Kenaifan dan Fantasi Politik, Tudingan Makar yang Sangat Absurd

0
148
Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute/ist

PRIBUMI – Kalau Mas Bintang, dari dulu siapapun penguasanya, pasti tema sentralnya ganti presidenya. Apa skema dan landasan ideologisnya, gak jelas. Pokoknya ganti presidennya, urusan lain ditangani belakangan.

Kalau saya sekarang jadi presiden, menangkap mas Bintang itu nggak masuk agenda. karena sama sekali tidak berbahaya. Karena ketika seorang aktivis pergerakan tema yang diusung cuma ganti presiden dari waktu ke waktu, jelas gak ada bahayanya.

Terus Letjen Kivlan dan Letjen Adityawarman, memang sering bikin pernyataan keras terhadap pemerintahan Jokowi. Tapi menurut saya, keduanya nggak punya agenda yang revolusioner sama sekali. Berarti gak ada bahayanya. Infrastruktur yang menyatukan jaringan sipil dan militer, keduanya menurut penilaian saya nol besar.

Berdasarkan penilaian tersebut, saya berkesimpulan Mas Bintang, Mbak Sarumpaet, Kivlan dan Adityawarman, hanya korban dari kenaifan dan fantasi politiknya sendiri. Yang kemudian oleh penguasa, kenaifan itu dimantaatkan untuk mengedepankan tujuan-tujuannya sendiri.

Namun ketika dalam skenario itu, memasukkan mbak Rachmawati sebagai salah satu daftar tangkap, saya menangkap penguasa mulai out of control. Karena pada perkembangannya bisa jadi kontra produktif bagi penguasa itu sendiri.

Bukan soal karena beliau anak Bung Karno. Tapi kua gagasan dan skema pemikiran, mbak Rachma justru sangat siap dan penyikapan politiknya pun tidak diarahkan pada Jokowi. Melainkan ke arah perubahan sistem kenegaraan, yang pintu masuknya adalah kembali ke UUD 1945 asli pra empat kali amandemen.

Sebab menurut jalan berpikir mbak Rachma, dan saya kira sejalan dengan banyak kalangan, justru UUD 1945 hasil amandemen empat kali, yang telah melakukan makar terhadap negara. Karena itu harus dikembalikan melalui diselenggarakannya Sidang Istimewa MPR.

Pandangan beliau paling terkini, secara terang benderang disampaikan pada pidato di depan para wisudawan Universitas Bung Karno pertengahan November lalu. Jadi kalau ini jadi dasar tudingan makar, saya kira sangat absurd. Karena ini merupakan gagasan dan tawaran terbuka kepada seluruh elemen masyarakat, bersifat terbuka dan tidak ada hal yang rahasia dan sembunyi-sembunyi.

Justru karena mbak Rachma ditahan, bisa bisa ini malah membuka kotak pandora, sehingga wacana kembali ke UUD 1945 akan menemukan momentumnyha untuk diketahui dan disosialisikan secara lebih meluas ke segenap lapisan masyarakat. Tentunya dengan segela konsekwensi politik dan hukumnya pula.

Lagipula, sebagai putri Bung Karno yang menguasai secara tekstual pemikiran dan ajaran Bung Karno, kiranya amat sah baginya untuk berkomitmen kembali ke UUD 1945 asli pra empat kali amandemen. Karena bagi dirinya pribadi, meskipun UUD 1945 merupakan karya bersama para founding fathers, namun secara subyektif pastilah mbak Rachma berpandangan bahwa Bung Karno lah yang paling mewarnai substansi UUD 1945 asli, khususnya pembukaan UUD 1945 yang mana Pancasila ada di dalamnya.

Apakah ini the end of the beginning, ataukah justru the beginning of the end? Waktu yang akan menjawab. | dari FB Hendrajit 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.