BOIKOT MEDIA ATAS REUNI 212: APA MAKNANYA

Oleh: Radhar Tribaskoro

Katanya mereka punya rights not to publish, untuk event yang merugikan publik dan politically not neutral.

Btw, netralitas itu bukan sifat yg melekat pada event. Hitler bisa bikin event dan punya nilai yg signifikan untuk publik di negara bebas. Maka jurnalis meliput acaranya Hitler, dimanapun ia berada.

Netralitas melekat kepada jurnalis. Jurnalis bisa memilih apakah ia akan menyiarkan secara apa adanya atau dengan menafsirkan sesuai dengab keyakinan dirinya. Jurnalis bisa juga memberitakan atau tidak memberitakan. Tetapi pilihan ini sudah pasti terkait denga pandangan politik si jurnalis.

Kredo seorang jurnalis idealis adalah stay neutral. Ia harus menahan diri untuk tidak mempengaruhi pembaca (publik). Ia semata mengungkapkan kebenaran, bahwa betul telah terjadi, misalnya, penyadapan politik oleh president’s men. Bahwa secara hukum presiden harus bertanggungjawab atas tindakan anakbuahnya.

Sampai batas pengungkapan fakta itulah tugas seorang jurnalis. Apakah presiden bersalah dan harus mundur adalah sikap yg dipilih oleh publik sendiri.

Jadi kebijakan media arus utama Indonesia yang tidak memberitakan peristiwa Reuni 212 pada dasarnya adalah sebuah boikot. Media arus utama itu memboikot sebuah acara yg diselenggarakan oleh jutaan massa. Peristiwa itu fenomenal bahkan bagi ukuran dunia, menghadirkan massa terbanyak dalam sejarah dunia tanpa insiden sekecil apapun, tanpa uang.

Boikot itu tentu bersifat politik sebab para pengendali di media memiliki pandangan politik berbeda dengan pelaksana Reuni 212. Boikot itu membawa pesan bahwa siapapun yang menentang mereka tidak akan beroleh akses pemberitaan dari mereka.

Boikot itu menegaskan bahwa jagad jurnalisme telah berubah. Di sana sekarang ada penguasanya. Penguasa itu memiliki specific idea (ideologi) yang dipergunakan untuk menyaring apa dan siapa yang boleh diberitakan.

Tentu saja kondisi jagad jurnalis seperti itu bukanlah produk yang diharapkan oleh siapapun. Bahkan untuk jagad kaum yang paling liberal sekalipun netralitas dan profesionalisme jurnalis masih menjadi pilar yang dijaga dan dihormati.

Bagi saya boikot media arusutama merupakan pukulan hook yang telak kepada gerakan demokrasi Indonesia. Kaum liberal yang berada di seberang sana sudah mengalami disorientasi nampaknya. Mereka sudah tidak bisa membedakan mana strategi mana taktik dan mana teknik. Bahkan mereka sudah tidak tahu mana tujuan mana cara.

Hal itu menunjukkan bahwa kelompok seberang itu sudah sepenuhnya chaos. Mereka panik dan kehilangan kepemimpinan.

Comments

comments