Robert Tantular Itu Sangat Besar Jasanya

Robert Tantular Itu Sangat Besar Jasanya
By Asyari Usman

Banyak yang gagal paham ketika mendengar berita Rober Tantular (RT), terpidana kasus korupsi Bank Century, sudah bebas sejak Juli 2018. Bebas bersyarat. Dia hanya menjalani hukuman penjara 10 tahun dari akumulasi vonis 21 tahun.

Nah, mengapa ini bisa terjadi? Apa alasan untuk memberikan remisi besar kepada RT?

Banyak yang geleng-geleng kepala. Tak paham. Termasuk kawan-kawan di KPK juga gagal paham. Mereka mengaku heran, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Wakil Ketua KPK Laode M Syarif hanya mengingatkan Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham bahwa pembebasan napi kejahatan tertentu seperti kekerasan terhadap anak dan perempuan, korupsi, terorisme, atau narkoba itu harus ketat sekali pemberiannya.

Pihak Kemenkumham menegaskan bahwa pembebasan bersyarat bagi Pak Robert sesuai dengan ketentuan hukum. Jadi, pantas kita apresiasi langkah pemerintah yang selalu taat hukum. Bravo!

Tetapi, yang lebih fundamental dari itu adalah alasan-alasan yang tak terbaca oleh publik. Pemerintah memang tak mau membeberkan alasan-alasan tersembunyi itu karena tidak ingin dianggap riya atau berbangga diri. Pemerintah ingin tawaddu’. Ingin tampak bersahaja. Tidak mau dipuji-puji.

Ini dia alasan-alasan yang mulia itu.

Pertama, pemerintah Jokowi sangat menghargai hak asasi manusia (HAM). Meskipun divonis sebagai koruptor, RT adalah manusia. Seperti kita lihat, Pak Jokowi itu memiliki rasa kemanusiaan yang sangat tinggi. Dia tak tega melihat orang berlama-lama di dalam penjara.

Kedua, RT sangat berjasa bagi dunia perbankan Indonesia. Dia berhasil membesarkan nama Bank Century. Kalau Anda klik di Google, maka kata “Bank Century” terkumpul sebanyak 693,000,000. Begitulah Pak Robert membesarkan Bank Century. Nama bank ini muncul di mana-mana. Dibicarakan di setiap pojok. Ditulis, diulas, dibahas oleh banyak pakar dari segala macam latarbelakang.

Sebagai perbandingan saja, kata “Bank Mandiri” hanya muncul 87,800,000. Jauh di bawah popularitas Bank Century. Bank BRI muncul 74,300,000. Sedangkan Bank BNI hanya 55,600,000.

Luar biasa Bank Century yang dipimpin oleh RT. Bank of Tokyo saja hanya muncul 163,000,000 di Google. HSBC Bank yang begitu luas jaringannya, hanya muncul 97,200,000. Sekali lagi, Bank Century muncul 693,000,000 kali di Google.

Bayangkan jasa Robert Tantular membesarkan nama Bank Century. Cuma, memang sayang sekali bank ini harus ditutup karena Pak Robert melakukan “kesilapan kecil”. Kalau saya menjadi Pak Jokowi, saya akan usulkan agar RT menghidupkan kembali Bank Century. Karena bank ini sangat top di mesin Google. Sayang sejuta sayang kalau popularitas ini tidak dimanfaatkan.

Sebagai contoh, New Bank Century nanti bisa dengan mudah menjaring nasabah besar di seluruh dunia. Dengan begini, Pak Jokowi bisa menciptakan ‘capital influx’ (arus masuk duit) ke Indonesia dalam jumlah puluhan miliar dollar. Apalagi Pak Robert telah memiliki jaringan yang luas.

Jadi, alangkah bagusnya kalau terpidana korupsi Bank Century itu dibantu untuk berkiprah kembali di dunia perbankan. Karena beliau ini sangat piawai. Sangat fleksible. Mudah bergaul. Sangat ‘generous’. Sangat dermawan. Semua orang suka. Para pejabat suka. Suka ‘ngobrol dengan beliau. Suka menelefon beliau. Suka berjumpa dengan beliau. Pokoknya Pak Robert punya banyak keistimewaan. Sekali lagi, sangat rugi Pak Jokowi kalau tidak memanfaatkan kehebatan RT.

Kemudian alasan yang ketiga pembebasan awal Pak Robert ialah bahwa beliau ini berjasa besar meningkatkan taraf hidup ‘rakyat’ Indonesia. Memang tidak semua rakyat. Hanya beberapa belas atau beberapa puluh orang saja. Tapi ‘kan tetap disebut rakyat.

Beberapa puluh orang rakyat itu mungkin selama ini belum pernah melihat uang miliaran rupiah. Nah, semasa Pak RT memimpin Bank Century, beberapa puluh rakyat Indonesia itu bisa masuk ke kategori kelas atas. Luar biasa. Pak Robert mampu menaikkan taraf hidup mereka jauh di atas rata-rata.

Nah, kalau Pak Robert kembali memimpin bank, katakanlah New Bank Century tadi itu, bukan tak mungkin beliau akan meningkatkan taraf hidup rakyat yang jumlahnya lebih banyak lagi. Kalau dulu hanya belasan orang yang bisa ditingkatkan taraf hidupnya, mungkin nanti bisa menjadi puluhan atau ratusan.

Kelihatannya Pak Robert itu bertangan dingin dalam mengelola bank. Beliau paham betul bagaimana cara menarik minat para pejabat. Dia juga tahu persis bagaimana cara menenteramkan para penguasa.

Jadi, publik harus paham bahwa Robert Tantular jauh bebeda dengan Ustad Abu Bakar Baasyir. Ustad Abu tak punya daya tarik. Tak bisa meningkatkan taraf hidup ‘rakyat’. Tak disukai oleh para penguasa. Kata penguasa, Ustad Abu tak cinta NKRI dan Pancasila.

Sebaliknya, Pak Robert sangat ‘cinta’ NKRI dan sangat pancasilais. Dia ‘cinta’ kepada para penguasa sebagai bentuk cinta NKRI. Sebab, para penguasalah yang ‘menjaga’ NKRI. Robert Tantular suka ‘berbagi rezeki’ kepada beberapa belas orang rakyat sebagai bentuk pengamalan Pancasila.

(Penulis adalah wartawan senior)

Comments

comments