BALAIKOTA BUKAN ‘TONG SAMPAH’

Anies Baswedan yang bertanggung jawab untuk Kotanya dimana dia adalah Gubernur Jakarta/ist

Apresiasi dari berbagai pihak termasuk kelompok-kelompok komunitas warga dan tokoh-tokoh pemerhati sosial dan hukum terhadap Gubernur Anies terus mengalir tak hentinya.

Sebut saja Amir Hamzah, seorang pengamat publik yang merasa salut atas kebijakan Anies yang cepat dalam menangani wabah Covid-19, baik ketika menerapkan Tanggap Darurat Bencana lantas memindahkan lokasi kerja PNS dan belajar siswa ke rumah, membuat website informasi, juga mengajak warga melakukan social distancing.

Terakhir Anies menerapkan pemakaian Masker saat keluar rumah terutama saat memakai moda transportasi umum, serta penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) segera setelah persetujuan Menkes dikeluarkan.

Sementara dalam tele conference antar pemimpin kota-kota besar dunia, banyak pandangan Anies yang dipakai sebagai referensi penanganan wabah ini.

Kematangan kepemimpinan semacam itulah yang sangat dirindukan oleh masyarakat luas. Tidak ada yang terlewatkan detail-detail kebijakan yang diperlukan menghadapi situasi sosial kemasyarakatan akibat epidemi Covid19 ini.

Kalaupun ada inplementasi dilapangan yang tidak tersinkronkan seperti arus penumpang yang masih banyak berbanding moda transportasi yang dikurangi, maka itu justru menjadi cara lain bagi warga untuk bisa sedapat mungkin bekerja dari rumah dahulu.

Kebiasaan yang berubah mendadak tentu menjadi efek yang mengejutkan. Untuk itulah kesadaran warga akhirnya dapat terpicu. Ini wajar dan alami saja.

Pembagian bantuan sosial kebutuhan konsumsi warga yang langsung diantar ke rumah warga adalah sisi lain yang mendapat pujian banyak pihak.

Tokoh aktifis sosial dan lingkungan kawasan Muara Karang Pluit, Tjhi Fat Kiong juga aktif bersama warga turut menerapkan PSBB sesuai amanat Gubernur. Disamping melakukan koordinasi bantuan konsumsi atau sembako bagi warga kurang mampu.

Di Glodok, melalui Warung Makar aktifis Tionghoa Lieus Sungkharisma juga distribusi seratusan mie ayam pada pengemudi Ojol dengan tetap mengikuti ketentuan PSBB. Sudah sepuluh harian berbagi.

Kemarin bahkan Gubernur menyempatkan diri untuk meninjau Kebun Binatang Ragunan. Perhatian ini penting mengingat wabah bisa datang dari lingkungan mana saja, meskipun hewan-hewan disana sehat dan sejauh ini memang tidak ditemukan Virus Covid pada hewan. Namun terbetik kabar bila ada macan di kebon binatang New York terpapar virus Covid19 dari petugas perawatnya.

Kunjungan tersebut juga memberi arti penting bagi warga setempat untuk senantiasa mengikuti ketentuan aturan PSBB. Suatu cara sosialisasi yang sejuk. Kita salut untuk cara sering dipakai Anies ini.

Semua daya upaya yang telah dilakukan Gubernur Anies dimata warga, publik pemerhati dan tokoh-tokoh dengan kearifan lokal serta pejabat-pejabat dalam dan luar negeri.

Kesimpulannya Anies telah membuat Balaikota menjadi ruang kerja dan harapan banyak pihak. Semacam ‘The golden space’.

Para pihak yang senantiasa nyinyir, sebar hoax, bernarasi sinisme mengubah langkah baik sebagai nista dan perendahan model isi tong sampah lainnya, sebaiknya berhenti saja pelihara moralitas semacam itu.

Boleh saja mencoba buang sampah narasi ke Balaikota, tetapi sayang disana tidak ada tong sampahnya untuk urusan caci maki umpatan buzzer agen destruktif titipan kaum barisan sakit hati dan politikus gagal untuk menista Gubernur Anies bahkan pribadinya…

Valdemar Santana