Tantowi Yahya Duta Besar New Zealand, Ikrar Nusa Bhakti jadi Dubes Tunis

0
179

Tantowi Yahya dikabarkan menjadi Duta Besar Wellington New Zealand untuk Republik Indonesia. Namun, Tantowi belum berkomunikasi dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenai hal tersebut.

“Belum (komunikasi dengan Presiden), baru dengan Menlu (Menteri Luar Negeri) saja,” kata Tantowi dilaman INILAH Jumat (25/11/2016).

Anggota Komisi I DPR ini mengatakan belum ada persiapan apa-apa mengenai rekomendasi sebagai Dubes Wellington New Zealand, karena saat ini masih aktif sebagai anggota parlemen. “Ya biasa-biasa saja, sekarang kan masih jadi anggota Komisi I,” ujarnya.

Di samping itu, Tantowi mengatakan siap menjalankan tugas yang diberikannya sebagai Duta Besar Wellington dan meninggalkan jabatan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Sebab, ini panggilan dari negara.

“Ini penugasan dari negara, sebagai kader partai yang diberikan kepercayaan. Saya senantiasa siap, Insya Allah,” jelas dia.

Untuk diketahui, ada beberapa nama yang dikabarkan menjabat sebagai Duta Besar untuk Republik Indonesia. daftarnya sebagai berikut Ambassadors Post for 2016:
1. Tokyo – Arifin Tasrif
2. Athena – Ferry Adamhar
3. Bogota – Priyo Iswanto
4. Canberra – Kristiarto Legowo
5. Dili – Sahat Sitorus
6. Jenewa – Hasan Kleib
7. Kabul – Mayjen Dr. Ir. Arief Rachman (Unhan)
8. Kolombo – Ngurah Ardiyasa
9. Kiev -Prof Dr Yuddy Chrisnandi (mantan Menpan)
10. Manama – Nur Syahrir Rahardjo
11. Roma – Esti Andayani
12. Seoul – Umar Hadi
13. Wina – Darmansjah Djumala
14. New Delhi – Arto Suryo-di-puro
15. Dhaka – Rina Soemarno
16. Amman – Andy Rachmianto
17. Bratislava – Wieke Adiwoso
18. Dar Es Salam – Prof. Radar Pardede
19. Wellington – Tantowi Yahya (golkar)
20. Zagreb – Komjen (pol) Sjahroedin
21. Astana – Rachmat Pramono
22. Tunis – Ikrar Nusa Bhakti (peneliti)
23. Kuala Lumpur – Rusdi Kirana (wantimpres/pengusaha)

Peneliti LIPI Ikrar Nusa Bhakti yang dikenal sebagai tim Jokowi-JK  dalam Pilres 2014 akhirnya dapat kue empuk jadi Dubes Tunis.

Sebelumnya dia juga ramai dan terancam dilaporkan ke kepolisian. Karena pernyataannya meremehkan langkah Agus Harimurti Yudhoyono yang memilih mundur dari TNI demi pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta. Dalam wawancara yang disiarkan sejumlah media massa online kemarin, Ikrar menganggap putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu tidak berpengalaman baik di politik maupun kemiliteran. Agus berbeda jauh dengan para gubernur Jakarta di masa lalu yang biasanya dari kalangan militer berpangkat bintang. Sementara Agus mengundurkan diri dari TNI ketika masih berpangkat Mayor.  Perkataan Ikrar di atas itu menuai kecaman, terutama di bagian yang menyebut Agus sebagai “ingusan”.

“Perkataan Ikrar dengan mengatakan Agus tentara Ingusan telah menyakiti keluarga tentara Indonesia. Perkataan provokatif, tendesius dan tidak objektif,” ujar Koordinator Aliansi Rakyat Untuk SBY (ARUS), Akhmad Suhaimi, dalam keterangan persnya.

Akhmad tegaskan, tidak ada tentara Indonesia yang pantas disebut ingusan. Semua personel tentara Indonesia adalah hebat, handal, siap dipimpin dan siap memimpin siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

“Tentara Indoensia siap ditugaskan di medan perang atau di pemerintahan, semata-mata demi pengabdian pada nusa dan bangsa,” tegasnya.

Menurutnya, selain menyakiti keluarga besar tentara, perkataan Ikrar juga terindikasi mewakili kelompok atau calon gubernur tertentu

Dengan jubah akademisi, Ikrar menjelma menjadi tim sukses Calon Gubernur lain
“Kami akan melaporkan Ikrar ke Mabes Polri pada Senin mendatang (26/9) dengan pasal ITE,” waktu itu.

Kasu lainnya soal Ikran adalah sebagai peneliti dia sudah berpihak dimana saat itu ada sebuah  survei yang dilakukan terhadap 500 orang responden pada 23-24 September itu, elektabilitas pasangan Ahok-Djarot tetap tinggi yakni 71,6%. Sementara pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan Agus Harimurti-Sylviana Murni masing-masing mendapatkan 59,5% dan 53,3%.

“Terlepas tingkat pendidikannya, masyarakat DKI adalah orang yang rasional. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap Ahok-Djarot begitu tinggi, agak sulit (dikalahkan),” ujar pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ikrar Nusa Bhakti.

Menurut Ikrar, soal tingkat kepercayaan ini lah yang membuat pasangan Fauzi Bowo (Foke)-Nachrowi Ramli (Nara) dapat dikalahkan oleh pasangan Joko Widodo (yang kini telah jadi Presiden RI) dan Ahok pada Pilkada 2012 lalu.

“Dulu, Foke-Nara dapat dikalahkan karena tingkat kepercayaan publiknya sekitar 30 persen. Sementara Ahok-Djarot sampai 60 persen. Kalau tidak bisa beri nilai lebih dengan kebijakan yang lebih baik, kemudian wacananya bisa dipatahkan dengan realitas di lapangan atau sudah dilakukan pemerintahan sebelumnya, agak sulit dongkrak suara,” terangnya.

Meski demikian, kata Ikrar, bukan mustahil dua pasangan lainnya berusaha mengejar elektabilitas Ahok-Djarot. Namun, belum dapat dipastikan apakah yang terjadi seperti Pilkada DKI 2012 lalu dapat terulang di Pilkada 2017 mendatang.

Menurut Ikrar, lawan Ahok harus lah memiliki nilai lebih serta memberikan alternatif di luar kebijakan Ahok-Djarot.

“Asumsi saya tidak berubah, bahwa yang bisa mengalahkan petahana adalah orang-orang yang benar-benar petarung politik. Artinya, tidak mau kalah, usaha terus. Dia juga harus punya pengalaman politik, kalau bisa kombinasi di birokrasi pemerintahan dan daerah,” paparnya.

Terlebih, sambung Ikrar, ada kekecewaan dari pemilih Islam dengan munculnya pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang menjadi penantang Ahok-Djarot. Menurutnya, bisa saja pemilih Islam tersebut menjadi golput atau justru berbalik arah ikut mendukung pasangan gubernur dan wakil gubernur petahana.

“Pilkada masih lima bulan lagi, kalau kampanye dengan wacana politik yang sama mungkin orang berpikir ngapain masih berwacana. Lebih baik memilih yang sudah terbukti dan melanjutkan pembangunan Jakarta yang lebih baik. Perlu diketahui, saya ini bukan timses (tim sukses)-nya Ahok, tapi seorang peneliti yang murni berbicara atas dasar hasil kajian politik. Ini perlu saya sampaikan,” jelasnya di laman Media Indonesia di Jakarta, Minggu (25/9). Meski mengaku bukan endukung Ahok tapi peneliti ya kini sudah jadi Dubes dan peneliti dubes mungkin jarang juga dalam catatan. Selamat prof riset Anda memang layak jadi dubes sesuai kerja sukses Anda mengantar Jkw-JK 2014 lalu. |DBS/AMD 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.