Politik Indonesia Jadi Tak Mutu dan ke Kanak-Kanakan

0
195
Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute/ist
0LEH Hendrajit *)
Kalau urusan menggaet 17 persen suara AHY agar beralih ke pasangan Anies-Sandi digiring ke soal Pepo-pepoan menurut saya politik Indonesia jadi gak mutu dan ke kanak-kanakan.

Soal putara kedua ini, sama sekali bukan pertaruhan SBY/AHY, Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi. Yang jadi pertaruhan dan kenapa jadi sulit karena ada mata rantai yang terputus di internal Kartel Politik Indonesia, yang sejak 1999 hingga 2004 masih jadi Kartel Tunggal yang kompak.

Jadi ini bukan soal gimana sikap SBY atau Prabowo, bro. Pertaruhan sesungguhnya ada pada Kartel itu sendiri, yang mata-rantainya sekarang terputus justru di organ induknya yaitu Golkar, menyusul beralihnya kepemimpinan Ade Komaruddin ke tangan Setya Novanto.

Sejak Pemilu 1999, sebenarnya lima partai politik besar bersatu dalam sebuah kartel di bawha kepemimpinan Ginandjar Kartasasmita, yang kebetulan sejak awal punya basis dan jaringan kuat di tubuh Golkar sejak era Suharto.

Nah, waktu era reformasi, Suharto lengser, maka Ginandjar baik matar-rantai maupun pancangan kakinya, mulai meluaas dan mengembang di luar lingkup Golkar, seiring dengan perubahan aturan main politik yang semula Golkar jadi partai dominan, kalau ga mau disebut partai tunggal, menjadi sistem multi partai alias banyak partai.

Maka, jaringan Pak Ginandjar itu, mulai memancangkan kakinya ke beberapa partai baru untuk mengawal skema dan agenda2 strategisnya. Fahmi Idris dan Marzuki Darusman, tetap menjaga gawang Golkar gaya baru. PAN, setelah adanya kesepakatan strategis antara Arifin Panigoro dan Amien Rais, maka selain Amien Rais, kemudian Hatta Rajasa disiapkan sebagai pelapis kedua setelah Amien untuk memimpin PAN.

PPP, partai berbendera Islam produk lama, Hamzah Haz yang notabene berbasis NU, menjadi pemain kunci dan aktor penentu di PPP. Kebetulan Hamzah ini dalam peta politik internal NU, sering disebut Kubu Cipete.

Bagaimana dengan Demokrat? Wah, demokrat belum lahir waktu itu. Sehingga SBY, sebagai salah satu mata-rantai penting dari jaringan Pak Ginandjar ini, untuk sementara dipasang sebagai pancangan kaki jaringan ini melalui posisi strategisnya di Mabes TNI sebagai Kepala Staf Teritorial TNI, menggantikan pos jabatan Kepala Staf Sospol ABRI era Suhartoi.

PKB, karena begitu besarnya pengaruh Gus Dur sebagai pendiri dan sekalgus ketua umum partai, terkesan memang berada di luar lingkup jaringan Ginandjar. Dan kebetulan antara Gus Dur dan Ginandjar waktu itu terkesan nggak chemistry satu sama lain. Namun Gus Dur dan SBY, mungkin karena sama sama geneologi NU Kultural, bisa nyambung. Bahkan waktu Gus Dur jadi presiden, SBY malah dijadikan Menteri Pertambangan dan Energi.

Gimana dengan Megawati dan PDIP? Nah, untuk tugas mengawal agenda kartel politik ini, maka dipasanglah Arifin Panigoro, pengusaha minyak dari Medco, untuk jadi pancangan kaki jaringan ini di PDIP. Pelapis kedua untuk melanjutkan Arifin kalau kelak hengkakng dari PDIP, adalah Pramono Anung. Clear ya sampai di sini?

Menariknya, begitu pemilu 1999 berakhir, hasilnya adalah PDIP dapat suara terbanyak 34 persen. Namun karena UUD 1934 asli masih berlaku, Sidang Umum MPR ternyata tidak memilih Mega, melainkan Gus Dur dengan slogan POROS TENGAH.

Di sini memang kelihaian GUs Dur. Dia paham skema permainan dari Kartel Politik Ginandjar ini. Sehingga ketika Amien Rais menggulirkan isu Poros Tengah yang terkesan mau menjegal Mega, sesungguhnya hanya untuk bargaining dengan Mega dan PDIP.Agar kubu Arifin dan Pramono yang sudah memasang pancangan kakinya di PDIP, bisa punya amunisi untuk menekan Mega agar sejalan dengan skema Kartel Politik.

Gus Dur paham dan bisa baca agenda tersembunyi ini, ,lalu menunggangi isu Poros Tengah yang digulirkan Amien, tapi bukan untuk alat penekan terhadap Mega, malah justru untuk mengondisikan dirinya menjadi presiden alternatif, yang ketika itu semakin memanas antara kubu Habibie versus kubu Megawati.

Karena di fail accomply sama Gus Dur, Amien Rais sebagai komandan Poris Tengah dan Akbar Tanjung yang jadi komandan Golkar kala itu, gak bisa lain, terpaksa memberi dukungan pada Gus Dur sebagai presiden alternatif.

Sayangnya, Gus Dur talentanya cuma hebat sebagai taktikus alias ahli siasat namun lemah dalam menyusun strategi. Pemerintahannnya selama kurang dari satu setengah tahun, amburadul, sehingga kubu Mega dan Poros Tengah versi skemanya Amien Rais dan Kartel, bersatu menggusur Gus Dur lewat Sidang Istimewa MPR. Maka, tumbanglah Gus Dur, dan tampilllah Mega sebagai presiden, yang tadinya jadi Wapres menemani Gus Dur.

Antara 2001 hingga 2004, sepertinya kartel politik ini kompak kompak aja. Arifin Panigoro, selain semakin kuat pancangan kakinya di PDIP sebagai salah satu ketua DPP PDIP. Juga juragan Medco Energi ini jadi Ketua Fraksi MPR PDIP. Sedangkan DI Golkar, Fahmi Idiris jadi Ketua Fraksi MPR Golkar. Mereka berdua inilah, pemain kunci empat kali amandemen UUD 1945. Melalui Arifin dan Fahmi inilah, Mega akhirnya setuju amandemen keempat UUD 1945. ketika keduanya merupakan pemain kunci PDIP dan Golkar di MPR.

Nah, waktu jelang pilpres pertama secara langsung pada 2004, perpecahan kartel politik dengan PDIP mulai terkuak, menyusul pengudnuran duri SBY sebagai menteri Polkam pemerintahan Mega. Apalagi ketika kemudian SBY nyalon jadi presiden melakui Partai Demokrat.

Ketika SBY menang di Pilpres 2004, Kartel politik inipun menguasai konstalasi politik di DPR yang waktu itu sudah di bawah naungan UUD 1945 hasil 4 kali amandemen, atau yang sering saya sebut UUD 2002. Sedangkan PDIP, berada di luar lingkup koalisi partai partai yang berada dalam naungan Kartel Politik. Arifin sendiri sejak Munas PDIP Bali tak lama setelah SBY jadi presiden, tersingkir dari kepengurusan PDIP, yang berarti pula tamat sudah riwayat politiknya di PDIP. Meski begitu, Pramono Anung, meski masih di bawah bayang bayang Sekretaris Jenderal Sucipto, namun masih memegang posisi lumayan penting sebgai Wakil Sekjen. Dan belakangan malah jadi Ketua bidang pengkaderan dan Organisasi PDIP. Entah kesepakatan macam apa yang terbangun dengan Mega, tapi fakta membuktikan Pram karir politiknya tetap bagus, dan sekarang malah jadi sekretaris kabinet di era Jokowi-JK.

Di PAN, bagian dari mata-rantai ke jaringan Kartel, Hatta Rajasa tampil sebagai putra mahkota menggantikan Amien. Berarti pancangan kaki jaringan Ginandjar ini semakin mantap di PAN. Amien cukup jadi pemain belakang layar saja.

SBY, setelah jadi presiden, semakin memberi ruang pada jarignan Ginandjar untuk semakin memperkokoh posisinya. Fahmi Idris jadi menteri perindustrian, Hatta Rajasa jadi menteri perhubungan, PPP jaringan ini menitipkan Pak Sugiarto yang juga mantan CEO Medco, sebagai menteri negara BUMN. Meskipun tidak lama.

Kuntoro Mangkusbroto, di era pertama pemerintahan SBY, dipercahya sebagai Ketua Proyek Rekonstruksi Aceh pasca tsunami. Di periode kedua, jadi ketua UKP4 yang sejatinya merupakan jabatan perdana menteri secara tersamar.

Sewaktu Jolkowi jadi presiden, sebenarnya Kartel Politik ini coba merapat ke duet Jokowi-JK melalui saluran Jusuf Kalla yang meskipun bukan tim solid dari jaringan kartel ini, namun itulah satu satunya pintu masuk mempengaruhi pemerintahan Jokowi-JK.

Apalagi di Golkar, pancangan kaki jaringan kartel politik Ginandjar, masih cukup kuat dengan kekuasaan Golkar di tangan Aburizal Bakrie.

Namun ketika Setya Novanto jadi Ketua Umum, dan mematahkan Ade Komarudin dari possi kunci di Golkar, maka terputuslah sudah keterkaitan Kartel Politik ini dengan pusat pengambilan keputusan di di DPP Golkar. Meski saat ini Aburizal Bakrie masih duduk sebagai Ketua Dewan Penasehat.

Kalau kita sepakat bahwa Pilgub DKI saat ini merupakan Pilgub Rasa Pilpres, maka persoalannya tidak sesederhana mengalihkan suara AHY yang 17 persen ke Anis, atau soal Pepo-pepoan.

Karena sekarang ini, seiring dengan tampilnya beralihnya kekuasaan Golkar ke tangan Setya Novanto, kartel Politik Ginanjar bukan lagi satu satunya Kartel Tunggal. Tapi ada dua Kartel yang sedang bertarung.***

*) HendrajitDirektur Eksekutif Global FutureInstitute – www.pribuminews.co.id © 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.