#CoinGantiPresiden

Dua Pasangan dalam Pilpres 2019 yang akan digelar 17 Aprl 2019

OLEH Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Capres-cawapres sudah didaftarkan ke KPU. Prabowo vs Jokowi. Head to head. Rematch 2014. Suka tidak suka, itulah takdirnya. Dua hidangan politik yang harus dipilih salah satunya.

Dari dua paslon, siapa yang lebih kuat? Prabowo-Sandi, atau Jokowi-Ma’ruf Amin? Setidaknya, ada empat variable untuk melihat kekuatan politik Paslon presiden dan wakil presiden.

Pertama, faktor tokoh. Prabowo-Sandi vs Jokowi-Ma’ruf Amin. Prabowo dan Jokowi tokoh lama. Rakyat sama-sama tahu. Bedanya, Prabowo tak punya panggung. Sehingga, tak banyak yang bisa diperbuat untuk branding. Jokowi punya panggung kekuasaan. Satu sisi, Jokowi bisa “jualan” prestasi kerja. Terutama pembangunan infrastruktur jalan tol dan pelabuhan. Tapi, kelemahannya juga gak sedikit. Soal hutang luar negeri, rupiah melemah, pencabutan subsidi, buruknya komunikasi politik sehingga merebak isu kriminalisasi, maraknya pekerja aseng dan 66 janji yang tak sepenuhnya bisa dipenuhi bisa jadi sasaran tembak.

Soal tokoh, akan lebih ditentukan oleh cawapres masing-masing. Peran Sandiaga Uno dan Ma’ruf Amin diprediksi besar kontribusinya sebagai penentu kemenangan.

Kedua, mesin politik. Di kubu Prabowo ada PKS yang dikenal efektif mesin politiknya. Militan dan ideologis. Di kubu Jokowi ada PDIP. Mesin politik PDIP juga sangat rapi dan disiplin dalam bergerak. Partai yang lain? Besarnya logistik yang disiapkan diprediksi tak sebesar hasil yang diharapkan.

Ketiga, isu keumatan. Ini variable baru dan bersifat temporer. Lebih karena faktor Ahok effect. Tak permanen. Sebagian orang menganggapnya sebagai isu SARA. Kendati tak sesimple itu untuk menjelaskan dinamika politik keumatan. Ada faktor hukum yang menjadi variable penting, bahkan utama, yang menjadi sumber lahirnya narasi politik keumatan ini.

Jika isu keumatan semula berpihak kepada Prabowo, kini mulai bergeser. Munculnya Ma’ruf Amin dengan identitasnya sebagai ketua MUI dan Rais Am PBNU, ikut mengambil bagian pemilih dari keumatan.

Cak Imin menggunakan narasi santri untuk menggiring umat ke Ma’ruf Amin. Sejauhmana pengaruh Ma’ruf Amin?

Bergantung juga pada peran dan operasi aktivis 212 menempelkan umat ke Prabowo-Sandi. Yang mungkin bisa efektif dilakukan tim Prabowo-Sandi untuk menjaga umat ini adalah tetap merawat narasi kampanye ABJ (Asal Bukan Jokowi), dan #2019TetapGantiPresiden.

Dua narasi di atas akan efektif jika terus dijaga dan digaungkan. Deklarasi 2019GantiPresiden terbukti efektif men down grade suara Jokowi. Hanya peran Ma’ruf Amin yang meniliki peluang bisa mengimbanginya.

Keempat, logistik. Ini hal yang tak kalah penting. Malah kadang terpenting ketika tak ada partai yang mampu siapkan logistik. Belum ada yang tau berapa logistik yang disiapkan masing-masing paslon. Yang jelas, incumbent, Presiden Jokowi, lebih berpeluang untuk mengakses biaya kampanye. Wajar, karena sedang berkuasa. Rumornya, ada 16 triliun yang sudah disiapkan. Sementara Prabowo-Sandi?

Rumor yang beredar, Prabowo-Sandi siapkan dana logistik 500 miliar untuk masing-masing partai, termasuk PAN dan PKS. Benarkah? Kalau toh benar, itu hal wajar dan biasa terjadi dalam pilkada dan pilpres. Hanya saja, ada yang dibongkar di media, ada yang tertutup rapi. Jokowi-Ma’ruf Amin juga menyiapkan? Kalau tidak disiapkan, partai bekerja dengan apa?

Heroisme rakyat yang ingin ganti presiden menjadi peluang pasangan Prabowo-Sandi untuk mencari “logistik tambahan” dari rakyat. Caranya? Crowdfunding. Buka donasi

Majlis Pelayan Indonesia (MPI), sebagai pendukung paslon Prabowo-Sandi, sudah mulai buka rekening donasi. Crowdfunding. Melalui tagar #CoinGantiPresiden. Organisasi yang diinisiasi berdirinya oleh K.H. Lutfi Fathullah (Ulama NU), K.H. Fahmi Salim (Ulama Muda Muhammadiyah) dan Ustaz Haikal Hasan (MIUMI) ini bertekad untuk memasifkan gerakan ganti presiden. Dengan #CoinGantiPresiden, MPI berupaya mengobarkan semangat dan heroisme umat dalam kampanye. Jihad bi al-anfus Wa al-amwaal. Istilah yang mereka pakai: saweran umat.

Jika animo rakyat besar untuk saweran, ini bisa jadi faktor potensial menarik simpati dan menaikkan elektabilitas Prabowo-Sandi. Sepertinya, stressing poin #CoinGantiPresiden ini bukan pada seberapa jumlah dana hasil crowdfunding yang akan terkumpul, tapi lebih pada “heroisme perlawanan” dan semangat “menyatukan gelombang emosi” untuk ganti presiden.

#CoinGantiPresiden yang digagas MPI bisa jadi gerakan rakyat (pendukung Prabowo-Sandi) yang pengaruhnya dapat mengancam elelektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin.

Sejauhmana manuver crowdfunding MPI ini mampu memasifkan gerakan ganti presiden? Dan langkah apa yang akan dilakukan Jokowi-Ma’ruf Amin untuk mengimbangi gerakan ini? Kita akan lihat beberapa minggu kedepan. Sekaligus kita tunggu pengaruhnya terhadap hasil survei.

Jakarta, 13/8/2018