SENTIMEN ANTI CINA

Zeng Wei Jian

by Zeng Wei Jian

Anti-Chinese sentiment biasa disebut Sinophobia. Faktor pemicunya; antara lain disparity of wealth, national identity, majority-minority relations, kebijakan pemerintah Tiongkok, dilema imigrasi, fear of economic competition, dan racism.

General public kurang bisa membedakan Tiongkok, Overseas Chinese dan Chinese Culture.

Tahun 2013, Pew Research Center mengadakan survei. Anti-Chinese sentiment remains permanent di belahan eropa dan asia.

Antipati terhadap Chinese bersifat masif di Jerman, Amerika, Italy dan Israel. Hanya 5% orang Jepang suka kepada Pemerintah Beijing.

Sedangkan strong supporter Tiongkok, misalnya Malaysia, Pakistan, Kenya dan Senegal. Di Malaysia, favorable opinion of China mencapai 81% populasi.

Di Indonesia, angka favorable opinion di posisi 55%. Tidak terlalu bagus. Fenomena Ahok dan masifnya dukungan konglomerat merusak citra komunitas Tionghoa.

Libido kekuasaan Ahok dan doktrin agama mesias menghipnotis. Orang-orang Tionghoa jadi lupa diri. Over acting dalam politik. Ada pengusaha muda yang bahagia sekali dipeluk Ngabalin dan diikut-sertakan dalam Munas Partai Golkar. Langsung merasa jadi aktor politik Ring 1.

Pemburu rente, ambisi kekuasaan dan pengincar proyek menyuntik “Islamophobia” ke sanubari minoritas.

Rasa takut itu membangun sekat pemisah. Tionghoa tidak lagi sanggup merasakan denyut progresif pribumi dan muslim. Runtuhkan tembok itu. Keluar dari comfort zone. Lawan penguasa tiranik.

Semoga Gala Dinner bersama Pa Prabowo di Glodok yang dipelopori oleh Chandra Suwono, Yap Hong Gie, Indra, Adian dan Lily Ng bisa menjadi inspirasi minoritas lain untuk menyatu dengan mayoritas pribumi.

Sudah 70 tahun lebih Indonesia merdeka. Pribuminya masih miskin. Tugas Tionghoa; bantu mensejahterakan mereka.

THE END

Comments

comments