Heydi Ibrahim Powerslaves: Rock N Roll Musik Pemberontak

Heydi Ibrahim/ Foto : Ist

Rock and roll bukan saja mempengaruhi gaya bermusik, tetapi sekaligus juga gaya hidup, gaya berpakaian, dan bahasa. Rock n roll di anggap sebuah musik yang membawa suara kebebasan dan jiwa pemberontakan. Itu sebab musik rock menjadi inspirasi bagi kalangan muda yang sejalan dengan emosi jiwa yang penuh dengan gejolak dan keinginan.

Apa yang tersirat dibenak anda tatkala membayangkan sebuah genre beraliran rock. Urakan, slengean(nyeleneh), gondrong,bertato,keras dan penuh kebebasan.Rock and roll (sering ditulis sebagai rock ‘n’ roll) adalah genre musik yang berkembang di Amerika Serikat pada akhir tahun 1940-an, dan mencapai puncak kepopuleran pada awal tahun 1950-an. Dari Amerika Serikat, genre musik ini tersebar ke seluruh dunia. Rock and roll melahirkan berbagai macam subgenre yang secara keseluruhan dikenal sebagai musik rock.

Heydi Ibrahim ,rocker multi talenta /Foto : Ist

Gambaran sosok itu ternyata tak jauh dengan kehidupan seorang vokalis rock dari grup band Powerslaves yang sudah 27 tahun malang melintang dijagat musik tanah air. Dalam kancah musik rock tanah air,grup band rock Powerslaves terbilang salah satu grup rock papan atas yang cukup dikenal dan salah satu grup yang masih tetap eksis dan cukup padat jadwal shownya di tahun 2018 ini. Powerslaves salah satu grup yang karya lagunya banyak disukai penikmat musik Indonesia.

Powerslaves menjadi salah satu contoh band yang paling tahan banting dan mampu melewati berbagai pasang surut dengan momen kebahagian dan kesedihan. Mereka juga telah mengajarkan tentang arti kebersamaan, saling menghargai dan kerja keras kepada para pelaku musik rock di Tanah Air.

Adalah seorang Heydi Ibrahim, pria kelahiran Solo, 22 Maret 1970 jarang sekali merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan tampilan dan bermusik dengan sebuah perencanaan khusus atau dikonsep. Bila tiba tiba tercetus dalam hati kecil dan pikirannya bisa tiba tiba itu dilakukannya. Heydi tipekal orang yang spontanitasnya besar dan apa adanya.

Tahu Powerslaves otomatis mengenal sosok Heydi Ibrahim, Heydi adalah vokalis Powerslaves, satu di antara vokalis rock Indonesia yang mempunyai suara berkarakter dan sangat memukau. Suara Heydi selain bervibrasi juga memiliki resonansi bagus, bisa pergi dari bass ke tenor yang tinggi dengan mudah, membuatnya salah satu penyanyi rock paling fleksibel mengatur suaranya.

Diatas panggung Heydi pun cukup atraktif dan komunikatif menyapa slaver (red ; sebutan penggemar fanatik powerslaves). Tak jarang dalam aksi panggungnya penonton terhipnotis dan larut bernyanyi bersama. Selain jago mengolah vokal dalam bernyanyi, Heydi juga memiliki talenta melukis.

Heydi bak magnit dalam grup band Powerslaves.Lantunan suara Heydi  mampu mengangkat puluhan tembang hits powerslaves seperti karya lagu, Sisa, Find Our Love Again,Impian, Kau dan Aku,Bayang, Kutunggu, Jika Kau Mengerti, Jangan Kau Mati, dari beberapa album yang dimiliki sejak masuk label recording di era 90an.

Di akui Heydi, selama ini apa yang dilakoni di atas panggung kadang bisa terjadi begitu saja, tanpa dipikir di awal.”Kalaupun saya harus mati di atas panggung, Saya akan lakoni bila takdir berkata demikian,”ungkap Pemilik nama asli Prahoro Prijo Utomo Martadi alias Heydi Ibrahim.

Itu juga terjadi kala ia manggung di Magelang, di pertengahan tahun 1992. Menunggu jadwal manggung di urutan ke 27, sesaat sebelum tampil ia menceburkan diri dengan pakaian lengkap kekolam renang Hotel Trio tempat ia bermalam kala itu, hingga basah seluruhnya. Kemudian ia tampil hanya mengenakan kolor agar terlihat sensasional lain dari pada yang lain.

“Bila ingin menjadi seorang rocker sejati dan berani tirulah idolamu Axl Rose, biangnya sensasi.”papar Heydi sambil tertawa menceritakan  kejadian masa lalu tatkala mendapat tantangan dari seorang sahabat wartawan untuk tampil berbeda dari yang lain membawakan lagu ‘Welcome to Jungle -Guns N Roses’. Dari situ pula ia dikenal julukan Axl rose Njowo karena kemampuan vokalnya yang mirip dengan apa yang di punyai seorang penyanyi legend Axl Rose vokalis grup rock terkenal asal Amerika Serikat Guns and Roses.

Selama ini apa yang dilakoni di atas panggung kadang bisa terjadi begitu saja, tanpa dipikir di awal. “Semuanya terjadi begitu saja, baik dalam bernyanyi, beratraksi di stage panggung juga kepada fans .Pantangan menjaga suara juga Saya tidak ada pantangan.Mungkin merokok saya sudah berhenti karena faktor usia juga hehehe, “ ujar Heydi yang gemar memelihara burung dan penyuka binatang.

Hubungan Heydi dengan fans tak beda hubungan ayah dan anak. Mengalir saja, Heydi adalah sosok apa adanya dalam pengertian tidak pernah mengada ada. Ia tidak pernah peduli pendapat orang lain tentang dirinya. Dengan kata lain ia tidak terlalu memikirkan hal hal yang berpengaruh banyak bagi dirinya. “ Saya adalah Saya, dan Saya ingin menjadi diri Saya.Entah pendapat orang lain, mau terima monggo tidak pun tak masalah-No heart feeling,” ujar Heydi menegaskan.

Bahkan lagu find our love again ternyata recording yang dibuat, dinaikan satu step oleh Anwar Fatahillah.  Sebegitu cueknya ia bernyanyi baru di ketahuinya selama 23 tahun belakangan ini. Dalam arti kata Heydi selalu siap dengan keadaan apapun saat bernyanyi termasuk saat ia sedang terjangkit penyakit  cacar sekalipun ia tetap siap  membawakan 18 lagu dan dijabaninya.

Dalam konsep bermusik dan bernyanyi baginya yang utama adalah  kejujuran dan apa adanya. Mengalir sendiri tanpa hal hal yang akhirnya memberatkan dirinya agar lebih leluasa dalam tampilan dan berkarir. Di akui Heydi saat usia beranjak tidak lagi muda dan tidak lagi mampu pada nada tinggi. Alternatif yang dilakukan dalam bernyanyi   disesuaikan dengan suara falset. Dengan suara falset yang saat ini sering di tampilkan malah itu di akui orang menjadi sebuah iconik.

 “Saya tidak pernah mikir akan kualitas vokal saya mau seperti apapun itu. Bagi saya pekerjaan seorang vokalis adalah menempatkan dirinya untuk bisa membawakan lagu yang diminta sebaik- baiknya.Kalo perlu konsekwensi mati di atas panggung Saya lakoni hehehe” papar Heydi berseloroh.

Sering kali  Heydi diminta mengajari seorang anak oleh orang tuanya bernyanyi, dengan bingung ia menjawab harus mengajari apa. Karena ia sendiri tak tahu kenapa ia bisa memiliki talenta bernyanyi. Bernyanyi adalah talenta otodidak yang mengalir saja dilakoni pada dirinya tanpa banyak hambatan.

“ Pernah saat latihan salah satu pemain bilang yuuk ikuti suara penyanyinya.Lantas Saya bilang- tipsnya jangan ikuti vokalis. Karena Saya sadar, Saya orang yang tidak paham notasi bermusik apalagi memainkan alat musik secara pintar.Saya hanya bisa melukis dan merasakan saja.”ujar Heydi.

Menurut Heydi, bernyanyi bersama para player di atas panggung adalah sebuah chemistry.Dimana bernyanyi sendiri yang dilakukannya tidak sebagus saat ada orang yang mengiringinya.

Heydi di atas panggungsaat konser bersama grup bandnya Powerslaves / Foto : Ist

“Entah kenapa bisa gitu, Saya juga tak bisa menjawabnya. Yang jelas saya dengan Anwar di Powerslaves sudah ada chemistry tersendiri. Jangankan melihat dia bermain bas, Anwar membungkuk bawa bas saja Saya jadi lebih pede ingin menjerit bernyanyi,”ujar Heydi, yang merasakan bernyanyi dengan sahabat di PS menjadi lebih lepas dan sudah menyatu.

Ketika orang di atas panggung dipusingkan dengan tampilan, teknikal bahkan urusan sound dan miking (mic), Heydi mengakui tidak pernah kepikir masalah masalah itu dan tidak mau  jadi ribet.

” Crew Saya juga pernah bingung, selama ini saya bernyanyi hanya bermodal sebotol aqua saja kok bisa ya..Kenapa bingung toh, Saya punya suara, Saya punya telinga jadi ga perlu harus pakai monitor suara.” ungkap Heydi Ibrahim menceritakan.

Lolos Program AFS

Heydi Ibrahim adalah sosok gambaran pria sederhana dan sedikit nyeleneh alias rock n roll (red; istilah musik), namun begitu saat dia fokus dalam satu hal maka terlihat Heydi juga cukup smart.Dalam kelas Heydi mengaku bukan tipekal siswa yang cukup berprestasi alias biasa biasa saja. Namun saat ia menginginkan sesuatu dan fokus, ia bisa membuktikan dirinya pun mampu mengukir prestasi.

Jauh saat Heydi masih duduk dibangku sekolah menengah atas ,di rumahnya jalan Manoreh Raya No 41,Sampangan Semarang.Pernah ketempatan seorang pelajar AFS (American Field Service) Intercultural Programs atau Program Antarbudaya AFS dari Australia selama satu tahun . Menurut Heydi, orang hidup sebisa mungkin bisa memiliki wawasan seluas-luasnya, dan salah satu cara untuk itu adalah dengan pergi belajar di negeri orang. Menyadari akan keterbatasan ekonomi karena terlahir dari sebuah keluarga sederhana, dimana ayahnya hanya seorang karyawan bank biasa, sementara ibu hanyalah seorang guru. Maka ia beritikad belajar ke luar negeri lewat jalur AFS.

Heydi merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Merasa pernah ditinggali oleh pelajar Australia , lantas iapun  memberanikan diri mengikuti program AFS. Heydi yang kala itu masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas, kelas dua jurusan IPS akhirnya mengikuti test AFS. Dilalanya ia berhasil tercatat dan lulus mengikuti ujian yang diikuti kurang lebih 6000 peserta yang mendaftar pada ujian tersebut. Dari 6000 peserta  hanya 12 orang yang terpilih dan Heydi satu diantaranya.

“Awalnya papah almarhum tidak mengijinkan saya pergi ke Belanda, Negara yang menjadi pertukaran budaya yang dituju. Karena di beri keyakinan sama mamah, tauk tauk, saat papah  pulang kerja sudah dikasih koper, dan uang saku disiapkan selama tinggal disana.” ungkap Heydi menceritakan pernah tinggal di desa terpencil Gravenzande – 45 menit dari Den Haag. Melalui program pertukaran pelajar dan budaya.Heydi bermukim dinegara kincir angin selama 13 bulan lamanya dan ditempatkan di sekolah SMA Zandevelt Collegia s’- Gravenzande Den Haag. Di Belanda Heydi banyak menggeluti dunia seni rupa karena di akuinya dari kecil Heydi sangat menyukai dunia seni lukis (gambar).

Salah satu hasil karya lukisan pinsil Heydi yang berjudul Arjuno (kiri) dan GatotKoco /Foto : Ist

Bekal budaya yang dibawa Heydi ke Belanda adalah seni pendalangan (red :Dalang) yang disukai dan tertarik sejak ia duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP).Kala itu masyarakat di Belanda sendiri tak tahu banyak tentang Indonesia. “Yang mereka tahu hanya Bali dan presiden pertama Soekarno, selebihnya mereka tak tahu banyak. Saya punya kemampuan mendalang dan itu sempat  membuat heran para pelajar di Belanda,” ungkap Heydi menceritakan.

Dalam waktu 3 bulan di akui Heydi wajib menguasai bahasa Belanda dan selama itu Heydi berusaha mencari dan mempelajari untuk dapat menguasai bahasa secepat mungkin. Saat tinggal di Belanda Heydi wajib memilih sebuah kegiatan ektrakurikuler. Sempat bingung kala itu kegiatan ekstrakurikuler apa yang harus di pilih. Saat jalan jalan di sekeliling sekolah dan menemukan aula dilihat ada orang sedang latihan band.

Dari  situlah kemudian Heydi coba bernyanyi dan bergabung dengan anak anak band The Storm di Belanda. Di akui Heydi, saat itu malah ia ingin belajar bermain bas, karena memang di awal sama sekali tak terpikir terjun dibidang tarik suara. Dalam benaknya sedari kecil memang ia tak terpikir jadi seorang penyanyi karena cita cita  yang dituju adalah seni rupa atau melukis.

Setelah bergabung dengan grup band sekolah di Belanda, Heydi coba ikut latihan bernyanyi dengan grup ekstrakurikulernya. Awalnya ia hanya ikut ikutan dan akhirnya jadi kebablasan. “Pertama menyanyi bersama grup band The Storm di Belanda, Saya menyanyikan 2 buah lagu barat. Child In Time milik Deep Purple dan Starways to Heavennya Led Zepellin.” kenang Heydi saat awal coba terjun menyanyi pada grup band sekolah SMA di Belanda.

Sekembalinya dari negeri Belanda, Heydi merasa lebih dewasa dari anak seusianya. Baik masalah pergaulan maupun tingkat kemandirian, dimana ia merasa pernah melakukan semuanya sendiri di negeri orang.

Heydi pun sempat ikut nyumbang bernyanyi pada acara  sekolah SMAN 1 Semarang tempat ia sekolah. Saat bernyanyi di acara perpisahan sekolah itu, salah satu temen Anwar Fatahillah melihat bakat menyanyi Heydi dan kala itu pula Anwar Fatahillah memang sedang mencari seorang vokalis. Sejak itu Heydi dan Anwar membentuk grup band dengan nama Powerslaves dan  coba ikut kompetisi atau festival band diseputaran Semarang dan Jawa Tengah.

PS kurang Nakal

Dua puluh tujuh tahun bersama Powerslaves menurut Heydi, satu kekurangannya. PS kurang nakal dan nyeleneh. Dari sisi bermusik dirasa Heydi Ibrahim, PS itu masih terlalu tertata.”Bukan berarti musik PS tidak bagus. Bukan kesitu maksudnya, namun menurut saya PS kurang sentuhan nakal dikit. Baik syair maupun bawaannya kurang nyeleneh..hehehe.” ujar Heydi yang merasa musik rock n roll harus bernuansa agak sedikit bebas ber-ekspresi atau apa adanya.

“Karena dalam bermusik apabila kita yakini genre yang di bawa adalah genre rock n roll, dimana secara notabene banyak digandrungi kawula muda, tentu harus berani sedikit memberontak agar soul atau jiwa mudanya tetap hidup.”ungkap Heydi menjelaskan.

Menurut Heydi, nyeleneh dan apa adanya bukan berarti yang negatif, namun dilihat dari sisi genre yang di usung PS tetaplah membawa mesej baik namun bicara apa adanya dari semua hal. Baik lirik, gaya dipanggung maupun diluar panggung. “Yah ini hanya pemikiran saya dari sisi idealisme pribadi.” papar Heydi Ibrahim.

Buku otobiografi seorang Heydi Ibrahim/Foto : Ist

Dari kacamata Heydi Group band PS banyak sekali positifnya. Di akui Heydi PS adalah grup yang mampu membawa namanya melambung dikenal banyak orang sebagai seorang penyanyi, disamping pekerjaan tetapnya sebagai seorang ilustrator pada sebuah media di kota semarang sekaligus hobby dan talentanya sebagai seorang pelukis beraliran realis.

“ PS,bagi Saya adalah sebuah band yang lahir sebagai band rock nasional untuk semua golongan yang tidak tidak memihak pada apapun, baik agama,ras, apalagi berpolitik. Powerslaves memang harus hadir untuk kemajuan musik Indonesia sekaligus mesin penghibur rakyat Indonesia khususnya sekarang maupun yang akan datang,”papar Heydi yang berharap, kontribusi bermusiknya bisa menghibur semua orang dan menjadi alat pemersatu dan bermanfaat untuk kebaikan orang lain. (PRB/Beng)

 

Comments

comments