Tentang Diksi Kecurangan Pemilu

Hendrajit Direktur Eksekutif GFI / F0T0 Medita

Oleh Hendrajit

Sekarang saya mau ngulas sedikit tentang diksi kecurangan pemilu. Tentu saja kita harus waspada dengan kemungkinan itu. Tapi selain itu harus diimbangi riset dan survey yang jujur tentang kondisi obyektif paslon no 02 yang sesungguhnya sekarang.

Sebab kalau survey apa adanya di internal menunjukkan peluang no 02 besar untuk menang secara jurdil. Maka wacana kecurangan pemilu justru bisa dimainkan untuk perang urat syaraf melumpuhkan gairah juang paslon 02

Sehingga diksi kecurangan pemilu bukan untuk membangun kewaspadaan agar pemilu jujur dan adil. Namun berfungsi sebagai sihir dan hipnotis.

Saya sering mempelajari kerabat atau kawan yang berhasil menangkal serangan santet, guna guna atau pelet dan sebagainya. Tentu saja mereka biasanya mengembalikannya kepada ilmunya Allah. Taat beribadah dan sebagainya.

Tapi tips yang buat saya amat mengesankan. Pertama bersangka baik bahwa sihir dan hipno itu nggak mempan pada kita. Dan tak ada yang bermaksud gitu pada kita. Sebab kalau kita tersugesti bahwa kita lagi diguna guna atau sedang dikerjain secara klenik. Itu malah bisa jadi kenyataan. Semacam pintu masuk.

Maka daripada fokus pada kecurangan pemilu kita harus tandingi dengan frase pemilu jurdil. Seraya memupuk kekuatan spiritual yang sudah dinampakkan secara elegan pada reuni 212 di monas. Bahwa sesungguhnya yang menampakkan diri di monas bukan sekadar umat Islam. Melainkan bangsa yang tercerahkan.

Jadi buat apa was was tentang kecurangan pemilu ketika rejim ini sedang menghadapi bangsa yang tercerahkan?

Di monas ada kekecewaan, ketidakpuasan dan kesedihan yang berbaur jadi satu. Di monas ada rasa fikiran senasib sepenanggungan. Di monas ada kebangkitan rasa persatuan dan kesatuan yang dimotori ukhuwah Islamiah. Di monas ada dorongan kuat untuk kembali ke semangat proklamasi berupa cita cita kebangsaan dan falsafah negara.

Itulah energi atau arus utama yang mendasari kenapa orang orang berkumpul di monas. Inilah irisan geopolitik yang merupakan jabaran dari kondisi sosial geografis negri kita (IPOLEKSOSBUD HANKAM) dan kondisi alami geografis kita (kependudukan, geografi dan sumberdaya alam).

Kedua kondisi geografis kita itu menjelma jadi irisan geopolitik pada sejarah, budaya, cita cita bersama dan falsafah bangsa. Dan inilah yang memancar di reuni 212 awal Desember lalu.

Sehingga kekuatan rahasia rakyat menampakkan diri di monas. Inilah momentum nasional yang sesungguhnya. Dan inilah yang coba dipatahkan dengan sihir dan hipnotis. Dengan menggunakan Diksi PEMILU CURANG. Artinya yang curang yang bakal menang. Alhasil kita masuk perangkap sihir dan hipno. Tanpa sadar kita digiring menyugesti diri bakal kalah. Padahal kita menang. Meski kita harus waspada.

Mari gerus sihir dan hipno dengan fokus ke tema perjuangan dan sangka baik. ***

Comments

comments