Prabowo, Yusril dan MetroTV

Aendra Medita

Prabowo bikin heboh. Prabowo bikin pernyataan blunder? Atau apa? Sebagai Capres yang seperti ini enak di goreng memang sampai gosong. Masih ingat gorengan kasus Hoax Ratna Sarumpaet? Prabowo pun digoreng. Kasus Bojolali bahkan disandingkan video 2014 dinaikan kembali soal peryataan Prabowo yang menyatakan Wartawan gaji kecil dan jarang ke Mall…

Ah dunia medsos memang menjadi sumber yang menguncang sekaligus mengunjing. Revolusi digital itu bukan revolusi sosial. Digital resah saling membantah dengan akun-akun buzzer yang luar biasa. Akibat kasus Bojolali maka sejumlah orang yang merasa di nyinyir oleh Prabowo pun protes, sampai demo boikot Prabowo, belakangan katanya bayaran. Bayaran nasi bungkus atau uang fulus dan sejumlah club bikers. Ini kisah yang menarik secara politik di medsos, Bojolali jadi hit seklaigus hot diperguncingkan.

Sebuah TV bahkan menggelar takshow dengan tema Bojolali dan Sontoloyo. Soal Sontoloyo dibuat nyaris senyap, bahkan juga kasus demo  guru honor media nyaris senyap. Ini tahun politik tahun yang serba kemungkinan dan ruangnya ada dalam teka-teki. Isu yang terjadi bisa di setting bahkan dibuat agar sedemikian dramatis, jika perlu pake pola dramaturgi Aristotelian yang terstruktur.

Tahun politik tahun yang gurih goreng-goreng dan bahkan sampai gosong digoreng di kedua kubu. Apalagi kedua kubu ini tarung di Part II. Ah politik kita masih tak cerdas, belum lihat kemungkinan besar atau kecil yang menang siapa, sebab tarung pastinya adalah 17 April 2018. Percuma saja jika kita mengklaim dengan kekuatan yang menang si A atau si B lewat survei.

Sebuah survei bahkan diduga telah di ungkap mantan anggota DPR RI Djoko Edi ungkap katanya LSI Denny JA sudah dapat 43 M. Gede juga atau sedikit yang jelas itu duit, jika benar katanya untuk jatuhkan salah satu pasangan.

Yusril yang Berdramaturgi

Disela-sela Bojolali, ada Yusril  Ihza Mahendra, pakar hukum ternama pemilik Partai Bulan Bintang Pengacara HTI juga bikin heboh dan tak kalah penting hebohnya, tapi bagi saya ini mungkin Gimick Yusril cari panggung yang sudah sedikit sekali valuenya dalam peta politik.

Yusril Mengatakan misalnya dalama pernyataan yang saya kutip disebaran sejumlah grup WA, berikut isinya:

Hehe bukan begitu masalahnya. Minggu yang lalu saya bertemu Pak Erick Tohir di Hotel Mulia, Jakarta. Pak Erick adalah Ketua Timsesnya Pak Jokowi. Pak Erick menyampaikan salam Pak Jokowi kepada saya, dan sayapun menyampaikan salam saya kepada Pak Jokowi melalui Pak Erick. Kami bincang2 dan Pak Erick menanyakan kepastian apakah saya bersedia menjadi lawyernya Pak Jokowi – Pak Kiyai Ma’ruf Amin dalam kedudukan beliau sebagai paslon Capres-cawapres.

Maka saya katakan pada Pak Erick, setelah cukup lama hal ini didiskusikan dengan saya, akhirnya saya memutuskan untuk setuju dan menjadi lawyernya kedua beliau itu.

Pak Erick mengatakan bahwa jadi lawyer Pak Jokowi dan Kiyai Ma’ruf ini pro deo alias gratis tanpa bayaran apa2. Saya bilang saya setuju saja. Dulu dalam Pilpres 2014 saya juga pernah dimintai menjadi ahli dalam gugatan Pak Prabowo kepada KPU tentang hasil Pilpres di MK, dan itu saya lakukan, gratis juga hehe, tanpa bayaran apapun dari Pak Prabowo. Saya menerima menjadi lawyernya Pak Jokowi – Pak Ma’ruf sebagai lawyer professional.

Dengan menerima ini, mudah2an saya saya bisa menyumbangkan sesuatu agar Pilpres dan Pemilu serentak kali ini berjalan fair, jujur dan adil, dan semua pihak mentaati aturan2 hukum yang berlaku. Saya pernah menangani perkara partai politik, termasuk Golkar, dan saya benar2 bekerja profesional.

Bagi saya hukum hukum harus ditegakkan secara adil bagi siapapun tanpa kecuali. Menjadi lawyer haruslah memberikan masukan dan pertimbangan hukum yang benar kepada klien agar klien tidak salah dalam melangkah, serta melakukan pembelaan jika ada hak2nya yang dilanggar pihak lain.

Menjadi lawyer bukan berarti harus membenarkan yang salah dan/atau menyalahkan yang benar, atau menurut istilah Alm Pak Mathori Abduk Jalil ya “membela yang bayar”. Apalagi dalam menjalankan tugas sebagai lawyer Pak Jokowi dan Pak Kiyai Ma’ruf ini saya tidak dibayar, seperti saya katakan tadi.

Pemihakan saya adalah pada hukum dan keadilan. Jika ada hak-hak Pak Jokowi dan Pak Ma’ruf yang dilanggar, beliau dihujat, dicaci dan difitnah misalnya, tentu saya akan melakukan pembelaan dan menunjukkan fakta-fakta yang sesungguhnya atau sebaliknya, agar segala sesuatunya dapat diletakkan pada proporsi yang sebenarnya. Saya juga akan mewakili kepentingan hukum kedua beliau dalam berhadapan dengan pihak lain.

Saya mendengar dari Pihak Pak Prabowo dan Pak Anies, sudah menunjuk Pak Hotman Paris sebagai lawyernya. Mudah2an informasi yang saya terima tidak salah. Pak Hotman adalah rekan dan sahabat saya dan hubungan kami selama ini baik serta saling hormat-menghormati.

Sebagai profesional lawyer, saya tidak menjagi bagian dari Timses Pak Jokowi- Pak Kiyai Ma’ruf Amin. Saya baca di dalam struktur Timses sudah ada divisi hukum dan pembelaan. Divisi ini kalau dalam perusahaan bisa dikatakan sebagai “in house lawyer”, sedangkan saya adalah professional lawyer yang berada di luar struktur.

Menjadi lawyer paslon Pres dan Wapres tentu akan ada surat kuasa khusus dari kedua beliau itu dalam waktu dekat ini.

Cukup jelas. Ada lagi yang mau ditanya?

Penjelasan Yuril direspon kawan saya dengan sangat cerdas:

Yusril Ihza Mahendra sedang berdialektika. Melepas lokomotif dari gerbong. Dari sejak jelang pak Harto lengser ke era reformasi. Permainan Yusril memang selalu zig zag dan tidak membosankan. Tidak monoton.

Ada orang yang bakatnya dari luar menyusun barisan di dalam. Namun bang Yusril punya bakat kebalikannya. Membongkar dari dalam.

Di tengah begitu kuatnya desakan agar Pak Harto lengser bang Yusril justru malah merapat ke Cendana. Namun fakta sejarah pula bahwa Bang Yusril lah yang menyiapkan skenario hukum pengunduran diri Presiden Suharto, demikian tulis Hendrajit.

Beda dengan Hendrajit, Zeng Wei Jian menulis bahwa Selamat Nyebong YIM, karena Yusril Ihza Mahendra Jadi Pengacara Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019. Gratis katanya.

Dia telah duduk semeja dengan pembesar partai merah PDIP. Sekjen Hasto tersenyum. Roko dan minum berhamburan di meja bulat. Tas tas kecil. Kue kring. Smartphone. Gambar Megawati bertengger di belakang. Demikianlah politik. Musuh-musuh Ahok, satu per satu merapat ke Kubu Jokowi. Memang, tidak pernah Jokowi merasa satu kubu dengan Ahok.

Justru secara kalkulasi politik, Ahok mesti masuk kotak. Supaya tidak ada pesaing terhadap Popularitas Jokowi.

Ahoker saja yang ke-ge-er-an. Ahok-Joko-Oposisi adalah tiga kubu beda. Kepentingan dan orientasinya lain.

Yusril Ihza Mahendra was one of the most hated name amongst Stupid Ahokers. Lainnya, Kyai Ma’ruf. Keduanya masuk golongan ultra-konservatis leaders. Yusril ikut langkah Ngabalin, TGB, Kapitra Ampera, La Nyalla Mattaliti dan lain-lain.

Ada yang duga, alasan Yusril hijrah adalah uang. We never know. Mungkin pula posisi. Entahlah. Who cares…!!

Ahokers dan Non muslim minority mestinya sadar sejenis apakah Rezim Jokowi ini. Semua hasutan terhadap Prabowo-Sandi; seperti radikal, intoleran, khilafah, pelanggar HAM, dan rasis adalah sebuah kebohongan. Akhir kata, Selamat Nyebong Bang Yusril.

Dari Hendrajit dan Zeng saya punya pandangan seperti ini. Yusril sedang bermain drama dalam ruang politik Indonesia. Tapi kisahnya yang hanya tahu bukan penonton. Tapi ia dan kekuasaan saat ini. Ia pelaku dan juga sekaligus sutradara. Tapi kekuatan sutradara itu sebenarnya lepas diri ketika panggung sedang di kuasai para aktor diatas pentas.  Yusril memang mampu bermain dengan kisahnya dalam panggung tata negara. Tapi publik akan melihat pemilik partai PBB ini seperti sedang berkhianat pada kadernya dimana para calegnya kini limbung peganggannya kemana? Sebab awalnya kan tak berkubu. Ayo sampai dimana dramaturgi-mu Bang Yusril?

MetroTV

Kenapa dengan Metro TV? Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto – Sandiaga Uno (BPN Prabowo- Sandi) memutuskan untuk memboikot Metro TV. Keputusan tersebut dilakukan atas dugaan penyalahgunaan hak siar untuk kepentingan politik.

Menjawab pemboikotan ini, Bos Media Group, Surya Paloh, mempersilakan jika ada pihak-pihak yang ingin memboikot Stasiun Metro TV.

“Dia mau boikot, boikot aja. Itu hak dia mau boikot. Ga apa-apa dong,” kata Surya Paloh ketika dijumpai sesaat setelah membuka orientasi pembekalan Calon Anggota legislatif (Caleg) se-Maluku, di Gedung Siwa Lima, Ambon, Selasa (6/11) (beritasatu)

Namun demikian, dirinya mengingatkan kepada jajaran redaksi Stasiun Metro TV agar jangan sampai “membalas” pemboikotan dengan pemboikotan. “Tapi media tersebut gak usah ikut-ikutan memboikotnya,” ucap Surya.

Surya meyakini, Metro TV akan tetap bisa bertahan walaupun kubu Prabowo-Sandiaga memboikotnya. Penegasan tersebut disampaikan bahwa pemboikotan tidak akan berarti apa-apa bagi Media Group.

“Dia boleh boikot, memangnya kalau diboikot kenapa? Gak bisa hidup? Kalau diboikot gak bisa hidup, boleh lakukan negosiasi. Tapi kalau masih yakin disana ada misi, ada niat baik, ada keyakinan dan ada survival yang mampu dipertahankan, silahkan saja diboikot,” ujar Surya.

Ferdinand Hutahaean, salah satu anggota tim Badan Pemenangan Nasional kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandiaga), mengatakan timnya akan memboikot sementara perusahaan televisi swasta, Metro TV.

“BPN Prabowo – Sandiaga, hingga batas waktu yang tidak ditentukan, memboikot Metro TV,” kata Ferdinand.

Keputusan itu telah dibahas di lingkup koalisi. Selama aksi boikot digencarkan, Ferdinand memastikan, kubu Prabowo tak bakal melayani agenda wawancara atau bincang-bincang ekslusif bersama Metro TV. Prabowo juga tak akan bertandang ke acara debat yang akan ditanyangkan televisi milik Surya Paloh itu. “Kami tidak diizinkan menghadiri Metro TV sampai ada pemberitahuan lebih lanjut,” tutur Ferdinand. Menurut Ferdinand langkah ini ialah bentuk protes kubu Prabowo-Sandiaga karena menilai pemberitaan Metro TV tidak berimbang.

Menurut saya kasus ini unik dan sangat jadi Presden buruk bagi dinamika Pers di tanah air. Harusnya Dewan Pers Proaktif memanggil keduanya kenapa ada yang seperti ini. Bukankah kebebasan informasi dan berimbang diperlukan? Media kita memang sedang sakit. sedang tak ada dalam jalur yang independen dengan benar. Faktornya adalah hampr 80persen pemilik media di tanah air ini berpolitik. Dan ini buruk untuk independensi pers tanah air.

Dan akhirnya kasus Prabowo, Yusril dan Metro TV ini sebagai catatan dan juga kisah yang ada dalam realita nyata saat ini di bangsa saat ini. Mari kita dewasa dan mari kita menjadikan semua ini ruang dialog dan komunikasi yang benar. Bukannya silaturahmi adalah kebaikan? Ayo….!!!!

AENDRA MEDITA, wartawan