*Dilema TGB Diantara Umat dan Istana

0
149
Tony Rosyid

 

Oleh Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Tuan Guru Bajang. Gubernur NTB dua periode ini lagi naik daun. Ia muncul di waktu yang tepat. Saat bandul politik umat muslim menguat, TGB hadir. Kehadirannya disambut positif. Apalagi ia terlihat beberapa kali muncul dalam pertemuan ulama nasional.

Namanya disebut-sebut oleh sejumlah pihak sebagai capres 2019. Mungkinkah? Dalam politik segala kemungkinan bisa terjadi.

Kelas capres sepertinya masih terlalu tinggi buat TGB. Mengapa? Pertama, tidak ada program yang “branded’ selama dua periode memimpin NTB. Setidaknya yang diketahui publik. Ini bukan soal prestasi. Tapi lebih pada soal branding. Iklan publik. Bagus, tapi kalau gak diketahui publik, gak punya nilai politik.

Kedua, penduduk NTB hanya lima juta. Masih terlalu kecil untuk ukuran Indonesia yang jumlah penduduknya 250 jutaan.

Tidakkah Jokowi saat menjadi walikota Solo hanya punya rakyat 300 ribu orang? Inilah bedanya. Branding Jokowi saat jadi wali kota sangat seksi sekali. Terutama branding mobil Esemka. Sekitar 7-8 tahun lalu. Branding nasionalisme. Meski akhirnya belum juga diproduksi. Setidaknya, hingga hari ini.

Jokowi memang disiapkan untuk jadi presiden 2014. Perencanaannya matang. Gak ujug-ujug. Siapa yang menyiapkan? Tanya pada rumput yang bergoyang, kata Ebit G Ade. Design branding Jokowi dibuat menasional. Ekspos media heboh. Digarap dan diviralkan secara sangat rapi dan masif. Hal yang sama sepertinya juga disiapkan untuk Ahok. Tapi, terlanjur terbaca publik. Kurang rapi. Dan, Ahok gagal. Setelah kasus penistaan agama mengantarkannya ke penjara

Branding TGB tak sedahsyat Jokowi. Juga Ahok. Mungkin karena ia seorang ulama. Tak suka mengada-ada. Polos. Tak terlalu suka dicitrakan. Kalau berbohong, mudah ketahuan.

Ketiga, TGB bukan tipe kontroversial. Tak suka berbeda secara radikal. Lain banget dengan Jokowi saat jadi walikota. Berani melawan arus. Kebijakan gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo ditentang. Kasus pembangunan mall. Satu poin buat Jokowi. Pro wong cilik. Branding yang tepat. Sangat mengena. Pas sasarannya.

Saat terpilih jadi gubernur DKI, Jokowi datang ke Jawa Tengah, cium tangan Bibit. Branding kerendahan hati. Low profile. Sangat seksi. Media darling. TGB bisa melakukan itu? Nampaknya tidak.

TGB punya popularitas. Elektabilitasnya juga bergerak, meski cenderung lambat. Umat Islam menyambutnya. Di saat “umat” merasa tak mendapatkan tempat dalam kebijakan Jokowi, tokoh model TGB jadi harapan. Tapi karena syarat prestasi, representasi dan kontroversi tak terlalu signifikan, maka tendangannya tak terlalu kuat. Kurang greget.

Kalkulasi ini menempatkan TGB berpeluang jadi cawapres. Tapi, keburu KPK beroperasi. Beroperasi atau dioperasikan? Banyak dugaan. Kredibilitas KPK mulai dipersoalkan. Publik mulai bertanya, betulkah KPK ikut andil dalam politik? Jika betul, berbahaya!

Saat santer berita media menyebut nama TGB dalam daftar KPK, tawaran cawapres datang. Dari mana? Istana. Infonya, Jokowi sudah memberi tawaran. TGB pun dikabarkan sedang road show minta pendapat. Kepada ulama, tokoh dan umat. Ada yang sudah mendeklarasikannya. Jokowi-TGB. Tes pasar. Tunggu respon umat. Kabarnya, ada arus kuat dari teman-teman sealmamater TGB, para alumni Al-Azhar, membuat ultimatum. Jika TGB mau terima tawaran Jokowi, mereka balik arah. Berada di seberang dan siap melawan TGB. Anggap TGB berkhianat. Berat!

Pilihan yang sulit bagi TGB. Tidak terima, isu KPK terlanjur diramaikan di media. Terima, umat memusuhinya. Apalagi, belum ada partai lain yang meminangnya. Demokrat? Partai dimana TGB berasal, sudah pasang AHY. Putera mahkota yang diagokan SBY. Popularitas dan elektabilitas nya jauh lebih tinggi dari TGB.

Bagi TGB, tawaran Jokowi menjadi sangat seksi. Jika menang, ia jadi wakil presiden. Dan berpeluang jadi capres di 2024. Dengan catatan, tawaran dari istana serius. Beneran. Tidak bodong. Sebab, banyak tokoh yang kabarnya juga dapat tawaran yang sama seperti TGB. Belum lagi respon PDIP. Rasanya sulit dibayangkan PDIP bisa terima TGB.

Disinilah dilema yang harus dihadapi TGB. Tak mudah membuat keputusan. Antara istana dan umat. Belum lagi isu KPK.

Purwokerto, 21/6/2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.