Kontroversi Aksi Menyemen Kaki

0
220

Kontroversi Aksi Menyemen Kaki​
Menuju Peradaban

OLEH JAYA SUPRANA

JARINGAN Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng dinilai telah mengeksploitasi kaum perempuan. Pasalnya, dalam aksi unjuk rasa yang digelar di depan Istana Negara kemarin memposisikan perempuan sebagai ujung tombak dalam menyampaikan aspirasi.

"Perempuan ditugaskan untuk mengecor kakinya dengan semen. Aksi itu tidak etis dan sangat terbalik dengan cita-cita Kartini. Sebagai aktivis perempuan, saya berpendapat hal tersebut bentuk eksploatasi bagi seorang perempuan," ujar pemerhati anak dan perempuan Roostien Ilyas kepada wartawan di Jakarta, Selasa 14 Maret 2017.

Menurutnya, aksi menyemen kaki bisa mengganggu reproduksi perempuan, sehingga berdampak sulit dalam mempunyai keturunan. "Kalau pilihan mereka dalam aksi harus dengan menyemen kaki kenapa pelakunya harus perempuan. Ini bagian dari eksploitasi perempuan dan saya sangat menyayangkan hal ini, padahal masih banyak cara-cara lain," kata Roostien.

Seharusnya, aksi unjuk apapun bisa didahului dengan diskusi dan ditinjau dari berbagai aspek. Bukan hanya aspek sosiologis sebagai cara yang dipakai dalam menyalurkan aspirasi tetapi juga aspek medis psikologis. Secara pribadi saya sepenuhnya setuju dengan keberatan dari pemerhati anak dan perempuan, Roostien Ilyas mengenai menyemen kaki merusak kesehatan.

Saya pernah bertanya kepada Gunritno sebagai satu di antara sekian banyak tokoh petani yang terlibat dalam gerakan amanat penderitaan rakyat Kendeng mengenai kenapa dipilih cara menyemen kaki untuk mengungkapkan protes mereka terhadap kebijakan pemerintah membangun pabrik semen. Sebab menurut pendapat saya, menyemen kaki merupakan suatu tindakan non-alami yang sangat beresiko merusak kesehatan bukan hanya kesehatan kaki namun juga kesehatan peredaran darah dan metabolisme tubuh manusia.

Bahkan ketika menyapa para penyemen kaki di pelataran di depan Istana Merdeka 15 Maret 2017, saya memperingatkan Gunritno yang ikut serta menyemen kaki bahwa gerakan menyemen kaki dengan peserta yang dari hari ke hari makin meningkat secara tidak langsung bertentangan dengan maksud-tujuan protes.

Menggunakan makin banyak semen untuk menyemen kaki berarti malah meningkatkan omset semen produksi pabrik semen yang pendiriannya mereka protes. Namun berdasar kenyataan yang saya lihat di kawasan pelataran di depan Istana Presiden Republik Indonesia, tampaknya penilaian bahwa Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng telah mengeksploatasi kaum perempuan sebenarnya kurang tepat.

Ada tiga alasan. Pertama: setelah saya wawancara dengan para aktivis menyemen kaki mereka masing-masing, dapat disimpulkan bahwa penyemenan kaki kaum perempuan sebagai ungkapan protes terhadap pembangunan pabrik semen di pegunungan Kendeng sama sekali bukan berdasar anjuran apalagi paksaan pihak mana pun juga namun murni atas kehendak kaum perempuan yang sempat diberi gelar para Kartini Kendeng itu sendiri. Bahkan LBH Jakarta sempat berupaya mencegah aksi penyemenan kaki akibat tidak sehat di samping terlalu dramatis bahkan tragis.

Kedua: terbukti pada kenyataan on the spot yang saya lihat pada petang hari 15 Maret 2017, ternyata jumlah penyemen kaki lebih banyak yang lelaki ketimbang yang perempuan.

Ketiga : saya memperoleh ketegasan dari para penyemen kaki bahwa mereka segera akan menghentikan aksi penyemenan kaki langsung setelah Bapak Presiden Jokowi berkenan menerima mereka menghadap. Insya Allah, Bapak Presiden Jokowi segera berkenan menerima rakyat menghadap demi mendengarkan amanat penderitaan mereka.

Makin cepat Bapak Presiden Jokowi berkenan menerima rakyat menghadap makin cepat pula rakyat menghentikan penyemenan kaki yang sangat merusak kesehatan mereka itu.[***]

​Penulis adalah pendiri Pusat Pembelajaran Kemanusiaan​

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.