Setelah Diresmikan Jokowi, Tanjung Lesung Diterjang Tsunami

Oleh: Tjahja Gunawan
(Penulis Wartawan Senior)

Bulan Februari 2015, Presiden Joko Widodo meresmikan Tanjung Lesung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata. Hari Sabtu, 22 Desember 2018, sebagian kawasan wisata tersebut hancur diterjang Tsunami Selat Sunda. Tercatat sebanyak 20 hotel di Kawasan Tanjung Lesung mengalami kerusakan akibat tsunami.

Dua hari kemudian, Jokowi datang ke lokasi bencana, namun cuma lewat saja. Lalu dia pergi ke pinggir Pantai Carita sambil memandang ke tengah lautan. Setiap langkah Jokowi di pinggir pantai merupakan adegan khusus yang sengaja diabadikan oleh setiap juru foto dan kameramen. Mereka sengaja mengambil posisi dari berbagai sudut agar mendapat angle yang pas.

Setelah shooting “film politik” Jokowi di pinggir pantai, beberapa hari kemudian Kementerian Pariwisata melalui akun medsosnya @Kemenpar_RI mengajak masyarakat untuk membangkitkan Pariwisata Tanjung Lesung.

Tidak peka

Ajakan Kemenpar tersebut dinilai tidak peka dengan kondisi masyarakat yang masih diliputi suasana duka akibat Tsunami Selat Sunda. Sementara para petugas dan relawan dari berbagai organisasi kemanusiaan pun masih berjibaku di lokasi bencana mencari dan mengevakuasi korban Tsunami.

Ajakan dari Kemenpar ini sama sekali tidak dilandasi sikap empati. Musibah Tsunami belum sepekan ditambah banyak penduduk yang diliputi kecemasan dan ketakutan, namun Kemenpar membuat woro-woro yang bisa menyinggung perasaan masyarakat dan korban Tsunami.

Setelah banyak diprotes warganet, akhirnya ajakan Kemenpar RI untuk membangkitkan Pariwisata Tanjung Lesung dihapus pada Kamis malam (27/12).

Namun alih-alih meminta maaf kepada masyarakat atas ajakan yang
salah tersebut, pejabat di Kemenpar justru
ngeles dengan menuding masyarkat telah salah persepsi membaca ajakan untuk membangkitkan Pariwisata Tanjung Lesung.

Menurut Kepala Biro Humas Kemenpar, Guntur Sakti sebagaimana dikutip Tirto.id, Jumat (28/12), keputusan menghapus twit itu diambil sebagai respons atas keinginan dan kritik masyarakat. Ia pun mengakui bila penyajian informasi yang telah dilakukan lembaganya menimbulkan persepsi yang keliru. 

Iklan pariwisata

Dari rentetan kejadian tersebut, patut diduga ada muatan promosi Iklan Pariwisata dari kegiatan Shooting Jokowi di pinggir pantai dan ajakan @Kemenpar_RI untuk sesegera mungkin membangkitkan Pariwisata Tanjung Lesung.

Membuat iklan dan promosi wisata tidak salah, tapi seharusnya memperhatikan tempat dan waktunya. Kenapa harus dilakukan dilokasi Bencana Tsunami yang telah menelan korban sebanyak 431 orang meninggal dunia, 7.200 orang luka-luka, 15 orang hilang, dan 46.646 orang mengungsi ? Itu sama saja menari-nari diatas penderitaan korban Tsunami Selat Sunda.

Sekarang mari kita urai mengapa obyek wisata Tanjung Lesung ini dianggap penting oleh pemerintah pusat khususnya Kementerian Pariwisata. Padahal, Kawasan pariwisata di Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang yang memiliki luas lahan 1.500 Ha dan bentangan garis pantai sepanjang 13 km ini, dikuasai dan dikelola perusahaan swasta yakni PT Banten West Java Tourism Development (BWJ), anak perusahaan PT Jababeka Tbk. Jababeka sendiri merupakan pengembang kawasan industri yang didirikan oleh Setyono Djuandi Darmono pada tahun 1989.

Menurut data Kementerian Pariwisata, nilai investasi pengembangan Tanjung Lesung mencapai USD 4 miliar atau sekitar Rp 58,1 triliun (kurs Rp 14.530).

Pariwisata Tanjung Lesung sengaja dijadikan KEK karena wisata pantai ini akan disulap menjadi Desain Induk Pariwisata Kota Air tahun 2020 seperti di Venesia Italia. Tidak bisa dipungkiri kawasan Tanjung Lesung merupakan objek wisata andalan Provinsi Banten, selain objek wisata lainnya seperti Pantai Anyer dan Carita.

Investasi Tidak Jelas

Namun pada saat bencana Tsunami Selat Sunda, Tanjung Lesung menjadi salah satu kawasan di Banten yang banyak disorot karena menelan banyak korban jiwa di lokasi obyek wisata ini.

Pada saat datang ombak besar Tsunami, ratusan orang dari Kantor Kemenpora dan PLN sedang melakukan kegiatan akhir tahun dan gathering di kawasan Tanjung Lesung.

Tanjung Lesung menjadi salah satu kawasan wisata di Pandenglang, Banten yang banyak menawarkan banyak spot bagus, mulai dari pantainya yang jernih, pasir putihnya, hingga pemandangan bawah lautnya yang beragam.

Pemandangan alamnya seperti pantai di Bali membuat Tanjung Lesung masuk ke dalam program 10 destinasi wisata Bali Baru di Indonesia yang potensi wisatanya tengah dikembangkan pemerintah bersama investor.

Nilai investasi pengembangan wisata Tanjung Lesung ini paling besar di antara kawasan wisata dalam 10 Bali Baru, mengalahkan wisata di Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang sebesar USD 3 miliar pada lahan seluas 1.175 ha.

Meski demikian, Gubernur Banten Wahidin Halim meminta Presiden Joko Widodo mencabut izin Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung di Kabupaten Pandeglang.

Alasannya, selama ini progres target yang telah ditetapkan tidak berjalan sesuai perencanaan. Menurut Wahidin, pembangunan KEK Tanjung Lesung selama ini tidak sesuai dengan target.

“Karena saya ditanya beberapa kali sama Pak Presiden mengenai progresnya, sampai saya bilang mendingan cabut saja ijin KEK nya kalau memang sampai sekarang belum ada perkembangan,” ujar Wahidin saat memimpin Rapat Koordinasi Proyek Strategis Nasional di Pendopo Gubernur Banten Lama, Kota Serang, Selasa, 6 November 2018.

Menurut Wahidin, sampai saat ini belum ada laporan perkembangan apa saja yang sudah dikerjakan di KEK Tanjung Lesung. “Dari 7 KEK, baru satu yang sudah jalan yaitu KEK Mandalika tapi selebihnya belum jadi,” kata Wahidin sebagaimana dikutip Tempo.Co

Wahidin meminta agar Banten jangan hanya dijadikan sebagai tempat untuk investasi yang tidak jelas. Senada dengan Gubenur Banten, Bupati Pandeglang Irna Narulita meminta kepada pengelola Tanjung Lesung yakni Banten West Java untuk memiliki komitmen yang jelas mengingat progres pembangunan pengembangan sektor wisata di kawasan Tanjung Lesung terkesan lamban dan belum begitu signifikan.

Penetapan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung sangat boleh jadi hanya mempertimbangkan aspek ekonomi saja tanpa memperhatikan faktor lingkungan khususnya risiko bencana alam seperti Tsunami yang telah terjadi di penghujung 2018.

Setelah bencana Tsunami Selat Sunda, tidak mudah untuk meyakinkan wisatawan domestik maupun asing untuk mau datang ke kawasan pantai khususnya ke obyek wisata Tanjung Lesung. ***

Comments

comments