Reformasi Total Mati, Dibunuh Orangtuanya Sendiri!

0
104
OLEH EROS DJAROT
Baru-baru ini ada sekelompok aktivis ‘98, meminta saya menjadi salah satu pembicara di sebuah forum diskusi dalam rangka refleksi memperingati dua dekade umur Gerakan Reformasi. Para pembicara yang diminta mengisi acara adalah mereka yang semasa gerakan Reformasi, terlibat cukup aktif, sedikitnya mengamati. Pilihan temanya cukup sensasional dan membuat saya merenung; ‘Reformasi Total – Gagal Total’.Pertanyaanya: pernah adakah Reformasi Total? Karena seingat saya terminologi ini kami gunakan pada saat menyiapkan pidato politik seorang ketua umum partai yang saat itu sangat disorot setiap gerak dan langkah politiknya oleh rezim Orde Baru Soeharto.
Terminologi REFORMASI TOTAL sebenarnya sebuah pensiasatan untuk menggantikan kata REVOLUSI yang saat itu menjadi kata tabu untuk diucapkan. Karena siapa pun yang menggunakan kata Revolusi sebagai ajakan melakukan gerakan perubahan, dipastikan seketika akan dibrangus oleh tentara yang saat itu menjadi alat politik penguasa Orba.Kata Revolusi, oleh para murid Bung Karno, dipahami sebagai gerakan menjebol yang lama sampai ke akar-akarnya, dan digantikan dengan yang sama sekali baru. Digambarkan sebagai menjebol nilai-nilai dan kekuasan kolonial-kaum penjajah, yang digantikan dengan kemerdekaan-daulat rakyat berikut nilai-nilai kerakyatan yang progresif revolusioner.  Wajarlah bila kata ‘Revolusi’ dijadikan momok yang sangat ditabukan oleh rezim Orde Baru.Agar makna dan maksud dari apa yang terkandung dalam kata Revolusi mendekati makna dan tujuan sebagaimana ajaran Pemimpin Besar Revolusi, maka penambahan kata TOTAL, diharapkan akan dapat mengantar pemahaman dimaksud. Mengingat kata reform menurut kamus Webster yang kami baca saat itu, hanya sebatas pengertian; merubah atau memperbaiki format atau kondisi yang ada menjadi lebih baik, dengan cara membuang berbagai kesalahan dan penyalahgunaan yang merusak format.

Dengan rujukan ini, kata REFORMASI tidak sepenuhnya memenuhi keinginan dan tuntutan REVOLUSI sebagaimana ajaran. Maka menambahkan kata TOTAL di belakang kata REFORMASI, dipandang perlu dan menjadi keharusan. Sebagai upaya membuka pintu yang pada saatnya nanti dapat mengantarkan rakyat Indonesia mencanangkan REVOLUSI sebagaimana cita-cita dan tujuan perjuangan politik yang diharapkan.Andai menumbangkan rezim Orde Baru berhasil kami lakukan sendiri saat itu, tujuan menempatkan daulat rakyat yang progresif revolusioner sebagai panglima, pasti kami canangkan dan wujudkan. Tentu dengan pula menolak diktaktor mayoritas maupun tirani minoritas. Secara tegas kami pun menolak paham liberalisme, sehingga pilihan sistem politik liberal dan sistem ekonomi yang liberal kapitalistik, sama sekali tidak kami inginkan!Yang kami lakukan saat itu adalah perjuangan untuk mewujudkan masyarakat sebagaimana cita-cita Sosialisme Indonesia. Dipahami sebagai Marhaenisme dalam praktek, yang menempatkan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai sumber dari segala sumber hukum dalam menata dan mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara. Hingga masyarakat yang sama rasa dan sama bahagia dapat diwujudkan. Sayangnya keberhasilan menumbangkan rezim Orde Baru, bukan semata hasil perjuangan partai yang kami gunakan sebagai kendaraan politik saat itu (PDIP). Tumbangnya Orde Baru dihasilkan oleh gerakan seluruh elemen masyarakat bangsa Indonesia yang sudah jenuh dan muak terhadap represivisme rezim otoriter Orde Baru. Dan pada saat gerakan menumbangkan Orde Baru hampir mencapai titik kemenangannya, terminologi REFORMASI minus kata TOTAL muncul secara masif dan membahana.Ketika Presiden Soeharto lengser keprabon (20 Mei 1998) dengan menyerahkan tongkat estafet kekuasaan kepada BJ Habibie, ternyata semua elemen berikut para pimpinan kelompok yang mengklaim diri sebagai barisan yang progresif revolusioner, pun bersepakat menerima penyerahan tongkat estafet ini dengan penuh suka cita. Pada saat itulah, saya dengan segelintir teman-teman yang terpana melihat ‘sirkus politik ini’, telah memprediksi dan menyimpulkan…Gerakan Reformasi Total, tidak akan pernah ada!Karena pada perjalanan berikutnya, cita-cita perjuangan memenangkan terwujudnya Reformasi Total, ditikam dari belakang oleh ‘orangtua’nya sendiri, yakni; para pemimpin dan elite politik yang iman perjuangannya tidak berdasar dan berpijak pada cita-cita Revolusi Indonesia dalam bingkai Ideologi kerakyatan yang mendasarinya! Maka jadilah Indonesia yang seperti hari ini. Hasil dari sebuah penghianatan para elite dan para pemimpin, yang dengan bangga memberi label dirinya sebagai pemimpin gerakan Reformasi!

*)disampaikan di diskusi ILEW & RIM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.