When Journalist go to the dark side (“sisi gelap jurnalistik”)

PRIBUMINEWS.CO.ID – Media yang seharusnya menjadi “watchdog” penguasa atau pengkritisi dan pengawas pemerintah,justru ikut dalam bagian dari rezim yang berkuasa Akibatnya, daya kritis publik pun tumpul terhadap pemerintahan.

Sebagai watchdog atau kontrol sosial dalam istilah UU Pers– media berfungsi untuk mengawasi kinerja pemerintah agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). Media Harusnya Kritisi Pemerintah.

Media adalah “natural enemy” (musuh alami) penguasa, sebagaimana dikemukakan editor buku Pers Tak Terbelenggu (USIS Jakarta 1997):

“Pers dan pemerintah adalah musuh alami dengan fungsi berbeda dan harus saling menghormati peran masing-masing”.

Pers selama ini dikenal sebagai kekuatan keempat (the fourth estate) dalam struktur kenegaraan, setelah legislatif, eksekutif dan yudikatif. Pers juga dikenal sebagai pilar keempat demokrasi (the fourth estate of democracy).

Jika kekuatan keempat ini ditundukkan penguasa, maka wajar jika media menjadi “corong pemerintah” dengan menjalankan jurnalisme pemerintahan (government journalism)

Menurut Guru Besar Komunikasi Simon Fraser University (SFU) Kanada, Kathleen Cross, ketika para wartawan masuk ke wilayah politik seperti itu, mereka bukan saja menggeser kariernya, tapi juga mengubah idealismenya.

“When journalists move into political communications, they’re not just shifting their careers, they’re shifting their ideals,” seperti dikutip Belinda Alzner dalam tulisannya di The Canadian Journal Project, “When Journalist go to the dark side”.

Khitah jurnalistik adalah loyalitas kepada warga (publik), kebenaran fakta, akurat, berimbang, dan demi kepentingan publik. Jika khitah itu dilabrak, maka terjadilah “sisi gelap jurnalistik” yang membuat publik kehilangan kepercayaan kepada media dan media pun kehilangan kredibilitas.

Tamat

—status Rio keren—

Comments

comments