GNEM Ingatkan Pemerintah dengan Munculnya Gasolin Godfather Ke Ruang Publik

0
76

PRIBUMINEWS.CO.ID – Pada acara Kuliah Umum Angkatan Ke-2 Akademi Bela Negara Partai NasDem, 16 Juli lalu, ada kehadiran seorang undangan saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan kuliah umumnya. Dia adalah Muchammad Raza Chalid (MRC), yang saat masih mengendalikan Pertamina Energy Trading Limited (Petral) dalam penguasaan perusahaan Gold Manor pengganti Global Energy Resources milik MRC sebagai pemasok crude oil ke Pertamina Energy Services (PES).

MRC adalah sahabat Rosano Barack ipar Surya Paloh dan bersahabat dengan Surya Paloh, Ketua Umum Partai NasDem, sejak di Bimantara Grup di era Presiden Suharto. Sehingga tidak masalah di acara tersebut Surya Paloh mengundang MRC dan hadir, seorang yang oleh publik sangat dikenal dengan sebutan “mafia minyak dan gas bumi (migas)” karena sejak kasus Papah Minta Saham meski berulang kali mangkir dipanggil Penyidik Kejaksaan Agung tapi tak terbukti ada alat bukti yang oleh Mahkamah Konstitusi (MK) diputuskan untuk tidak dilanjutkan.

Namun suasana kebatinan masyarakat menurut Koordinator Eksekutif Gerakan Nasionalisasi Energi dan Mineral (GNEM) Muslim Arbi sangatlah mengusik rasa keadilan yang terlalu dalam.

Benar jika MRC yang dikalangan istana dan di Cikeas di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dikenal dengan panggilan Pak Much tidak atau belum ada masalah hukum yang menjeratnya.

Namun ditahun 2012 atas kelihaian MRC tataniaga Petral yang anak perusahaan PT Pertamina (Persero) justru bisa dikendalikan MRC menjadi lebih berkuasa dan strategis ketimbang Pertamina sebagai induknya, dengan Petral mengontrol 60 persen impor bahan bakar minyak (BBM) memenuhi kebutuhan dalam negeri Indonesia. “Artinya Petral mengelola 60 persen pengeluaran Pertamina” ungkap Muslim Arbi yang juga Koordinator Eksekutif Gerakan Aliansi Laskar Anti Korupsi (GALAK) dalam rilisnya kepada pers (23/7/2018).

Kata Muslim anak perusahaan yang berkedudukan di Singapura sebenarnya tidak punya aset namun bisa mengendalikan 60 persen operasional Pertamina. “Di tahun 2012 saja Petral tinggal duduk enak di belakang meja di Singapura, proyek senilai sekitar Rp 245 trilyun datang menghampiri karena Indonesia membutuhkan impor saat tahun itu sekitar 400 ribu barel perhari (bph). Itulah sosok Petral yang telah menggerogoti Pertamina tanpa kontribusi sama sekali” ungkap Muslim geram.

Belum lagi imbuhnya, Petral juga menikmati bisnis pelayaran yang ditahun 2012 membutuhkan 599 kapal tanker lalu bisnis asuransi, bisnis jasa freight forwading, LC perbankan dan lainnya sebagai bentuk multiplier effect yang dinikmati oleh trader yang umumnya menggunakan kapal, asuransi, LC bank dan lainnya dari asing.

Komandan GNEM Binsar Effendi Hutabarat menerangkan jika sejak 1994 saat Presiden Suharto membangun kilang minyak hydrocracker di Balikpapan, Balongan, Cilacap dan Dumai, sampai saat ini sela Binsar Effendi yang juga Panglima Gerakan Spirit ’66 Bangkit (GS66B) tidak pernah ada yang dibangun lagi, sementara Indonesia makin dituntut banyak impor BBM.

Jika tahun 2025 nanti, tutur Binsar Effendi yang juga Ketua Dewan Penasehat Laskar Merah Putih (LMP), konsumsi BBM Indonesia bertambah sekitar 2,2 juta barel ditengah kapasitas kilang minyak Pertamina tidak pernah bertambah, maka Indonesia membutuhkan 1,4 juta barel impor BBM.

“Oleh Presiden Jokowi yang namanya Petral sudah dibubarkan, lalu Presiden Jokowi membangun kilang minyak dengan cara membangun kilang baru di Tuban sekitar 300 ribu barel, up grading Refinery Development Master Plan (RDMP) di Cilacap, Balongan, Dumai dan Balikpapan. Sehingga pada tahun 2025 diperkirakan Pertamina akan memproduksi 2,2 juta barel yang standarnya juga berstandar Euro 5, tentu harus dikawal terus oleh masyarakat sebagai konsumen BBM”, ujar Binsar Effendi tegas.

Dengan demikian kendati pernyataan Jaksa Agung HM Prasetyo yang asal dari Partai NasDem bahwa kasus Papah Minta Saham sudah selesai, namun bagi publik yang namanya MRC pemilik Kidzania yang dekat dengan mantan Menko Perekonomian Hatta Rajasa di era Presiden SBY, bagaimanapun dipolesnya, sebagian besar masyarakat tetap menyebutnya geng ‘mafia migas’. Pihak GENM mengingatkan Pemerintah untuk tidak lengah dengan keberadaan MRC kembali ke Indonesia.

“Kami ingatkan kepada Pemerintah agar mewaspadai kehadiran kembali Reza Chalid, jangan sampai mafia migas yang sedang diperangi marak lagi. Kewaspadaan Pertamina juga sangat diperlukan sebab sebagai Gasolin Godfather sangat licin untuk kembali mengendalikan impor BBM” pungkas Komandan GNEM Binsar Effendi. |ATA/PRB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.