ITB KAMPUS RADIKAL

0
504
Radhar Tribaskoro

ITB KAMPUS RADIKAL

Oleh Radhar Tribaskoro

Tahun 1980an ketika saya menggeluti dunia kemahasiswaan di ITB tidak ada yang menjuluki ITB sebagai kampus radikal. Padahal belum lama, tahun 1978, kampus itu diserbu dan diduduki oleh tentara. Pemerintah Orde Baru tidak suka kepada mahasiswa ITB yang mengumumkan penolakan atas pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden. Penyerbuan itu memicu penyerbuan atas kampus-kampus lain. Tahun 1978 itu saya masih siswa SMA XI Bulungan, ikut diserbu juga karena mengadakan demo solidaritas untuk mahasiswa ITB. Kepala sekolah, guru dan beberapa pengurus OSIS kena popor. Lumayan chaos juga waktu itu.

Walau begitu tidak ada orang bilang kampus ITB adalah kampus radikal. Padahal, kritik-kritik mahasiswa ITB yang tercantum dalam Buku Putih Mahasiswa ITB (salah satu penulisnya RIzal Ramli) menurut saya cukup radikal. Buku Putih itu menyoal dwifungsi ABRI, mafia berkeley, mafia bisnis jepang, termasuk first lady teen percent. Semua masalah itu masih menggema bahkan sampai saat ini.

Jadi darimana muncul radikalisme yang dituduhkan oleh pemerintah itu?

Saya kebetulan menjadi bagian dari satu periode panjang gerakan mahasiswa yang merentang sejak 1980 s/d 1998. Saya akan coba menelusuri sejak kapan dan dalam cara bagaimana radikalisme dikatakan menyusupi ITB.

Pada masa itu gerakan mahasiswa terlarang. Organisasi mahasiswa seperti Dewan Mahasiswa (lembaga eksekutif) dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (lembaga legislatif) dibubarkan. Pemerintah beralasan kok ada lembaga eksekutif dan legislatif segala, memangnya mahasiswa mau bikin “negara dalam negara.” Saya ingat kami, mahasiswa yang tergabung dalam Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan (PSIK) – sebuah unit kegiatan di ITB, ketawa bareng membaca argumen itu. Mana ada negara luasnya cuma sebatas jalan ganesha. DM-MPM itu emangnya mengurus apaan?

Hehehe… jadi jangan terlalu terkesiap, pemerintah itu sejak dulu suka memproduksi argumen konyol.😂😅

Mahasiswa dilarang berpolitik praktis oleh Mendikbud Daoed Yoesoef, kalau mau berpolitik dalam bentuk kajian saja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.