Aparat Lakukan penggeledahan di Rumah Tokoh Intelektual Muslim, Ustadz Adnin Armas

0
193

Aparat kepolisian melakukan penggeledahan di rumah tokoh intelektual Muslim, Ustadz Adnin Armas.

Dari Informasi yang dihimpun, Anggota Badan Reserse Kriminal Polri (Bareskrim) Mabes Polri mendatangi rumah Ustadz Adnin di Metro Duta Raya Sukmajaya, Depok, Jawa Barat, sejak Jum’at (10/2/2017) demikian dilansir laman panjimas.com.

Namun dalam surat penggeledahan disebutkan, penyidik dari aparat kepolisian bernama AKBP Asri Effedy SIK, bersama dua anggota polisi lainnya Bripka Syarudin Agil dan Bripda Muhammad Veka Rizky Kusuma melakukan penggeledahan pada Sabtu (11/2/2017), pukul 02.00 WIB. Penggeledahan tersebut disaksikan oleh Sapto Priorahadi, selaku Ketua RT 003.

Ustadz Adnin Armas adalah Ketua Yayasan Keadilan Untuk Semua. Malam itu, saat penggeledahan berlangsung, Ustadz Adnin Armas juga sedang menjalani pemeriksaan Bareskrim Polri.

Dalam penggeledahan itu disita sebuah buku tabungan BNI Syariah dengan nomor rekening 0390717918 atas nama Keadilan Untuk Semua. Kemudian satu buah stempel dengan tulisan Yayasan Keadilan Untuk Semua.

Selain itu disita pula dokumen berupa Anggaran Dasar dan perubahan-perubahannya, laporan tahunan yayasan, laporan kegiatan dan keadaan yayasan dan lain-lain.

Ustadz Adnin Armas merupakan kerabat dekat Ketua GNPF MUI, Ustadz Bachtiar Nasir. Pria kelahiran Medan, 2 September 1972 itu dituduh melakukan tindak pidana pencucian uang atas nama Yayasan Keadilan Untuk Semua yang dikelolanya. Yayasan tersebut selama ini digunakan GNPF MUI untuk menampung donasi amal shalih atau infaq dari kaum Muslimin.

Anggota Badan Reserse Kriminal Polri (Bareskrim) Mabes Polri yang menyambangi rumah Ustadz Adnin Armas, Sabtu (11/02/2017) dini hari,  Islamic News Agency (INA) menulis, polisi memasuki rumah Ustadz Adnin pada pukul 01.00 dini hari. Ada sekitar 3 orang yang masuk ke rumah, sementara sejumlah polisi lain berjaga-jaga di luar rumah.

Istri Ustadz Adnin Armas, Irma, menyatakan sangat kaget dengan kehadiran para polisi malam hari. Apalagi saat polisi datang ia sedang berada di luar rumah, sementara sang suami sejak pagi dipanggil ke Barekrim.

“Saya pulang karena ditelepon anak saya. Anak saya nangis-nangis karena pintu rumah saya digedor-gedor. Kasihan anak saya,” ujar Irma saat ditemui salah seorang perwakilan Bareskrim di dalam rumah, Depok Jawa Barat.

Irma mengatakan anaknya sangat trauma dengan situasi ini. Anaknya yang masih di bawah umur tersebut ketakutan ketika didatangi polisi. Apalagi rumah Ustadz Adnin sempat dibobol orang tak dikenal.

“Anak saya dirumah sendiri. Jerit-jerit. Menangis,” ujar Irma kepada INA.

Malam itu polisi mendatangi rumah Adnin karena dalam catatan, Yayasan Justice for All (Yayasan Keadilan untuk Semua), tertera sebagai rekening penampung dana untuk Aksi Bela Islam yang dilakukan pada 4 November 2016 dan 2 Desember 2016, beralamat di kediaman Adnin Armas, Depok. Karena inilah, aparat menuduh Adnin telibat tindak pidana pencucian uang (TPPU).

“Ya mohon maaf bu (atas ketidaknyamanannya. Karena setahu saya alamat yayasan di sini,” ujar perwakilan Bareskrim AKBP Asri Efendi SIK.

Tetangga Adnin, Rudi mengaku kaget. Selama ini ia mengenal Adnin orang baik dan tidak ada masalah.

“Beliau ustadz. Selama ini ga masalah. Kita juga kaget tiba-tiba kok digeledah seperti ini.”

Sebagaimana diketahui, sejak Aksi Bela Islam, sebagian besar tokoh-tokoh yang terlibat GNPF-MUI seolah menjadi target polisi. Setelah Habib Rizieq Shihab, Munarman, Bachtiar Nasir, kini Adnin. Kabarnya, beberapa orang yang ikut menyumbang dana Aksi Bela Islam juga sedang diperiksa. |TM/hiD/INA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.