MORALITAS PUBLIK YANG TERGORES (CASSANDRA COMPLEX)

Maulidan Isbar (Ketua Gerakan Nasional #KamiBERANIKawula Muda Indonesia Bersama Sandiaga)

Oleh Maulidan Isbar , Ketua Gerakan Nasional #KamiBERANIKawula Muda Indonesia Bersama Sandiaga

Sejarah telah mencatat, setiap pergantian rezim pemerintahan di negri kita tercinta ini selalu saja diwarnai dengan jejak kusam yang ditinggalkan. Pun, dalam menghadapi Pilpres mendatang, jejak itu sudah terbayang ditengah kecamuk pernyataan para elit politik negri yang konon akan menjadikan event Pilpres jadi sebuah festival gagasan, kemeriahan yang menyenangkan jauh dari haru biru caci maki dan provokasi.

Namun, lacur!! Festival Gagasan belum nampak bayangannya, malah introduksinya sudah diisi oleh saling serang antar lawan,saling sudutkan, bak dua pihak yang sedang berseteru bukan sedang bersekutu mewujudkan politik era baru, perpolitikan Indonesia berparas ayu. Ekposisi ini telah membentuk rissing action yang bisa diprediksi akan memunculkan konflik yang semakin menajam menuju puncaknya menjelang tanggal 17 April 2019 nanti. Komitmen para elit yang dengan congkaknya memproklamirkan diri untuk menjaga keutuhan NKRI tidak dibarengi dengan laku terpuji pada saat implementasi. Jagat pertiwi akan dipenuhi caci maki, saling korek aib diri, saling memojokan, jauh dari laku teladan.

Kondisi ini akan menjalar ke pelosok negri, anak bangsa akan terpecah menjadi 2 kubu yang saling incar titik lemah lawan, bukan berlomba untuk pintar mengemas gagasan. Jika benar, maka festival gagasan hanya omong kosong, yang disuguhkan para elit jauh panggang dari api. Inilah laku tidak elok yang diwariskan kepada kami, kaum milenial yang menjadi harapan masa depan.

Saya harus setuju dengan pendapat Sekjen Partai Demokrat, Hinca Panjaitan; ini semua karena dosa konstitusi, terutama mereka para anggota dewan yang terhormat yang telah melahirkanPresidential Treshold 20%.

Rakyat kita yang belum bersatu akibat Pilpres 2014, semakin terbelah, telah semakin menyuburkan berkembang-biaknya kecebong dan kampret. Akibat Presidential Threshold 20% biang kerok terjadinya pengulangan rivalitas head to head antara Jokowi vs Prabowo. Fraksi DPR pendukung Presidential Threshold pasti tidak suka disebut sekumpulan orang pandir yang hanya pandai bersilat lidah, membodohi konstitusi hanya untuk kepentingan kelompok dan abai pada usaha menjaga keutuhan bangsa.

Cerita Prof. Mahfud MD dalam acara ILC tadi malam bagai cerita nudis, telanjang, apa adanya, secara deskripsi mengisahkan bagaimana dia harus melewati hari demi hari menegangkan, adanya persekongkolan istana, manuver Ketua PBNU yang tidak mengakuinya sebagai kader, padahal sejak lahir Mahfud MD sudah berada di pusarannya. Klimaksnya adalah pengakuan ketidak-berdayaan seorang Jokowi atas tekanan partai koalisinya, ditambah menurut Lukman Edi (PKB); turunnya wahyu, bahwa Jokowi harus memilih Prof. KH Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya..

Sekalipun demikian, dengan raut wajah tenang dan sejuk Mahfud MD menyatakan tidak merasa terhina, tidak merasa dibobodohi, tidak merasa di-PHP. Dan itu diperkuat oleh pernyataan Masinton (PDIP) bahwa Mahfud MD legowo menerima kenyataan tidak jadi dipilih Jokowi sebagai Cawapres sekalipun sudah mengikuti sesi ukur baju.

Rocky Gerung selama penampilan di ILC, dengan gayanya yang dramatis bak seorang pemain teater; kali ini tampil beda, argumennya kelewat berani, membuat panas kuping dan merah muka ke 4 narasumber perwakilan partai pengusung Jokowi. Ia beranggapan bahwa perlakuan Jokowi dan partai koalisinya kepada Mahfud MD telah melahirkan luka kolektif, perasaan banyak orang tergores akibat Cassandra Complex yang dipertontonkan para elit kepada seluruh rakyat Indonesia.

Seorang cendekiawan yang telah malang melintang, berdedikasi kepada pertiwi, seorang profesor, dihina direndahkan.

Terus apa yang akan diperlakukan kepada rakyat jelata yang tidak menyandang segala reputasi terhormat seperti Mahfud MD…?!

Bogor, 15 Agustus 2019

Comments

comments