Resolusi Jihad Dari Para Ulama

Status ini muncul akibat ada segelintir orang yang (diam-diam tapi aktif) membagikan selebaran-selebaran (setelah sholat jumat) yg isinya menggiring opini masyarakat untuk menyetujui Negara Islam. demikian artikel ini kami lnasir dari laman FB Ki Narto

Resolusi Jihad Dari Para Ulama

Kemerdekaan Indonesia tidaklah gratis.
Bersamanya tertumpah darah dari para pahlawan. Darah dari para pejuang. Darah dari leluhur2 kita orang Hindu, Buddha, Kristen, dan tentu saja, darah orang Islam yang dipelopori oleh para Ulama’/Kyai.

Thomas Stamfford Raffles dalam ‘History of Java’ telah mengingatkan bila Ulama sudah Bekerjasama dengan Penguasa Pribumi, jangan harap kaki penjajah akan dapat tegak dengan aman di Nusantara Indonesia.
Dr. Douwwes Dekker (Setyabudi Danudirdja) menyatakan bahwa :
“Apabila Tidak ada semangat Islam di Indonesia, sudah lama kebangsaan yang sebenarnya lenyap dari Indonesia” (dalam Aboebakar Atjeh, Riwayat Hidup A. Wahid Hasjim. Djakarta, 1957. Hal 729).
Jadi jangan heran mengapa Perjuangan kemerdekaan saat itu sangat kental dengan Spirit Jihad Fii Sabilillah, karena memang para Ulama dan santrilah yang terdepan menggemakan Prinsip ‘Hidup Mulia atau Mati Syahid’.
Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama 22 Oktober 1945 berkembang menjadi Resolusi jihad Partai Politik Islam Masyumi 7 November 1945 pengaruhnya membangkitkan semangat “60 Miljoen Kaoem Moeslimin Indonesia Siap Berdjihad Fi Sabilillah.
(Perang di djalan ALLAH oentoek menentang tiap tiap Pendjadjahan). ”
(HeadLine Harian “KEDAULATAN RAKJAT”, 08 November 1945).

Kehadiran Kyai-kyai sepuh semisal Chadroetoes Sjeich KH. Hasyim Asy’ari dari pesantren Tebu Ireng Jombang, KH. Asjhari dan Kyai Toenggoel Woeloeng dari Jogjakarta, KH. Abbas dari pesantren Buntet Cirebon, dan Kyai Moestofa Kamil dari Partai Syarikat Islam Garut mampu membangkitkan perlawanan santri untuk maju terus pantang mundur, juga kisah legendaris ‘Bambu Runcing’ Kyai Soebhi Parakan-Magelang. Mati di medan perang melawan penjajah Barat adalah mati yang indah, lebih baik gugur sebagai syuhada daripada hidup terjajah.

Tanggal 10 November 1945 Surabaya berubah menjadi lautan api dan darah. Dilanjutkan dgn Peristiwa pertempuran di Sasak Kapuk Bekasi dipimpin Kyai Haji Noer Ali dan Laskar Pencak Silat pimpinan Haji Ama Poeradiredja.
Tak ketinggalan, Kyai Cibaduyut memimpin penyerbuan yang tak terduga ke gudang senjata dan gudang seragam tentara sekutu di Bandung.
Begitu juga kerjasama para ulama dan santri serta Tentara Keamanan Rakyat-(TKR) dalam Perang Sabil di Sumatera, lewat kepahlawanan pemuda Aceh terhadap sekutu dipimpin Residen Teuku Nyak Arief dan Tengku Daud Beurueh.
Setelah merdeka, para Ulama juga ikut berperan aktif dalam membentuk dasar-dasar Negara Republik Indonesia. Ingat KH. Abdul Wachid Hasyim, HAMKA, dll.
Mereka tidak ngotot menjadikan negara ini sebagai negara Islam.
Kalian itu produk mana? Kalian tidak diterima di Indonesia sbb Indonesia itu Bhineka Tunggal Ika.
Byuhhhh…Datang-datang mau menjadikan NKRI sebagai negara Khilafah.
Kira-kira dimana peran kalian untuk Indonesia kok tiba2 ingin mendirikan khilafah?

Sumber: Koran 8 November 1945
“60 Mildjon Kaoem Moeslimin Siap Berdjihad Fi Sabilillah”

JASMERAH (JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH), kata Bung Karno.

Comments

comments