Pengamat: Karena Tidak Transparannya ISC Pertamina Hendaknya Dirut Pertamina Jangan Banyak Retorika

PRIBUMI – Pengamat Energi yang juga Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) mengatakan sebaiknya Dirut Pertamina jangan banyak beretorika saja dalam hal kecurigaan publik atas tidak transparannya Integrated Supply Chain -ISC- Pertamina dalam proses tender, karena faktanya memang demikian dan bahwa rekanan pemasok yang ikut tender saja tidak mengetahui siapa pememangnya dalam setiap tender juga berapa harga penawarannya perusahaaan pemenangnya. “Padahal informasi ini sangat penting bagi peserta tender yang kalah sebagai evaluasi diri agar dapat mengetahui dan memperbaiki kesalahan dalam menentukan harga pada tender yang dia kalah bersaing dan pengalaman kekalahan itu bisa menjadi pelajaran dalam menentukan strategi perusahaan tersebut untuk tender mendatang,” jelas Yusri kepada ENERGYWORLD, Rabu 1 Juni 2016.

Lebih tajam lagi kritikan Yusri ini mengibaratakan dengan contohnya kita waktu kuliah, bahwa kita tahu nilai ujian kita berapa nilai juara kelas, sehingga dasar motivasi kita untuk memperbaiki diri. Nah, seharusnya Dirut Pertamina lebih sensitif dan peka atas keluhan publik ini, karena disatu sisi secara struktur dalam organisasi Pertamina bahwa fungsi ISC itu langsung berada dibawah kendali Direktur Utama. “Dan image buruk yang terlanjur melekat dibenak pikiran publik selama ini sudah sangat trauma bahwa alasan pemindahan semuanya proses tender di ISC dan menutup aktifitas Petral Singapore untuk menekan mafia migas, sehingga Dirut dituntut konsekwen juga membuka pintu pihak BPK untuk melakukan audit forensik secara berkala terhadap seluruh person penting di ISC untuk menghindari terjangkitnya lagi praktek kongkalikong,”jelasnya.

Masih kata Yusri jangan sampai publik mengklaim kebijakan Dirut bak istilah “Keluar dari mulut harimau, malah masuk kemulut buaya,  karena harus dipahami juga bahwa angka impor minyak mentah dan produk BBM tahun 2015 mencapai 280 juta barel dengan nilai transaksi pembelian USD 27, 41 miliar atau setara Rp 356,3 triliun,”tegasnya.

Yusri menilai bahwa sehingga setiap ada indikasi penyimpangan USD 1 perbarel saja , maka bisa merugikan Pertamina senilai USD 280 juta, katanya.

“Publik sangat sensitif dengan issue dugaan penyimpangan di ISC, karena setiap ketidak efisienan dari hulu ke hilir akan berkontribusi ke harga BBM yang akan dibayai oleh rakyat apakah mahal atau murah,”ujarnya.

Yusri juga katakaan bahwa Dirut juga kan sudah berani melakukan audit fornsik terhadap Petral, maka konsekwensinya Dirut harus berani juga melakukan audit forensik ke Fungsi ISC. “Kalau ini benar berani dilakukan saya yakin 1000 % Pertamina akan menjadi perusahan besar dan sehat,”tutupnya.

(RDT/rb)