Kalau Saya Jadi Denny JA, Saya Juga Utamakan Duit

Asyari Usman, wartawan senior

By Asyari Usman

Ada satu hal yang mungkin belum dipahami betul oleh publik perihal hasil suvei LSI Denny JA. Bahwa lembaga Lembaga survei itu biaya operasonalnya sangat besar. Apatah lagi si pemilik sudah menargetkan pendapatan pribadi sekian belas miliar setahun atau bahkan lebih.

Nah, personalitas surveyor sekelas Denny JA, Anda pahamlah. Dia ‘kan harus berkantor, berumah, berkendaraan, berpakaian, bersepatu, bergadget, berdinner, berhotel, berpesawat, berkartu bank, bertempat libur, berarloji, bertas tangan sendiri, bertas tangan istri, berkoper, bertempat belanja, dll, yang kelasnya harus tinggi. Nah, ini semua memerlukan biaya besar. Betul apa betul?

Bisakah Anda tebak berapa banyak keperluan Pak Denny? Kalau saya, melihat daftar pengeluaran di atas, memperkirakan belanja tahunan beliau bisa mencapai angka tujuh digit dalam US$. Coba saja Anda elaborasi satu-satu pos pengeluaran yang saya sebutkan itu.

Kita uraikan saja beberapa. Rumah pribadi tak mungkin satu saja. Bisa jadi dua atau lebih. Lokasi rumah-rumah itu pun tentunya tidak boleh di kelas bawah. Lain lagi ada tren untuk punya aprtemen mewah di blok papan atas. Nah, berapa biaya harian untuk rumah-rumah itu? Listrik, air, iuran kebersihan dan keamanan, perawatan, PRT (house maid), dlsb.

Kemudian kendaraan. Mana mungkin mobil yang itu-itu saja dipakai untuk menjumpai klien-klien penting. Pastilah harus berganta-ganti. Ini soal prestis dan kredibilitas. Merek dan kelas mobil pun tidak sembarangan. Tak mungkinlah pakai Innova walaupun kelas terbaru. Haruslah Alphard. Plus Mercedes dan Fortuner. Udah berap ini pajak dan biaya hariannya?

Tiket pesawat. Masa iya Pak Denny duduk di kelas ekonomi seperti saya? Direktur atau CEO lembaga survei bergengsi tak layaklah berdesak-desakan di kelas belakang. Tempat duduk sempit leg-roomnya pas-pasan. Yang benar ‘aja, Bung!

Terus, hotel. Yang jelas, bintang tiga tak masuk hitungan. At least bintang empat, kalau bukan bintang lima. Sebab, bintang tiga ‘kan alamatnya pasti di jalan-jalan non-protokol. Apalagi kalau ada appointment dengan para petinggi atau orang-orang penting.

Setelah itu pakaian. Kemeja dan celana paling rendah belanjaan Singapura atau Hong Kong. International brand. Sepatu juga tidak mungkin buatan lokal. Pasti ketahuan kalau berhadapan dengan orang-orang yang tahu merek-merek atas.

Koper. Ini pun tak bisa dianggap sepele. Karena sewaktu Pak Denny mondar-mandir di berbagai bandara besar domestik dan internasional, merek koper dan usianya tak bisa seperti saya memakai koper. Saya punya tak bermerek dan sudah lama pula lagi. Kalau Pak Denny pastilah harus Samaonite paling minim. Dipakai enam bulan saja.

Arloji. Yang ini lagi; jam tangan. sangat penting. Karena setiap berhadapan dengan tamu atau bertamu, gerakan-gerakan tangan harus lincah. Tak boleh tersendat gara-gara arloji murahan. Kalau terlalu boros merek Rolex, setidaknya salah satu brand buatan Swiss-lah.

Bagaimana dengan kartu bank? Ini lagi! Sangat menentukan kelas. Yang rata-rata selalu American Express, Citibank, atau Stanchart. Kalau pun kartu bank lokal, pastilah yang berlimit top-range. Yang tertinggi. Platinum, Gold, entah apa lagi!

Capek ‘kan Anda menyimaknya? Nah, itulah biaya operasional pribadi Pak Denny. Tak bisa saya uraikan berbagai pengeluaran lain.

Kita belum lagi bicara biaya operasional kantor LSI Denny JA. Walaupun di daerah Rawamangun, yang namanya biya kantor di Jakarta tidak ada yang masih bisa disebut murah. Pasti miliaran rupiah per tahun, walaupun bukan di kawasan Thamrin, Sudirman, atau Mega Kuningan. Gaji pegawai berapa? Seridaknya 7 juta rata-rata satu pegawai.

Kurang tahu berapa jumlah pegawai LSI Denny JA. Kalau misalnya ada 15 pegawai, berarti hampir 100 juta sebulan. Kalau setahun menjadi lebih 1 miliaran. Sewa kantor? Aksesorinya? Alat-alat kerja, dsb. Boleh jadi Pak Denny perlu 2-3 miliar untuk biaya bisnis mereka.

Nah, itulah sebabnya Pak Denny sempat agak “nyombong” ketika para pengkritik menuduh beliau dapat proyek tiga juta dollar. Beliau mencibiri nilai proyek sebesar itu. Dalam arti, proyek US$3juta (43 miliar rupiah) tidak ada apa-apanya bagi LSI.

Intinya, biaya operasional LSI dan biaya pribadi direkturnya “tak nyambung” kalau cuma segitu.

Karena itu, wajarlah kalau Pak Denny JA akan selalu mengutamakan kuantitas (nilai proyek) ketimbang kualitas (hasil survei). Artinya, hasil survei akan selalu bisa diselaraskan dengan pembicaraan di belakang layar dengan pemesan.

Saya membaca kritikan mbak Iramawati Oemar, Bung Azwar Siregar, Mas Bayla Nur, dll. Mereka bertiga ini cukup seram menyoroti hasil survei LSI tentang elektabilitas paslon Koruf (Jokowi-Ma’ruf Amin) dan paslon PADi (Prabowo-Sandi). Mbak Iramawati dan Bung Azwar langsung mengobrak-abrik kredibilitas Pak Denny JA.

Saya singgung sedikit penilaian Mas Bayla Nur tentang keanehan survei LSI yang menjadikan perihal sholat (ibadah) sebagai kategorisasi kuesioner yang disodorkan kepada responden. Di kategori ini disimpulkan bahwa pemilih Koruf banyak orang Islam yang rajin beribadah karena mereka sholat, paling tidak sekali sehari. Mas Bayla “menertawakan” sebutan rajin beribadah yang diukur dari sholat sekali sehari.

Kemudian ada lagi kesimpulan bahwa sebagian besar warga NU dan Muhammadiyah memilih Koruf sedangkan PADi hanya kuat di kalangan PA-212. Bagi saya, kesimpulan ini tidak mengherankan. Sebab, survei ini bukan Pak Prabowo yang memesannya. Logikanya, untuk apa saya senangkan perasaan Prabowo? Dari beliau ini cuma segini kok beraninya.

Pastilah saya harus meyakinkan pemesan atau calon pemesan yang saya duga akan bersedia membayar lebih tinggi lagi. Saya simpulkan banwa lawan mereka akan kalah. Dengan begini, pemesan atau calon pemesan menjadi bergairah untuk meneken proyek survei.

So, kawan-kawan, dari mana pun Anda berdiri melihat LSI, dan sangat mungkin juga lembaga-lembaga survei lainnya, pastilah duit akan menjadi kepingan mosaik yang terpenting. Saya tak malu-malu mengatakan bahwa kalau saya berada di posisi Denny JA, saya pun akan melakukan hal yang sama.

Saya perlu menegaskan ini supaya Pak Denny mendapatkan dukungan morale (moril) di tengah gelombang tudingan tak sedap dari para pengkrtik. Saya hanya ingin meyakinkan Pak Denny bahwa motivasi duit dalam melakukan survei-survei elektabilitas bukanlah aib. ‘Kan benar Pak Denny mencari duit lewat LSI. Iya ‘kan? Menurut hemat saya, Pak Denny tak perlu menjawab “guyon 1”, “guyon 2”, dst.

Jadi, mulai sekarang Pak Denny tak usah ragu-ragu mengatakan: “Iya, hasil survei saya tergantung bayarannya. Anda mau apa?”

Ayo, jangan surut Pak Denny. Mereka yang mengkritik itu ‘kan belum tahu nikmatnya duit dari proyek survei elektabilitas.