MENGAPA MEMBENCI HABIB RIZIEQ?

0
664

MENGAPA MEMBENCI HABIB RIZIEQ?

Barusan saya membaca sebuah status dari seorang “Gus”, begitu dipanggil oleh teman2 nya yang lain dalam komentarnya. Gus berarti dia adalah seorang putra Kyai, yang biasanya dihormati oleh masyarakat pendukungnya.

Menariknya, status yang ditulis oleh Gus ini, berupa sindirian yang cukup kasar terhadap Habib Rizieq, yang kemudian diberikan komen dukngan oleh para “santri” nya.

Ada sebersit rasa sedih membaca status ini, walau saya tidak ikut-ikutan komen.

Tak lama kemudian saya menyimak sebuah postingan video berdurasi sekitar 15 menit, berisi ceramah dari seorang Gus yang lain. Kali ini berbeda dari sebelumnya, Gus yang ini dalam beberapa kali video yang dishare nya memberikan dukungan dan simpati terhadap Habib Rizieq.

Dua postingan dari dua Gus ini membuat saya prihatin dan bersedih. Pasalnya, saya yang secara kultural juga termasuk warga NU dan menghormati putra Kyai, menjadi galau dan bertanya-tanya,

Mengapa ada Gus yang membenci Habib Rizieq ?

Saya diam duduk, berbaring, dan terus bertanya-tanya, mengapa ?

Saya sependapat bila dikatakan bahwa dalam berbicara di depan umum, intonasi Habib Rizieq terkesan kasar dan terang-terangan. Namun dalam pandangan saya, ketika disimak isinya, cukup logis dan berbobot.

Katakanlah tentang Pancasila, Habib Rizieq dapat menjelaskan sejarah lahirnya Pancasila dengan baik.

Lalu apa lagi ?

Apakah kehadirannya, dianggap intoleran, dan meresahkan ?

Namun, keluarga besar Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan dan juga mantan Ketua NU, KH Hasyim Muzadi, memberikan apresiasi terhadap apa yang dilakukan Habib Rizieq dan FPI nya.

Begitu pula dengan Habih Syech yang dikenal dengan majelis sholawat-nya yang dihadiri ribuan umat, juga memberikan apresiasi terhadap Habib Rizieq.

Ketika sebagian dari Banser dan Anshor berusaha dengan gigihnya untuk membubarkan FPI, juga mendapatkan nasehat oleh para ulama sepuh NU agar tidak melanjutkan tindakannya itu. Bahkan, di sebuah tempat, dibawah bimbingan Kyai sepuh,KH Maimun Zubair, antara Banser dan PFI nampak menjalin persaudaraan. Karena sejatinya, secara kultural FPI juga mengamalkan, amalan seperti halnya yang dilakukan warga NU.

Ulama Aceh juga nampak sangat memberikan apresiasi terhadap Habib Rizieq dan FPI nya. Pasalnya, ketika banyak ulama dan umat hanya berdiam diri ketika terjadi bencana Tsunami di Aceh, maka Habib Rizieq dan FPI nya langsung terjun berbulan-bulan di Aceh memberikan bantuan, di bawah ancaman dari GAM.

Mungkin itu salah satu sebabnya, setiap aksi yang dipimpin oleh Habib Rizieq, selalu mendapatkan dukungan oleh masyarakat Aceh.

Saya ini orang awan dalam masalah agama. Dalam benak saya hanya mendambakan kerukunan dan persaudaraan antara umat Islam.

Ketika ada aksi 212 yang begitu fenomenal, saya bener-bener merasa bersyukur. Pasalnya, aksi ini nampak diikuti oleh berbagai kalangan umat Islam, baik NU, Muhammadiyah, Persis, HTI, Salafi, dan tentu saja FPI.

Saya merasakan bangga dan bersyukur atas persatuan umat ini. Dan berharap begitulah selanjutnya, umat bersatu dan bersaudara satu sama lain.

Jika bisa dikata, itulah salah satu dambaan dan impian saya.

Karena dalam pandangan saya, jika umat bersatu, maka umat lain pun, juga akan merasa senang. Sebab Islam yang rahmatan lil alamin, selalu mengemban amanah untuk memberikan cinta kasih dan kenyamanan kepada umat lain, non muslim.

Lalu mengapa ada orang yang membenci Habib Rizieq ?

“Apakah Habib Rizieq telah mengganggu Anda, mengambil hak Anda, merugikan kepentingan Anda ?” Begitu sebuah pertanyaan, yang datangnya justru dari seorang wanita muda beragama non-muslim.

Habib Rizieq adalah manusia biasa, yang bisa saja berbuat salah. Seperti semua orang yang tentu juga pernah berbuat salah dan dosa.

Adakah dari pembaca ini yang tidak punya dosa ?

Semua pasti punya salah dan dosa. Hanya masalahnya, mengapa Anda begitu membenci Habib Rizieq ?

Pertanyaan itu terus saja mengganggu pikiran saya, membuat saya bertanya-tanya ? Mengapa ? Mengapa ? Mengapa ?

Mohon dijelaskan, sejelas-jelasnya, biar umat seperti saya ini tidak menjadi bingung.

Sementara seorang Ustadz muda pernah memberikan nasehat dalam sebuah ceramahnya bahwa,

“Di akhirat kelak, kebencian bisa menahan kita menuju surga”

Wakil Sekretaris Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBH NU) Djoko Edhi Abdurrahm

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.