BIN Bukan Badan Infotenmen Negara Loh…

0
185

Dua hari sebelum pesawat Garuda DC 9 Woyla dibajak, 28 Maret 1981, seorang agen intelijen yang ditanam di kelompok Komando Jihad diperintahkan untuk kembali ke Jakarta. Agen pelapis yang bertugas memantau dan melindunginya telah melaporkan kepada komandannya di BAIS bahwa keberadaan atau indetitas si agen yang menyusup di Komando Jihad sudah diketahui oleh orang-orang di kelompok itu. Mempertahankan keberadaan si agen di sana, menurutnya akan sangat berbahaya dan mengancam keselamatan si agen. Dan benar, sehari menjelang Woyla dibajak, si agen kembali ke Jakarta.

Kepada komandannya, dia melaporkan akan ada operasi besar oleh Komando Jihad, tapi dia belum mendeteksi, apa, kapan dan di mana operasi itu akan dilakukan, karena keputusannya baru akan dilakukan pada hari itu, pada hari dia ditarik ke Jakarta. Dia karena itu meminta izin kepada komandannya agar diperbolehkan kembali menyusup ke kelompok Komando Jihad.

“Enggak usah. Kamu tak usah kembali. Keberadaan dan identitasmu sudah diketahui.”
“Maaf komandan, tidak bisa. Saya harus kembali. Ini risiko kita. Risiko dari sumpah kita sebagai tentara. Saya ingin tahu operasi mereka.”

Komandannya tak bisa mencegah. Dia merasa argumen si agen benar. Mereka telah bersumpah sebagai tentara dan bersumpah sebagai agen intelijen. Komandannya kemudian hanya mewanti-wanti agar si agen waspada, meskipun nasib berkata lain. Pukul 02.00 dinihari, 28 Maret 1981, si agen ditemukan tewas di Kuningan, Jawa Barat. Di tubuhnya membekas beberapa lubang peluru.

Sekitar tujuh jam setelah si agen tewas, dari udara, pilot Garuda DC 9 Woyla melaporkan melalui radionya: “… being hijacked…being hijacked…” Pesawat mereka jurusan Bandara Kemayoran Jakarta- Bandara Polonia Medan pagi itu setelah lepas landas dari Bandara Talang Betutu Palembang telah dibajak. Pembajaknya lima orang dan mereka mendaku dari kelompok Komando Jihad. Itulah tampaknya yang dimaksud sebagai operasi besar Komando Jihad yang dilaporkan oleh si agen yang tewas di Kuningan kepada komandannya di Jakarta sehari sebelumnya.

Mereka, para pembajak itu, meminta pesawat diterbangkan ke Teheran, Iran, bukan ke Kolombo, Srilanka seperti yang telanjur diberitakan oleh media, tapi DC 9 adalah pesawat berukuran kecil dengan bahan bakar terbatas. Pesawat itu tak bisa terbang jauh kecuali mengisi bahan bakar di beberapa bandara. Woyla kemudian diketahui mendarat di Bandara Penang, Malaysia, dan di sana, para pembajak seolah mendapat keleluasaan untuk mengisi bahan bakar pesawat. Pemerintah Malaysia bahkan memberi mereka makanan. Usaha Jakarta yang sebelumnya meminta Kuala Lumpur agar menahan Woyla selama mungkin dengan tidak memberikan bahan bakar, diabaikan begitu saja dengan sejumlah alasan.

Dari Penang, pesawat yang malang itu terbang ke Don Muang, Bangkok, Thailand. Di bandara itulah, dua hari kemudian, dua jam selepas tengah malam 30 Maret 1981, 35 prajurit Kopasandha merangsek ke dalam pesawat dan menghajar para pembajak. Woyla dibebaskan dan keberhasilan Kopasandha berikut operasi intelijen yang dilakukan sebelumnya menjadi isu dunia, menjadi kepala berita di banyak media internasional. Keberhasilan operasi itu kemudian disetarakan dengan Operasi Entebbe yang dilakukan oleh Sayeret Matikal [pasukan komando Israel] yang membebaskan para sandera di lapangan terbang Entebbe, Uganda, 4 Juli 1976.

Mungkin akan menarik, bila ada yang bertanya: Apakah pembajakan Woyla disebabkan oleh terlambatnya laporan intelijen. Tapi yang jauh lebih menarik dari semua itu adalah pekerjaan seorang intelijen seperti yang dilakukan oleh agen yang ditanam di kelompok Komando Jihad yang kemudian ditembak di Kuningan hanya beberapa jam sebelum Woyla dibajak, dan kerja-kerja intelijen dari agen-agen intelijen Indonesia yang mampu meyakinkan Bangkok agar menahan Woyla selama mungkin sehingga pesawat itu menginap di Don Muang selama dua hari dan akhirnya dibebaskan oleh Kopasandha dari pembajak; karena begitulah seharusnya agen-agen intelijen melakukan operasinya.

Mereka bekerja dalam senyap dan tak pernah mengumumkan keberhasilan dan kegagalannya. Orang-orang yang tidak dikenal dan tidak dikenalkan. Bila operasi mereka berhasil, mereka tidak akan dipuji, dan sebaliknya bila operasi mereka gagal, mereka justru dicaci maki. Hilang tidak dicari, mati tidak diakui.

“…An intelligence officer is a faceless hero. Please don’t forget this phrase…” Begitulah Benny Moerdani selalu berpesan kepada anak buahnya.

Benny adalah ex panglima ABRI dan menteri pertahanan dan keamanan. Sewaktu berpangkot mayor jenderal dan menjabat Kuasa Penuh RI untuk Korea Selatan, dia ditarik kembali ke Jakarta untuk menata intelijen negara ini menyusul huru-hara Malari 15 Januari 1974. Benny menerima penugasan itu dan dia melakukannya dengan sistematis. Hasilnya: Hampir semua lembaga intelijen di negara ini menjadi lembaga yang disegani di dalam dan luar negeri, meskipun untuk sampai pada tahap itu, Benny membutuhkan waktu 20 tahun.

Kini, sebagian dari penataan intelijen yang dilakukan oleh Benny masih digunakan tapi sebagian yang lain sudah mulai berantakan. Menjadi agen intelijen di zaman sekarang lalu tak ubahnya seperti menjadi agen asuransi. Hal ini bisa dilihat dari pengakuan Drajad Wibowo yang tanpa kikuk menyebut dirinya di depan publik sebagai ketua Dewan Informasi Strategis dan Kebijakan BIN.

Baru kali ini rasanya, seseorang yang bekerja di lembaga negara yang sangat rahasia dan dengan lingkup pekerjaan yang juga sangat rahasia, mengumumkan jabatan dan pengangkatannya sebagai agen intelijen secara terbuka. Kelakuannya hampir mirip dengan yang pernah dilakukan oleh Banyu Biru yang memamerkan surat pengangkatannya sebagai anggota BIN di media sosial di masa-masa awal Sutiyoso menjabat kepala BIN.

Sekitar sepekan sebelum Sutiyoso resmi dicopot sebagai kepala BIN, Drajad bahkan mengumumkan tentang “keberhasilan” BIN di bawah Sutiyoso. Dia antara lain menyebut, keberhasilan BIN membujuk bekas kombatan Gerakan Aceh Merdeka [GAM] Din Minimi dan beberapa kombatan Organisasi Papua Merdeka [OPM] untuk menyerah.Beberapa anggota kelompok teroris di Poso, Sulawesi Tengah kata Drajad juga menyerahkan diri berkat kerja BIN. Keberhasilan lain BIN yang disebut oleh Drajad adalah kepulangan buron koruptor BLBI, Samadikun Hartono dari Cina, dan Bupati Temanggung, Totok Ary Prabowo dari Kamboja. Di luar itu, BIN menurut Drajad juga telah membantu menarik pajak Rp 400 miliar hanya dalam waktu sekitar 30 menit dari wajib pajak yang kasusnya sudah final tapi tidak mau membayar. Dan jauh sebelumnya, beberapa kali, Drajad juga berbicara kepada wartawan tentang beberapa poin yang dilakukan oleh BIN.

Bagi Drajad dan juga Banyu Biru, “pengumuman” semacam itu mungkin penting dan membanggakan mereka, karena orang-orang diharapkan atau kemudian jadi tahu bahwa mereka bekerja di lembaga negara yang sangat rahasia dan karena itu harus berhati-hati dengan mereka. Mereka mungkin pula mengira, dunia intelijen adalah dunia hiburan dan BIN adalah badan infotenmen negara yang pekerjaannya butuh tepuk tangan publik, dan tentu saja kelakuan mereka memalukan. Tapi jelas mereka tak paham bahwa seorang agen intelijen, seperti kata Benny, adalah pahlawan tanpa pengakuan. Orang-orang yang bekerja tanpa pengakuan dan tanpa pengumuman ke publik.

Dulu di zaman Benny itu, tidak ada pejabat intelijen apalagi hanya seorang agen yang centang perenang tampil di depan publik kemudian memamerkan surat pengangkatan atau menjelaskan jabatannya, atau mempublikasikan foto-foto keberhasilan sebuah operasi. Intelijen adalah intelijen dan BIN adalah BIN. Ia adalah induk organisasi dari seluruh lembaga intelijen yang seluruh laporan operasinya seharusnya hanya disampaikan dan hanya digunakan oleh presiden. Bukan disampaikan dan dilaporkan kepada publik lewat wartawan atau media sosial, seperti yang dilakukan oleh Drajad Wibowo dan Banyu Biru. | KMD/DSA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.