Disayangkan Prinsip Penting Kejujuran Seorang Pemimpin Tidak Dimiliki Jokowi Tergambar Dalam Paska Debat CAPRES 2019

Calon Presiden 2019-2024, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, dalam debat capres/ist

PRIBUMINEWS.CO.ID – Secara umum debatnya lebih terbuka namun kurang berkualitas, Jokowi tampil agak congkak dan ovensif menyerang pribadi capres 02.
Jokowi mengkampanyekan prestasi menyesatkan publik selama 4 tahun berkuasa. Penyesatan data ekonomi terutama pangan dan pertanian oleh Jokowi disesalkan,yaitu pembohongan publik mungkin baginya yang penting masyarakat bawah rakyat pedesaan terkecoh,terpukau dan percaya.Janji kampanye tentang kedalautan pangan semakin jauh dari tujuan, karena fokusnya hanya stabilitas harga pangan. Dari pernyataannya dalam debat itu semakin memperlihatkan bahwa kebijakan impor pangan akan tetap dilakukannya diera ke-2 pemerintahannya mendatang.
Dan ini sangat membahayakan bagi pertahanan dan keamanan Indonesia dengan merusak kedalautan pangan rakyat

Harusnya capres Prabowo Subianto membantah kampanye penyesatan Jokowi tersebut
agar rakyat mengetahuinya,sayang Prabowo tidak detil menguasai angka2 ekonomi terutama terkait pangan dan pertanian. Tetapi dari pernyataannya jelas komitmennya membela petani dan kedalautan pangan,membela kepentingan rakyat dgn harga pangan terjangkau.

Jokowi menyampaikan beberapa kesesatan data yang melenceng jauh pada Debat Kedua

  1. Bahwa 2018 total impor jagung 180.000 MT, padahal data akuratnya menunjukkan impor jagung semester 1 mencapai 331.000 MT. Sehingga total impor jagung 2018 mencapai 737.228 MT.
  2. Jokowi menyampaikan total produksi beras Tahun 2018 sebesar 33 juta Ton dan Total Konsumsi 29 juta ton, padahal data yang benar adalah data konsumsi beras nasional 2018 sebesar 33 Juta Ton dan Data produksi plus impor sebesar 46,5 juta Ton. Katanya surplus mencapai 3,5 juta Ton, tetapi kenapa 2018 ada impor beras 2,5 juta Ton.
  3. Jokowi menyatakan telah membangun lebih dari 191.000 KM panjang jalan desa, padahal itu adalah total panjang jalan desa yang dibangun sejak jaman Presiden Soekarno, Soeharto, Habibie, Megawati, SBY dan Jokowi hingga 2018. Mengapa semuanya diklaim tanpa sisa…?
  4. Kenapa presiden Jokowi tidak bisa membedakan status kepemilikan tanah, antara HGU dan SHM, terjadi kekacauan pemahaman, apakah Menteri Agraria tidak memberikan informasi yang cukup tentang status kepemilikan tanah Prabowo di Kaltim dan Aceh?. Lalu bagaimana dengan konsesi tambang dan kebun yang diberikan era Jokowi yang luasnya juga tak terbayangkan?kepada asing dan pengusaha WNI turunan China Tiongkok.
  5. Presiden menyatakan bahwa impor dilakukan untuk cadangan pangan, padahal overstock, lalu untuk siapa hasil impor beras dan gula sebanyak itu? .berakibat memukul harga gabah dan gula ditingkat produsen..gula lokal menumpuk digudang Bulog. Operasi pasar…? tidak mampu menurunkan harga beras dan gula stabil tinggi, beras impor tidak laku dijual, terserap baru mencapai 8,5%. dari 1,6 juta ton.
  6. Jokowi bilang telah membangun 47 bendungan besar, tunjukan dimana, Mungkin dimaksud membangun embung besar yang mampu memberikan peningkatan hasil produksi pertanian. Bukannya data yang dirilis luas lahan baku sawah yang dirilis pemeri ntah 2018 tidak akurat melenceng jauh seluas 129.083 ..? alias menyusut tajam?. dari 11,2 juta HA luas lahan sawah panen di era Soeharto-SBY 129.083 Ha.
  7. Jokowi bilang sudah buat program pertanian 1 juta hektar di Kalimantan dan Papua. Kenapa proyek gagal diungkap bukankah hingga sekarang tidak ada kabar beritanya..? Justru Papua sekarang diserbu konsesi perkebunan swasta.. ?

Tidak patut seorang presiden mengkampanyekan data tak akurat kepada rakyat,apalagi disampaikan dengan mimik tanpa dosa. Prinsip penting yang harus dimiliki adalah kejujuran seorang pemimpin.

Jakarta, 18/02-2019
Rahman Sabon Nama
Ketua Umum DPN APT2PHI

Comments

comments