Mengingat kembali Surat Mundur Pak GM dari PAN, Drama Politik Zaman Now

Ini surat Pak Goenawan Mohammad (Pak GM) waktu mundur dari Partai Amanat Nasional (PAN), dengan judul: Kecewa Berat, Goenawan Mohamad Mundur dari PAN (porosnews.com -link https://porosnews.com/2014/05/16/kecewa-berat-goenawan-mohamad-mundur-dari-pan/

Isi lengkapnya: Budayawan pemilik TEMPO yang juga salah satu pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Goenawan Mohamad secara resmi mengundurkan diri dari partai politik berlambang matahari terbit itu.

Rupanya, Goenawan teramat kecewa setelah PAN menyatakan diri mendukung Partai Gerindra dan capresnya Prabowo Subianto dalam pemilu presiden (pilpres 2014) pada tanggal 9 Juli mendatang.

Menurut Goenawan, PAN sudah melenceng dari tujuan awal dan semakin oportunis dalam pemilihan umum legislatif (pileg) dan pemilihan presiden 2014.

Berikut isi surat Goenawan Muhammad:

Ketika saya, bersama teman-teman secita-cita mendirikan PAN di awal Reformasi, saya berharap ikut menyumbang perbaikan semangat dan mutu kepartaian Indonesia yang sudah dirusak oleh Orde Baru. PAN adalah kelanjutan dari gerakan prodemokrasi yang melawan kekuasaan otoriter Jenderal Soeharto.

Semenjak Soeharto jatuh, kami ingin membangun sebuah partai yang punya platform politik yang jelas untuk diperjuangkan ke arah demokrasi yang lebih luas, kebhinekaan yang lebih hidup, dan kesejahteraan yang lebih merata. Dalam sejarahnya, PAN pernah berusaha ke arah itu.

Tetapi makin lama, ia makin tak memandang politik sebagai perjuangan. Makin lama politiknya hanya hasrat mengukuhkan posisi dalam struktur yang ada dan untuk memperoleh jabatan yang empuk bagi elitenya. Hal ini memang jadi tabiat partai-partai lain di Indonesia sekarang. Tapi seharusnya PAN mencoba memperbaiki keadaan itu.

Tetapi tidak. Akhirnya, dalam pemilihan umum dan pemilihan presiden 2014, PAN makin terseret ke dalam oportunisme. Yang diupayakannya hanyalah agar ketua umum dapat jabatan wakil presiden. Untuk itu ia bersedia mendukung kekuatan yang di masa Orde Baru ingin memadamkan gerakan pro-demokrasi, antara lain dengan KEKERASAN.

Selama ini, meskipun dengan kekecewaan, saya tetap menjadi anggota PAN dan membayar secara teratur iuran keanggotaan. Tetapi kali ini saya tidak punya harapan lagi. Saya menyatakan berhenti dari keanggotaan partai. 

Namun ada yang mengejutkan, sebagai pendiri rupanya Pak GM juga pada 26 Desember 2018 bersama Abdillah Toha, Albert Hasibuan,
Toeti Heraty, Zumrotin kembali bikin Surat Terbuka untuk Amien Rais. Isinya:

Saudara Amien Rais yang kami hormati,

Setelah memerhatikan perkembangan kehidupan politik di negeri kita Indonesia selama beberapa tahun terakhir ini, khususnya kiprah Saudara sendirian ataupun bersama Partai Amanat Nasional (PAN), kami sebagai bagian dari penggagas dan pendiri PAN merasa bertanggung jawab dan berkewajiban membuat pernyataan bersama di bawah ini demi mengingatkan akan komitmen bersama kita pada saat awal pendirian partai sebagai berikut:

  1. PAN adalah partai reformasi yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan menegakkan demokrasi setelah 32 tahun di bawah kekuasaan absolut orde baru yang korup dan otoriter.
  2. PAN adalah partai yang berazaskan Pancasila dengan landasan nilai-nilai moral kemanusiaan dan agama.
  3. PAN adalah sebuah partai modern yang bersih dari noda-noda orde baru dan bertujuan menciptakan kemajuan bagi bangsa.
  4. PAN adalah partai terbuka dan inklusif yang memelihara kemajemukan bangsa dan tidak memosisikan diri sebagai wakil golongan tertentu.
  5. PAN adalah partai yang percaya dan mendukung bahwa setiap warga negara berstatus kedudukan yang sama di depan hukum dan mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara, tidak mengenal pengertian mayoritas atau minoritas.

Dengan menggunakan kacamata prinsip-prinsip PAN tersebut di atas, kami mendapatkan kesan kuat bahwa Saudara Amien Rais (AR) sejak mengundurkan diri sebagai ketua umum PAN sampai sekarang, baik secara pribadi maupun mengatasnamakan PAN, sering kali melakukan kiprah dan manuver politik yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip itu.

  • Saudara makin lama makin cenderung eksklusif, tidak menumbuhkan kerukunan bangsa dalam berbagai pernyataan dan sikap politik saudara.
  • Saudara sebagai tokoh reformasi yang ikut berperan dalam mengakhiri kekuasaan orde baru, telah bersimpati, mendukung, dan bergabung dengan politisi yang beraspirasi mengembalikan kekuatan orde baru ke kancah politik Indonesia
  • Saudara telah menjadikan agama sebagai alat politik untuk mencapai tujuan meraih kekuasaan.
  • Saudara sebagai ilmuwan ilmu politik telah gagal mencerdaskan bangsa dengan ikut mengeruhkan suasana dalam negeri dalam menyebarkan berita yang jauh dari kebenaran tentang kebangkitan PKI di negeri kita.
  • Saudara sebagai orang yang berada di luar struktur utama PAN terkesan berat menyerahkan kepemimpinan PAN kepada generasi berikutnya dengan terus menerus melakukan manuver politik yang destruktif bagi masa depan partai.

Atas dasar pertimbangan semua itu, kami sebagai bagian dari pendiri PAN yang bersama saudara saat itu meyakini prinsip-prinsip yang akan kita perjuangkan bersama, menyampaikan surat terbuka ini sebagai pengingat dari sesama kawan.

Untuk itu barangkali sudah saatnya Saudara mengundurkan diri dari kiprah politik praktis sehari-hari, menyerahkan PAN sepenuhnya ke tangan generasi penerus, dan menempatkan diri Saudara sebagai penjaga moral dan keadaban bangsa serta memberikan arah jangka panjang bagi kesejahteraan dan kemajuan negeri kita.

Salam hormat dari kami semua,

Jakarta, 26 Desember 2018

Abdillah Toha
Albert Hasibuan
Goenawan Mohammad
Toeti Heraty
Zumrotin

Sontak saja, ini sedikit gaduh, bahkan jurnior Drajad Wibowo menulis surat balasan, Jurnalis senior M. Nigara juga menjawab sebagai orang PAN dan dekat dengan Amien Rais menulis untuk semua eyang dengan judul “Ketika Para Eyang Kehabisan Akal Sehat”, ada juga Imam Wahyudi Deklarator PAN Jawa Barat bikin rilis panjang, dan lainnya.

Juga ada yang menulis menukik untuk Pak GM yaitu Dhimam Abror Djuraid dengan judul “NYAPLOK JP DAN NGOBOK-OBOK PAN”

yang menarik juga ada tulisan Asyari Usman (AU) ini sangat menohok dengan antitesanya deri Surat Terbuka para pendiri PAN oleh AU dibalik menjadi Surat Tertutup, tapi akhirnya terbuka juga. Judul AU menulis ini “Surat Tertutup untuk Goenawan Mohammad Cs”.

Semua tulisan yang akhirnya polemik itu dengan sangat mudah didapat silakan banyak sekali jejak digitalnya jadi tak usah kuatir mencarinya.

Lalu bagiamana surat bantah-bantahan adu argumentasi ini terus bergulir? Mungkin juga sedang panas di tahun politik, tapi ya ini adanya. Jadi dalam analisa komunikasi politik, bahwa ini hanya bola salju saja, dimana sebenarnya ini sebuah kubu satu dengan kubu lainnya. “Dengan cara ini maka politik pilpres yang sedang bergulir menjadi terus ada wacana terus, meski sebenarnya ini kan hanya buang energi saja,” ujar Gede Munanto Analis dari Pusat kajian Komunikasi Politik Indonesia (PKKPI) saat dimintai pendapatnya, Jumat, 28/12/18.

Ditambahkan Gede bahwa semua ini sebenarnya retorika politik yang tak ada manfaat besar, karena nama-nama mereka kan tak bertarung langsung, cuma yang harus dilihat, mungkin permainan kisah ini, media seorang sedang di putar ceritannya.

“Sebenarnya ini hanya sebentar munculnya, nanti akan lenyap sendirinya, dan akan ada isu lain lagi. politik kan seperti itu, isu satu menumpuk isu lainnya,” bebernya.

Jadi katanya lagi, biarlah mereka kan sudah pada dewasa bahkan lebih dewasa dari yang saat ini. “Mereka tahu apa yang harus dilakukan dan kita harusnya sudah konsentrasi saja pada masa depan bangsa,” ujarnya.

Jadi saat ini memang jika melihat semua itu yang bisa saja bagian dari drama politik yang dimainkan atau sedang bermain-main drama, meski mungkin juga analisa ini salah. Lantas apakah drama ini gaya Aristotelian atau Brechtian, yang jelas kita tak tahu arahnya. Atau ini hanya drama politik zaman now agar semua itu ingin punya panggung. TABIK!

AM/PRB

Comments

comments