ESEMKA, Kenapa Dihujat?

Oleh: Bahrul Alam*)

Tak ada yang salah dengan Esemka. Yang keliru hanya cara kita menyikapinya. Cara pemerintah memunculkannya ke ruang publik. Mengapa saya katakan begitu? Karena Esemka adalah prototype mobil hasil kreasi anak-anak kita. Dan itu ga beda jauh dengan cerita Timor, Bimantara, Perkasa, Mobira dan Anglingdarma.

Bedanya dengan yang terakhir,..Anglingdarma hanya kendaraan bermotor roda tiga sebagai pengganti bajaj, delman, beca dan bemo.

Menurut saya, Esemka mustahil bisa diproduksi secara massal tanpa melibatkan industri otomotif raksasa seperti Nisaan, Mitsubishi, Toyota, Mercedez, Hyunday, Suzuki, dll. Lihat saja sejarah lahirnya Hyunday dan Proton. Masing-masing bekerjasama. Hyunday dengan Mitshubishi. Proton awalnya dengan Mitshubishi. Kemudian dengan Rolls Royce Inggris. Begitu juga dengan Timor dulu, yang digandeng adalah KIA dari Korea.

Sedangkan Perkasa yang diinisiasi oleh grup usaha tekstil, Shinivasan akirnya hilang tak berkesan. Lantas, dimana masalahnya dengan mobil Esemka? Masalahnya, launching isunya di tahun politik. Oleh capres dan cagub DKI, Jokowi setelah tak terdengar kabar beritanya. Tiba-tiba muncul lagi. Dan juga di tahun politik. Wajar kalau nasib
Esemka nyaris babak belur kena smesan lawan politik Jokowi. Lihat saja di medsos. Beragam ocehan dan meme membuat Asemka tak ubahnya mobil odonk-odonk. Semua itu berawal dari ketidaktahuan apa dan bagaimana tentang kebijakan pemerintah di bidang pembuatan mobil nasional.

Esemka adalah simbolisasi obsesi anak bangsa untuk memiliki mobil buatan sendiri. Sama dengan apa yang pernah digagas dan dilakukan pak Habibie dgn pesawat CN 235 dan pembangunan PT Dirgantara di Bandung yang akhirnya mangkrak. Dua-duanya punya cita-cita mulia. Ingin mengangkat nama Indonesia dimata dunia.

Bayangkan, kalau kita bisa membuat pesawat terbang jenis CN 235 aja 20 tahun silam, mungkin devisa yang dihemat akan sangat banyak. Yang penting, kaamanan dan kenyamanan pesawat terjamin. Harga terjangkau, begitu juga dengan Asemka. Uang yang selama ini habis diambil oleh toke-toke mobil, dan agen/distributor atau ATPM akan beralih ke kantong sendiri.

Syaratnya, program lokalisasi komponen yang pernah di canangkan oleh pemerintah sejak tahun 70-an benar-benar  diwujudkan. Sayangnya, semua-semua itu belum tampak sampai saat ini.

Sebaliknya, Indonesia jadi pasar berbagai produk otomotif dunia. Mungkin, negara paling besar belanja otomotifnya adalah indonesia. Jadi, tanpa sadar, semakin kita mengolok-olok upaya pemerintah mendorong lahirnya mobil nasional, sama saja kita mengakui kalau kita adalah bangsa lemah. Soal nama bisa kita diskusikan tapi soal apakah kita akan selamanya jadi negara konsumen. Nanti dulu. Yang penting, jangan jadikan Esemka sebagai komoditi politik. Tapi murni sebagai refleksi obsesi kita untuk jadi yang terbaik di dunia. Paling tidak masuk 10 besar negara-negar paling maju di dunia. Berhentilah trus menggonggong. Apalagi terhadap sesama anak bangsa. Politisasi Esemka no problem sepanjang untuk buktikan kita bukan bangsa tempe. Wallahualambissawab.

*)wartawan senior