Banalitas

0
238

OLEH Nugroho Prasetyo

Banalitas adalah hal yang paling legit dalam peradaban. Ia tak harus memiliki alasan yang masuk akal, apalagi harus punya dasar yang jelas. Agar bisa diterima dan dimaknai sebagai kebenaran, ia cukup terlihat keren dan gagah. Dalam abad media, citra adalah segalanya. Contoh tidak harus lahir dari kerja nyata, tapi konstruksi yang dibangun dari imaji-imaji tentang bekerja. Kata Baudrillard (1993), apa yang real bukan hanya apa yang bisa direproduksi, tapi apa yang telah direproduksi, alias hyper-real. Jika dibaca dalam kajian kebudayaan populer, Revolusi Mental dan Nawa Cita hanya berkutat pada pengolahan wacana untuk kemudian direproduksi melalui berbagai medium. Program-program jargonik seperti itu tak lebih dari citra hampa nilai guna, bahkan lebih mirip strategi komunikasi massa yang dipraktekkan oleh rezim Orde Baru. Padahal, Soekarno pernah mengingatkan, “Revolusi bukan sekadar mengubah mental thinking, neen, neen, neen”.

Jika rezim pemerintah kita memilih jalan neolib, di belahan bumi Selatan, Hugo Chávez menempuh jalan yang berbeda. Chávez memilih Revolusi Bolivarian sebagai jalan besar bagi masa depan bangsanya. Ketika mafia migas makin membelenggu tata-niaga migas dalam negeri dan korporasi-korporasi asing menguasai sektor hulu migas nasional, ia sudah selangkah lebih berani dengan mengambil-alih Orinoco Belt Project —-yang sebelumnya dikontrol oleh 6 PMA, ConocoPhilips-Chevron-Exxon Mobile-BP-Statoil-Total—- dan menyerahkan 70% pengelolaannya kepada perusahaan minyak negara Venezuela, yaitu PDVSA. Ketika pemerintah kita tergelincir oleh Structural Adjustment Programs (SAPs)-nya IMF, yakni privatisasi BUMN, dengan dana dari hasil nasionalisasi PMA-PMA, Chávez mampu membangun gerakan ekonomi rakyat mandiri dengan dukungan 70.000 BUMN, dari jumlah semula yang hanya 762 BUMN saat ia baru naik tampuk kekuasaan pada 1998.

Jika ingin memenangkan pertempuran, tetapkan dulu definisi “kemenangan” itu. Kalau hanya demi menjaga citra diri saja, itu sama halnya petarung takut luka. Sementara, sekedar selamat bukanlah sebuah prestasi membanggakan. Dalam setiap pertempuran, biasanya yang paling banyak selamat adalah kaum pengecut. Pengecut, itu bukan watak Karna. Itu lebih menyerupai karakter Megatron, musuh besar Optimus Prime.

Hari ini, Indonesia punya Presiden, tapi tidak memiliki pemimpin.

Hari ini, Indonesia punya Presiden, tapi tidak memiliki Hugo Chávez, Karna atau Optimus Prime.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.