BALLADA SEORANG PENSIUNAN

0
338
Haz Pohan

by   

DUA TULISAN saya yang mengeritik Polri dalam hubungan dengan Interpol dibaca belasan ribu kali, ada yang tidak setuju tetapi mayoritas menyambut baik. Masih ada warganegara yang peduli. Bukan sembarang warganegara, tetapi pandangan itu keluar dari seorang mantan pejabat senior pemerintah yang pernah menjabat duta besar di suatu negara di Eropa, kata mereka. Tidak kurang, sejumlah pembaca dari kalangan penegak hukum sampai ke tingkat tertinggi, misalnya dari kalangan Mahkamah Agung, membawa diskursus ini ke dalam group WA, dibahas ramai-ramai.
Ada teman, yang secara japri bilang tulisan saya terlalu keras sebagai mantan orang pemerintah, meski dia mengakui tulisan itu terlalu gamblang melihat persoalan hitam-putih. Dan ini penting diketahui publik, katanya.
Secara tersamar, teman-teman bertanya kok bisa dan berani begitu menyampaikan kritikan secara publik. Mengapa tidak menyampaikan fikiran itu secara jalur birokrasi karena saya sendiri masih berhubungan erat dengan birokrasi, dan teman-teman masih banyak yang bekerja di sana, sampai di tingkat tertinggi?
Begini. Saya ini seorang pensiunan, berusia 64 tahun. Meski berkarir di pemerintah sampai pensiun di tahun 2013, sebelumnya saya banyak menggeluti berbagai profesi. Keseluruhan profesi atau pekerjaan di luar pemerintahan ini lebih tepat menggambarkan siapa saya. You are what you do, kata orang. Ada betulnya.
Sebagai pensiunan, siapapun takut pikun. Obat terbaik untuk pencegahannya adalah terus berfikir dan berfikir. Otak harus terus dipakai. Kegiatan olahraga fisik tentu penting, tetapi lebih penting olahraga otak. Saya merasakan manfaatnya. Maka, dalam usia 64 tahun ini saya terus memelihara aktifitas. Tiada henti, bahkan kalau tidak dicegah akan makin banyak dan ini melanggar fatsoen: tidak boleh ngoyo, kata teman saya orang Jawa. Lakukan aktifitas untuk kesenangan semata. Lagian, mau cari apa lagi? Tidak perlu target-targetan. Biarkan hidup mengalir terus, santai dan memberikan kesenangan. Baiklah.
Di website saya tertulis pemiliknya: “Senior Adviser, Lawyer, Lecturer, Reporter”.  Saya dengan sengaja tidak mengklaim lagi profesi kelima saya: “Negotiator” karena sekarang ini sudah pensiunan Duta Besar. Karena sudah apkir dari Foreign Service, maka saya tidak boleh men-declare “Diplomat”. Nanti saya jelaskan di bawah.
Sebagai ‘senior adviser’, ini terkait dengan tugas-tugas lama di pemerintahan dalam urusan diplomasi dan hubungan luar negeri. Persisnya menjadi diplomat yang sedikit banyak menjadi praktisi dalam komunikasi, terutama komunikasi internasional. Karena ratusan kali memimpin perundingan atas nama Indonesia, maka dengan sendirinya banyak asam garam yang dirasakan. Banyak pula jaringan dalam dan luar negeri yang terbentuk. Ini penting dalam menjalankan tugas sebagai ‘senior adviser’ di perusahaan maupun di law firm. Adakalanya diminta untuk menjadi keynote speaker di luar negeri. Alhamdulillah, kegiatan ini cocok dan menyenangkan, juga ikut menyita sebagian waktu.
Sebagai ‘lawyer’ ini terkait dengan pendidikan di fakultas hukum USU Medan dulu, sebelum masuk ke Kementerian Luar Negeri. Ternyata, first degree ini banyak membantu tugas-tugas diplomasi, sebagai lawyer, negosiator, mewakili Pemerintah RI. Sekitar 15 tahun saya habiskan karir mengurus atau berurusan dengan tugas-tugas hukum internasional, termasuk dalam panitia pembuatan RUU, menjadi legal drafter. Sekarang saya masih duduk di pengurus pusat Peradi, sebagai sekretaris Dewan Pakar. Alhamdulillah, waktu banyak lowong, dan saya tetap memelihara pengetahuan tentang hukum. Karena dari awal saya berurusan dengan hukum internasional –karene berkaitan langsung dengan diplomasi—maka di bidang hukum internasional ini saya banyak menghabiskan waktu.
Sebagai ‘lecturer’, saya menghabiskan waktu yang cukup panjang, sejak tahun 1990 sampai kini. Yang diajarkan tidak jauh dari diplomasi, hubungan luar negeri, politik internasional dan hukum internasional. Masih tercatat sebagai dosen di Lemhannas, dan kini saya menjadi pengajar tetap di sebuah perguruan tinggi swasta. Saya juga diminta menjadi panitia dalam pendirian Program S-3 di FISIP UI, untuk prodi Hubungan Internasional. Sayang, sejak meninggal dunia Prof. Zainuddin, persiapan pembentukan program S-3 ini terhenti sejenak. Karena diminta menjadi dosen S-3 maka saya sekarang mengambil program PhD di Malaysia sejak 2015, supaya tidak kagok mengajar S-3 harus bermodal S-3 juga.
Sebagai ‘reporter’ berkat ikut kursus jurnalistik dengan Alm. Mohammad Said di Medan dan bekerja sebagai wartawan, sambil kuliah, di tahun 1975-1976. Wartawan ini profesi keluarga, dari mulai Alm. Ayahanda, dan beberapa anak-anakya menggeluti dunia jurnalistik, termasuk saya. Bagi saya, wartawan itu naluri. Tentu ada bakat turunan di sini, terutama dalam instink. Profesi ini bertolak belakang dengan profesi diplomat. Wartawan mencari info sebanyak mungkin, diplomat menutup kerahasiaan negara serapi mungkin. Alhamdulillah kedua profesi ini dapat berjalan baik.
Karena terlatih sebagai reporter maka saya biasa menulis. Ketika aktif di media, saya bisa membuat berita lebih dari sepuluh setiap harinya. Wartawan muda tak berani berpacu dengan saya. Karena terbiasa menulis maka kebiasaan ini mendarah-daging. Saya tidak bisa lepas dari kegiatan tulis-menulis ini. Akhir-akhir ini saya jarang menulis untuk publik karena sibuk dengan urusan karya tulis untuk program PhD yang saya kerjakan sekarang.
Menulis itu kesenangan, dan menjadi obat ketika suntuk, kata orang Medan. Menulis menjadi outlet, dari perasaan hati yang gundah. Tulisan selesai dan dibaca banyak orang telah menjadi hiburan. Beberapa artikel saya dibaca lebih dari 50 ribu kali, terutama pada tema-tema yang menarik. Saya menulis bukan untuk mencari duit. Saya bilang sebagai penulis amatiran, karena tidak dibayar, namun hasilnya harus profesional.
Yang ingin saya ceritakan bahwa keempat profesi, plus profesi diplomat, yang menguasai diri saya ini mengajarkan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup ini. Nilai-nilai dan perspektif atau ‘kultur profesi’ yang muncul dari keempat profesi ini memperkaya bathin saya.
Sebagai ‘senior adviser’ saya harus mampu menjadi orang bijak (wiseman) dengan nasehat-nasehat yang baik, menjadi pemimpin untuk menuntun anak-anak yang lebih mudah, dan merepresentasikan diri sebaik dan seprima mungkin dalam berhubungan dengan counter-part, dalam business misalnya. Menjadi ‘senior adviser’ kita harus berisi dan memiliki instink yang tajam. Ini tetap saya pelihara.
Sebagai ‘lawyer’ saya harus sensitif dengan ‘naluri keadilan’ dan ‘nilai-nilai kebenaran’ baik yang formal (UU) maupun material (peristiwa). Karena itu, saya tidak bisa diam apabila terjadi kesewenang-wenangan dari pihak manapun, terutama dari penegak hukum, kepada kawula negeri.
Sebagai ‘lecturer’ saya harus tetap mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan menyiapkan diri sebaik-baiknya ketika mengajar di kelas. Ini penting untuk memelihara tingkat intelektualitas yang bisa dipertanggungjawabkan, setidaknya secara akademis.
Sebagai ‘reporter’ saya merasakan kewajiban untuk menemukan fakta-fakta mengenai suatu peristiwa, menganalisis, dan melaporkannya kepada publik. Di sini, menjadi wartawan bukan berarti saya bekerja dengan media. Dulu, saya pernah beberapa tahun bekerja untuk media. Menjadi wartawan itu tetap di naluri, meski sekarang lebih sebagai hobby saja. Gatal tangan ini untuk menulis ketika di hadapan saya terjadi pengangkangan atas kebenaran.
Di atas, saya jelaskan dengan sengaja tidak menuliskan kesibukan sebagai ‘negotiator’ atau diplomat, jelas karena sudah pensiun dan tidak lagi bekerja untuk mewakili pemerintah. Tetapi ini juga profesi yang saya geluti dan menghabiskan waktu selama 33 tahun. Apa ‘legacy’ dari profesi ini?
Ini erat kaitannya dengan status almarhum ayah sebagai veteran, yaitu kecintaan yang luar biasa kepada negeri dan bangsa ini. Bagi veteran, ini tidak bisa ditawar-tawar. Semangat kejuangan ayah dan belasan tahun saya bertugas ditempatkan di berbagai pos di Eropa dan Amerika memberikan kesempatan yang luar biasa bagi saya untuk berbuat demi nama baik dan martabat negeri ini, dan melihat kelebihan maupun kekurangan negeri ini. Intinya, memperjuangkan negeri dan bangsa ini, di medium berbeda: hubungan internasional.
Diplomat itu sangat sensitif dengan harga-diri, kehormatan, nama baik, dan peran yang dimainkan bangsa dan negeri ini dalam konteks luar negeri. Nilai-nilai ini tidak pernah pupus dalam diri saya. Jadi, hal-hal yang akan merendahkan bangsa ini, harga diri dan kehormatannya akan sangat mengusik diri saya. Apakah perilaku dan sikap amatiran pejabat yang merendahkan negeri dan nama baiknya di luar negeri, dan terlebih jika ‘penghinaan’ itu datang dari luar negeri, maka bathin ini akan memberontak dan tidak akan tinggal diam.
Jadi, bisa saya simpulkan bahwa semua tulisan, ucapan, tindakan saya berasal dari nilai-nilai dan kultur profesi dari kelima profesi yang mendarahdaging dalam diri saya. I can not change it! I am what I do, and it’s me. Pure and simple!
Dan, supaya jelas apa yang menjadi motivasi dan tema-tema yang saya sukai maka tulisan ini saya buat. Tidak ada motivasi lain.
Mohon dimaklumi.

sumber http://www.hazpohan.com/

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.