MODERATOR DAN FORMAT ACARA YANG MEMBODOHKAN

MODERATOR DAN FORMAT ACARA YANG MEMBODOHKAN
Oleh: Radhar Tribaskoro

Pada debat capres rakyat mengharap para capres memberikan gambaran tentang betapa indah Indonesia bila mereka memimpin. Rakyat ingin tahu bagaimana indonesia menjadi lebih kuat, lebih adil dan lebih makmur. Rakyat ingin diyakinkan bahwa gambaran tersebut bukan hanya ilusi atau mimpi, namun bisa dijangkau dan diwujudkan.

Capres Jokowi gagal menyampaikan semua itu. Ia hanya menyajikan angka-angka dari apa yang telah ia lakukan dalam 4,5 tahun terakhir. Angka-angka yang ia sajikan terbukti berlebihan. Jokowi nampak tidak tampil tulus dan kelihatan berstrategi dengan pemilih. Sementara itu visi indonesia maju yang diusungnya tetap tak tergambarkan.

Sementara itu, Prabowo kembali menegaskan pandangannya bahwa Indonesia pantas makmur sepanjang kebijakan ekonomi tidak berpihak kepada orang asing. Prabowo memiliki memiliki visi yang jelas tentang swasembada energi, pangan dan air. Namun visi itu masih belum terjabarkan dalam program aksi yang nyata. Prabowo tidak banyak menyajikan angka-angka, namun menarik melihat ia mulai menyerang lawannya. Prabowo seperti halnya Jokowi belum menyajikan gambaran yang utuh dan mudah dipahami rakyat tentang indonesia yang diinginkannya.

Secara umum debat capres kedua kemaren malam berjalan terpatah-patah. Tidak terjadi dialog yang mulus diantara kandidat dengan kandidat, maupun kandidat dengan pemirsa. Semua topik tidak terbahas dengan sempurna, pemirsa mengalami kesulitan serius dalam menilai kandidat presiden yang tampil.

Ini adalah kegagalan serius dari sebuah acara yang disebut debat calpn presiden.

PERAN MODERATOR DAN FORMAT ACARA

Orang dengan mudah menyalahkan kandidat atas presentasi yang buruk. Atau menyalahkan waktu yang terlalu singkat.

Tetapi saya menyalahkan format debat dan moderator. Peran moderator menurut saya bisa jauh lebih baik. Moderator kemarien hanya berfungsi membuka dan menutup sesi, membuka dan membaca pertanyaan, lalu menjadi time keeper. Fungsi-fungsi tersebut bukannya tidak penting, tetapi manfaatnya hanya melancarkan acara dari sudut waktu saja. Sementara dari sisi substansi debat telah gagal memberi kesempatan kepada kandidat untuk menjelaskan secara utuh indonesia yang ingin mereka bangun. Padahal rumusan pertanyaan sudah cukup bagus.

Saya membayangkan moderator debat seperti Karni Ilyas di ILC. Karni melontarkan pertanyaan namun ia tidak sungkan memberi pertanyaan2 tambahan kalau ia menganggap keterangan yang diberikan masih belum cukup atau belum jelas. Karni sangat mengerti bahwa orang yang ia layani dalam acaranya itu adalah pemirsa. Ia ingin bukan cuma ia yang mengerti, tetapi semua pemirsa ikut mengerti.

Karni juga menghubungkan keterangan seorang narasumber dengan narasumber lain, sehingga terjadi dialog. Dialog itu memperluas diskursus dengan aneka sudut pandang. Dalam kesempatan itu sekali lagi Karni melayani pemirsa yang ingin melakukan komparasi untuk memperkuat analisis mereka.

Moderator kemaren jelas bukan Karni Ilyas. Butuh pengalaman berpuluh tahun dan pengetahuan mendalam untuk memiliki wisdom seorang moderator yang andal.

Untuk menghadirkan moderator sekelas Karni jelas format debat harus berubah. Tidak perlu dua moderator, tetapi cukup satu saja. Arena debat itu hanya perlu diisi 3 orang saja, dua capres dengan moderatornya.

Pertanyaan mengalir dari moderator yang direspon oleh capres. Karena capres boleh mengomentari respons capres lain maka bisa tercipta debat. Namun debat mengalir melalui moderator sehingga moderator dapat mengantar dan mengalihkannya untuk memasuki wilayah-wilayah baru.

Debat capres itu jangan didesain seperti kelompencapir atau cerdas cermat.

Debat capres adalah tentang pertarungan narasi. Debat itu tempat bagi capres menguraikan dan mengembangkan narasi mereka. Tugas moderator membuat narasi itu mudah dimengerti oleh publik.—

Comments

comments