Gagal Recovery, Jokowi Terintimidasi

Oleh Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Persaingan dua kubu Paslon makin ketat. Jarak elektabilitas semakin rapat. Jika ada yang bilang selisihnya di atas 10%, pasti ngawur. Apalagi 20%, itu makin ngelantur. Lalu, berapa selisihnya? Kisaran 5-6%.

Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf terus turun. Sementara Prabowo-Sandi punya trend naik. Dan naiknya makin signifikan. Pilpres masih 3,5 bulan lagi. Diperkirakan angka elektabilitas akan bertemu. Seru!

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda Jokowi recovery. Pola kampanyenya ajeg. Sementara gelombang politik tinggi, dan bisa berpotensi seperti sunami. Memporak-porandakan elektabilitas Jokowi yang semula dianggap savety.

Masalahnya, yang dihadapi Jokowi bukan hanya Prabowo dan Sandi. Yang paling berat saat ini, Jokowi harus menghadapi situasi sosial yang tidak kondusif dan susah diprediksi. Rakyat kecewa, bahkan cenderung sensi. Pertama, soal ekonomi. Kehidupan makin terasa sulit. Kedua, soal hukum. Sejumlah kasus tak ada kepastian. Bahkan cenderung timpang. Ketiga, soal kemampuan Jokowi untuk menghadapi masalah bangsa dan memberi solusi. Rakyat semakin kehilangan simpati. Apalagi jika diingatkan pada ucapan dan janji. Suara rakyat makin lari. Keempat, pola kampanye. Jokowi tak mampu lagi mengemas “branding-nya”” untuk menarik simpati. Bagi-bagi sembako, amplop, sepeda dan sertifikat, dianggap menurunkan “derajat dan kelas” sebagai bapak bangsa. Mestinya cukup diwakili ketua RT. Maksimal lurah.

Sementara Ma’ruf Amin, tak banyak bisa diharapkan. Hadirnya lebih banyak jadi beban. Ini karena faktor buruknya komunikasi politik mantan anggota DPRD DKI dan DPR RI ini. Pertama, soal mobil Esemka. Oktober diproduksi. Tak terbukti. Ini blunder. Kedua, tolak reuni 212 dengan komentar yang tak simpatik. Blunder lagi. Ketiga, respon terhadap isu PKI yang dituduhkan ke Jokowi. Penggunaan kata “Matamu!” tak sesuai dengan psikologi rakyat Indonesia, terutama Jawa. Kelima, istilah makiyyah, yang diplesetkan artinya jadi maki-maki. Sebuah sindiran yang kurang elegan. Kontra-produktif di mata Umat Islam.

Jokowi dan Ma’ruf seperti tak kompak. Jalan sendiri-sendiri. Sempat terjadi ketegangan saat Ma’ruf berbaring sakit. Ketegangan ini dibaca publik ketika Luhut Binsar Panjaitan (LBP) dan Erick Thohir membicarakannya Rumornya soal fundrising. Desas desus Ma’ruf mau diganti. Ma’ruf bangkit dan coba memperbaiki. Buktikan loyalitas ke Jokowi. Turun ke lapangan dan kampanye lagi. Tapi, belum ada tanda-tanda mampu menahan elektabilitas yang terus memburuk.

Inilah alasan mengapa SBY dan Gatot segera memutuskan pilihan. Menentukan dukungan ke Prabowo-Sandi. Turun gunung dan bantu kampanye. SBY bergerilya di Jawa Timur. Gatot mengepung Jawa Tengah. Bersama Sandi berupaya menjinakkan kerumunan banteng.

Kedua jenderal ini turun. Karena potensi kemenangan tampak ada dan terbuka. Kedua jenderal ini bersikap realistis, dan cenderung pragmatis. Begitulah watak umumnya politisi. Siapa yang bakal menang, dukung. Gak menang, pindah ke lain hati. Minimal abstain. Mereka tentara angkatan Darat, terbiasa dengan kalkulasi dan cukup berpengalaman membaca situasi. Tahu keadaan masyarakat dan arah politiknya. Maka, keputusan SBY dan Gatot boleh jadi adalah sinyal kemenangan buat Prabowo-Sandi.

Gelombang dukungan mulai mengalir ke Parbowo-Sandi. Tidak hanya SBY dan Gatot, tapi sejumlah tokoh dan elit bergerilya merapat. Diam-diam meninggalkan Jokowi-Ma’ruf. Pengusaha dan media? Tak ada pilihan kecuali beralih haluan. Mereka adalah orang-orang yang realistis dan pragmatis. Di otak mereka hanya ada satu catatan: bisnis terselamatkan! Tak kenal ideologi. Moral? Itu nomor tiga belas. Yang penting, dukung siapa yang menang. Soal etika, norma, ideologi dan moral, biarlah diurus para relawan.

Mulai bulan depan, kampanye akan semakin panas. Adu jumlah massa dan logistik akan masif. Yang pasti, petahana punya akses birokrasi dan cukup dana. Ini akan jadi mesin politik untuk unjuk kekuatan di musim kampanye nanti. Tapi, jika tak dikelola dengan rapi, akan jadi obyek bully. Akibatnya, jurus moral dan etika akan menghakimi.

Sementara Prabowo-Sandi diuntungkan oleh situasi. Kekecewaan rakyat kepada Jokowi jadi mesin politik yang semakin menjadi-jadi. Mereka bekerja secara militan dan simultan. Semangatnya satu: 2019 Jokowi diganti!

Bagaimana menghadapi militansi umat ini? Jokowi mesti merubah strategi. Pertama, tidak lagi memukul, tapi merangkul. Kedua, perbaiki komunikasi politik. Mengapresiasi lawan, bukan meremehkan. Ketiga, bangun kerendahan hati. Berani minta maaf atas janji politik yang tak ditepati. Kebijakan yang salah di mata rakyat siap memperbaiki. Rakyat yang mana? Stop mengindetifikasi! Ini bentuk recovery. Mungkinkah? Tak mudah! Tapi, jika tak ada langkah recovery, di pilpres 2019, bayangan kekalahan akan semakin mengintimidasi Jokowi.

Jakarta, 29/12/2018

Comments

comments