara lain :

Pertama, mengklaim berjuang untuk dan demi NKRI tanpa landasan Agama. Lupa bahwa kepahlawanan dahulu itu didasarkan pada kalimah takbir “Allah Akbar”. Berani mati dengan kesadaran setelah mati mau kemana dan bagaimana. Teriak NKRI harga mati tetapi tak bisa meyakini kehidupan pasca kematian adalah pahlawan sia sia. Dikubur untuk disiksa. Pahlawan yang hanya berputar dalam urusan dunia.

Kedua, berjuang untuk bangsa dan negara dengan kerjasama “menggadaikan aset” pada negara dan bangsa lain, termasuk Cina.
Walaupun berbusa busa berbicara demi kemajuan dan kesejahteraan rakyat, akan tetapi jika ia sengaja berkolaborasi dengan kekuatan “asing” maka ia adalah pahlawan kesengsaraan. Berkarakter pedagang dan penghianat bangsa.

Ketiga, berkorban demi tanah air, akan tetapi tanah dan air dieksploitasi seenaknya demi keuntungan materi, maka mereka pada hakekatnya sedang membohongi diri sendiri. Tanah itu akan mengubur ambisi dan air akan menenggelamkan kerakusan hewani para pendusta negeri.

Keempat, pahlawan adalah pemberani, bukan pengecut yang bersembunyi di pantat penguasa. Penjilat kebijakan raja dan para punggawa. Takut meluruskan yang bengkok. Apa titah paduka jadi hukum yang ia rela menghamba. Sampai mati.

Nah pada situasi yang serba pragmatis, mementingkan diri, koalisi atau negosiasi untuk berebut kursi dengan segala cara baik curang, menipu, atau membeli, serta iklim usaha yang butuh relasi, kolusi, serta berbau korupsi, maka nilai nilai kepahlawanan merupakan sesuatu yang langka dan hanya menjadi bahan canda dan tawa ria.

Indonesia sangat kaya dengan pahlawan kesiangan dan kesesatan. Memang ironi Negara Pancasila ini karena realitasnya diisi oleh para pemburu rente yang tak manusiawi, persatuan mafia, rakyat yang dipimpin oleh pengadu domba dan permusuhan, kezaliman sosial, serta para pelecehTuhan.
Penyembah berhala jabatan dan kapital.

Kepahlawanan butuh pengorbanan hakiki demi masyarakat, bangsa, dan agama. Teriak NKRI harga mati tidak ada arti tanpa nyali dan bukti. Hanya basa basi. Bagaikan suara radio rusak yang berisik dan abai akan harmoni.

Pahlawan yang sok kuasa duduk di kursi tua yang tak berkaki.

*) Pemerhati Politik

Bandung, 10 November 2019