PRABOWO MEMANG JENDERAL KARDUS

PRABOWO MEMANG JENDERAL KARDUS

OLEH Tb Ardi Januar

Sejak semalam istilah kardus sedang ramai diperbincangkan. Massif di judul berita dan trending topic di sosial media. Semua itu bermula dari cuitan Andi Arief yang menyebut Prabowo sebagai “Jenderal Kardus”.

Sebelum saya menulis lebih jauh, kita semua harus meluruskan isi kepala dulu tentang istilah kardus. Kardus bukanlah kata sifat yang negatif, melainkan kata benda yang positif. Kardus bukanlah sesuatu yang membahayakan dan menakutkan. Sebaliknya, kardus kerap membawa manfaat dalam kehidupan.

Bagi orang miskin dan tunawisma, kardus adalah atap rumah dan tempat tidur mereka. Bagi anak ayam dan anak kelinci, kardus adalah tempat penyelamat agar hidup tetap hangat. Bagi minuman kaleng, kardus adalah tempat agar barisan tertata rapi dan terukur.

Bagi bahan mudah terbakar, kardus adalah pelindung dari sengatan matahari. Bagi barang berbau, kardus adalah pencegah aroma agar tidak menyengat. Bagi souvenir, kardus adalah cover atau tampilan agar terlihat indah. Dan masih banyak lagi manfaat dari benda yang bernama kardus.

Seperti itulah Prabowo menjalani hidup. Dia kerap menjadi pelindung bagi banyak orang, penyelamat masa depan banyak orang, komandan pengatur barisan perjuangan dan martir dalam mempertahankan kedaulatan. Dia selalu menempatkan kepentingan orang banyak di atas urusan pribadi. Prabowo bukan hanya lilin yang rela terbakar demi secercah cahaya, tetapi juga kardus yang kerap melindungi dari ancaman bahaya.

Karena itu, saya sama sekali tidak tersinggung dengan cuitan Andi Arief yang menyatakan Prabowo sebagai jenderal kardus. Hanya saja, saya tersinggung dengan pernyataan dia yang menuding Prabowo lebih menghargai uang ketimbang perjuangan. Itu adalah tuduhan yang tidak cerdas dan fitnah yang kampungan.

Kalau Prabowo mengutamakan uang, buat apa dia habis-habisan untuk Sudrajat di Jawa Barat? Untuk apa dia mati-matian membantu Sudirman Said di Jawa Tengah? Buat apa juga Prabowo keluar berangkas saat memperjuangkan Anies Baswedan di Jakarta? Dan masih banyak lagi para kontestan pilkada yang sudah dibantu Prabowo bukan hanya melalui surat rekomendasi, tetapi juga bantuan materi.

Andi Arief mungkin tidak tahu kalau Prabowo setiap bulan harus mengeluarkan uang untuk membiayai kuliah ratusan mahasiswa. Andi Arief mungking tidak tahu kalau Prabowo setiap saat mengumpulkan anak muda dari berbagai daerah dan mendidiknya di Hambalang. Prabowo mengcover semua biaya kebutuhannya.

Bahkan, saat semalam saya membaca cuitan Andi Arief, saya sedang berkumpul dengan puluhan atlet pencak silat yang akan berlaga di Asian Games nanti. Mereka semua adalah saksi hidup bagaimana ikhtiar Prabowo dalam memperhatikan para pendekar bangsa.

Bonus yang diberikan, fasilitas latihan hingga kebutuhan para atlet untuk mengikuti serangkaian kejuaraan kerap dikeluarkan Prabowo dari kocek pribadi. Harapannya cuma satu, Prabowo ingin pencak silat mendunia dan menjadi budaya yang digemari di banyak negara. Mungkin Andi Arief belum mengetahui itu.

Jangan-jangan, Andi Arief juga belum mengetahui siapa yang menyelamatkan dia dari peristiwa penculikan para aktivis pada zaman dahulu kala.

Soal Pilpres saya tidak mau ambil pusing dan tidak punya wewenang untuk berbicara siapa pendamping Prabowo dan siapa mitra koalisinya. Saya hanya fokus memilih imam dan tidak peduli siapa yang adzan dan yang qomat. Saya hanya fokus berjuang memilih sopir untuk mencapai tujuan dengan selamat dan tidak peduli siapa kondekturnya.

Artinya, saya hanya fokus berjuang untuk Prabowo dan tidak mau pusing siapa wakilnya.

#2019PrabowoPresiden