Ulasan Rohman Wibowo Soal Pidato Jokowi di IMF Forum

Berikut ini adalah Ulasan Rohman Wibowo, Peneliti GLOBAL FUTURE INSTITUTE (GFI) mengulas Soal Pidato Jokowi di IMF Forum Bali 2018. Berikut isinya:

Pidato ini semakin menunjukkan kalau Jokowi ingin “welcome to the capitalism and please go ahead with your movement, then we will accept it” How come?

1. Lewat cara pandang Hubungan International, jelas Jokowi menerapkan perspektif liberalisme utopian alias utopis —- memandang jika dunia ini akan bersifat berimbang dan equal serta damai berdemokratis. Padahal pencetus paradigma ini adalah seorang presiden AS (Wondrow Wilson) lewat fenomenanya membentuk LBB.

Namun pada akhirnya LBB itu hancur oleh AS sendiri tatkala PD 2 meletus dan AS bermain sbg salah satu pemain kunci dalam perang walau sumbangsihnya minim. Lantas apa setelah itu? AS tampil seakan sebagai “penyelamat dunia” dengan membuat konsensus bretton woods dan marshall plann nya itu. Yo mikir kan??

2. Jokowi menganggap sistem ekonomi kapitalisme ini bukan sebagai realitas yang harus dapat pertentangan. Dan justru mengalihkan isu pada environment issues (climate change, global warming and so on), padahal karena apa dunia kita ini bisa terdegedrasi separah sekarang? Tak lain karena budaya kapitalisme yang menuntun kita untuk konsumtif dalam berkehidupan sehari-hari.

3.Jokowi tidak punya political will dan political determination dalam politik luar negeri Indonesia guna mengarungi percaturan politik internasional. Karena suka tidak suka, mau tidak mau, politik internasional itu sejatinya bersifat anarkis! Tidak ada hierarkis dalam sistem internasional. Karena itu setiap negara berhak menentukan kepentingan nasionalnya masing2 tanpa memikirkan dampaknya kepada negara2 lain di dunia.

4. Terakhir,J okowi mempersilahkan kekuatan kapitalisme global untuk makin berekspansi karena ucapannya bukan menentang tapi menghimbau untuk bersikap kooperatif pada kapitalisme. Padahal sistem ekonomi kapitalisme adalah sistem jahat yang menindas.

Seharusnya kita bertentangan dengan sistem tersebut sembari mengenali national power kita yg termaktub dalam apa itu geopolitik Indonesia—Wawasan Nusantara.| ATA

Comments

comments