Fahri: Pendukung Presiden Banyak yang Ekstrimis dan Radikal

PRIBUMINEWS.CO.ID – Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah menyebut pendukung presiden banyak yang ekstremis dan radikal. “Pendukung presiden banyak yang ekstremis, radikal dan fundamentalis….(https://twitter.com/fahrihamzah/status/1014574810326708224?s=21). Pertama, kaum ekstremis dan radikal ini mengklaim Pancasila punya mereka.

‘Saya Pancasila kamu anti Pancasila’. Demikianlah jargonnya. Dibuat kaum fundamentalis untuk menyerang anak bangsa. Korbannya banyak, termasuk ulama pengkaji Pancasila dan dosen Pancasila,” katanya, Kamis, 5 Juli 2018, di akun Twitter pribadi miliknya.

Menurutnya, narasi ideologis dibuat oleh kaum radikal fundamentalis ini, dibuat hanya untuk satu kepentingan; memudahkan untuk melumpuhkan lawan. “Siapa yang mencoba melakukan kritik akan diserang dengan label anti ideologi negara. Demikiankah operasinya.”

Maka yang banyak kena menurut dia adalah  kelompok yang sejak lahirnya Republik ini menjadi elemen kritis dalam negara. Ulama, ormas, kampus, media, partai Islam, dan lain-lain.

“Kaum radikal ini sukses menunggangi presiden untuk melakukan stigmatisasi bahkan persekusi kepada lawan.

Dan akhirnya demikian, ulama ‘anti Pancasila’ sudah kena serang semuanya.”

Pun ormas diancam dan dibubarkan dengan mudahnya. Parpol oposisi kena label mendukung kelompok anti Pancasila. “Dan kampus…..babak belur…rektor, dosen dan mahasiswa ditekuk. Lumat!”

Kampus kita menurut dia dalam tragedi. Para rektor dikumpulkan oleh menteri. “Lalu disuruh mengumumkan #KampusPancasila sebagai lawan ‘Kampus Anti Pancasila’ atau mereka memakai kata ‘kampus radikal tempat bibit-bibit teroris berkembang’. Bapak rektor mati kuti.”

Sekarang ia menilai kritik dilarang masuk kampus. Penceramah tertentu dilarang menyampaikan pikirannya di hadapan mahasiswa dan Civitas akademika.

“Rektor bisa kena damprat kalau membolehkan PENG-kritik pemerintah diundang dan berceramah. Terjadilah piramida penganiayaan.

Kaum radikal fundamentalis dan ekstremis ini membisikkan presiden, lalu presiden menekan menteri, menteri menekan rektor, rektor menekan dosen, dosen menekan mahasiswa. Maka tidurlah gerakan mahasiswa.” Kampus pun menurutnya bisa menjadi senyap tanpa suara.

“Semalam saya mendengar kabar bahwa seorang dosen senior UI dipanggil oleh majelis wali amanah gara-gara mengundang bang @RamliRizal untuk diskusi. Mereka mempersoalkan penggunaan lambang makara.

Karena sang dosen memang bagian dari alumni. Teman-teman Alumni UI yang berserikat dan membentuk organisasi alumni dan sudah mendapat pengesahan @Kemenkumham_RI dibubarkan karena memakai lambang makara UI padahal bimbingan belajar, warung fotokopi, dan lain-lain bisa pakai. Ini alasan karena sering kritik. Dan diskusi.”

Kaum radikal dan fundamentalis itu kinipun menurut Fahri puas karena pengendalian melalui naratif “saya Pancasila dan kamu anti Pancasila” ini sukses. Ada rasa takut dituduh “anti Pancasila” apabila melakukan apapun yang bertentangan alur negara.

“Jadilah semua diam. Silahkan dilanjutkan, Sebab rasanya semua juga merasa bahwa keberadaan kelompok radikal di sekitar kekuasaan memang mengganggu kita semua.” RI