BEREBUT PROYEK CORONA ?

by M Rizal Fadillah

BIN perkirakan wabah corona sampai bulan Ramadhan. Deputi V BIN bidang Intelijen Teknologi Mayjen TNI Afni Boer menegaskan puncak penyebaran pada bulan Mei. Menarik justru yang memperkirakan hal ini adalah Badan Intelijen Negara. Di sebuah media cetak nasional headline tergambarkan penumpang yang baru turun pesawat dengan membawa barang di atas troli disemprot cairan desinfektan oleh petugas dari BIN.

Sampai saat ini tidak ada bukti bahwa tersebarnya virus corona ke Indonesia adalah sabotase atau pekerjaan dari intelijen asing untuk meruntuhkan negara. Karenanya bukan kompetensi BIN untuk melakukan tugas utama penanggulangan termasuk menyemprot cairan desinfektan di bandara.

Persoalan utama pandemi covid 19 adalah masalah kesehatan. Oleh karenanya sektor terdepan yang menangani persoalan ini adalah Kementrian Kesehatan. Tetapi muncul juga instansi yang “menyalip” dan mengumumkan bahwa wabah virus corona merupakan bencana nasional, karenanya lembaga yang pas menangani ini adalah Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB).

Dengan demikian terasa sebenarnya terjadi perebutan “lahan” antara Kemenkes, BIN, dan BNPB. Sementara pemenangnya adalah BNPB. Doni Monardo diangkat sebagai Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19. Anggaran Menkeu untuk Kemenkes sudah disiapkan sebesar 1 Trilyun. Entah dengan “pengambilalihan” oleh BNPB apakah alokasi ini tetap atau turut dialihkan pula.

Menseskab Pramono Anung memastikan bahwa dana atau anggaran untuk penanggulangan covid 19 telah cukup tersedia. Menkeu telah menyediakan anggaran tersebut. Sementara Bank Dunia telah menyiapkan 170 trilyun khusus untuk penanggulangan. Angka yang dinilai cukup menggiurkan.

Janganlah keterkejutan kita soal pesatnya serangan virus corona saat ini bergeser karena persoalan dana. Awal kita tenang dan terkesan meremehkan. Kini sibuk luar biasa. Soal virus corona adalah problema kemanusiaan bukan soal investasi. Karenanya tempatkan secara proporsional dalam konteks penanggulangan. Tetap harus komprehensif baik aspek kesehatan, keamanan, ketertiban, ekonomi, maupun keagamaan.

BIN melalui fungsi intelijennya mengendus dan mendistribusikan informasi kepada instansi yang memerlukan. Bukan berada di front depan perjuangan. Bahwa “musuh” itu adalah virus yang tak terlihat bukan alasan untuk melakukan perlawanan oleh lembaga yang operasinya juga semestinya “tak terlihat”.

Kepala BIN Budi Gunawan baiknya agak tenang mengambil langkah. Corona baru menyasar pada pak Budi Karya.
Kita do’akan semoga sembuh kembali.

*) Pemerhati Politik

Bandung, 15 Maret 2020