Intelejen, Apa Kata Dunia?

Aendra Medita, jurnalis

PRIBUMINEWS.CO.ID – Jagat  negeri dihebohkan oleh Kasus Habib Rizieq Shihab (HRS) yang katanya, ada intelejen bermain. Bermain apa? Bermain-main atau bergerak melampuai batas? Kok bisa ya…

Seorang Direktur Global Future Institute (GFI) Hendrajit  kirim pesan pada saya bahwa dirinya melihat ini tak menarik. Isi pesannya begini: Buat saya. Mainan intelijen kita di Saudi kurang menarik. Punya aktor. Punya skenario. Tapi setting dan lanskap panggung dibangun tidak sesuai skenario dan tema cerita.

“Akhirnya jadi parodi. Ibarat kata. Bukannya intelijen nyamar jadi dokter. Tapi Dokter nyamar jadi intelijen,” tulisnya siang itu kepadaku. Ia juga memposting di Akun FaceBooknya dan mendapat apresiasi yang banyak.

Saya melihat Hendrajit punya pisau bedah cerdas, bukan sekadar komentar dan analisanya yang menukik, tapi Hendrajit membangun interprestasi bahwa memang sedang ada yang main-main dan setting kurang piawai dalam struktur dramaturginya. Jika mau bermain parodi ajaklah parodi intelek ala Brecht atau mau gaya linear aristotelian.

Tergantung kita mampu menafsir narasi dunia samar-menyamar itu dan saya setuju Hendrajit dunia parodi jika intelijen nyamar jadi dokter. Tapi dokter nyamar jadi intelijen harus memahami konsep besar panggung itu. Tapi ah ini dunia memang panggung sandiwara bukan?

Saya juga ingin mengutip tulisan aktivis senior Bang Radhar Tribaskoro soal dunia intel itu. Berikut kutipannya secara lengkap:

SKANDAL INTEL

Bila betul ada operasi intelejen Indonesia di kediaman HRS di Mekah, maka saya kira ada skandal ganda.

Skandal pertama, “Seorang warganegara Indonesia yang sah dijebak oleh aparat intelejen negaranya sendiri agar menjadi kriminal di negara asing.”

Skandal kedua, “Sumberdaya negara dipergunakan untuk menyingkirkan lawan politik penguasa.”

Dalam hemat saya, kedua skandal di atas merupakan tindakan pelanggaran hukum yang berat dari aparat negara. Parlemen harus bertindak untuk meluruskan. Bila parlemen tidak bertindak maka negara hukum hanya permainan mulut belaka. Negara ini akan semakin kehilangan kepercayaan dari rakyatnya sendiri.

Kecerdasan Radhar Tribaskoro  membuka warna baru. Dan ini menohok pada kualitas hukum. “Maka negara hukum hanya permainan mulut belaka,” ini jelas tajam dan bagi yang merasa tahu hukum harusnya malu.

Radhar juga menyebut skadal ganda, ini artinya satu warga negara Indonesia dan sumberdaya negara yang disalahkaprahkan.

Antara Hendrajit dan Radhar memiliki pisau beda, namun analisanya satu tujuan, jika Hendrajit melihat ada drama gagal. Radhar membaca semua elemen saat ini sudah disalahgunakan dengan salah.

Lalu maknanya di mana? Bukankan Intelejen adalah informasi yang dihargai atas ketepatan waktu dan relevansinya, bukan detail dan keakuratannya, berbeda dengan “data”, yang berupa informasi yang akurat, atau “fakta” yang merupakan informasi yang telah diverifikasi.

Lantas jika memang ada dugaan Intelejen kini seperti apa dua tokoh diatas. Apa Kata Dunia?

 AENDRA –  PRIBUMINEWS.CO.ID