Mengkritisi pernyataan INALUM ada 9 Keuntungan divestasi 51% saham Freeport

Pelabuhan Freeport

Mengkritisi pernyataan INALUM ada 9 Keuntungan divestasi 51% saham Freeport .

Pernyataan INALUM dikutip media pada 24/2/2019 yang membeberkan 9 keuntungan berkaitan dengan akuisisi 51% saham Freeport lebih banyak menyesatkan daripada mengemukakan realitasnya, pernyataan ini ada kesan untuk menutupi sesuatu masalah dengan membesar-besarkan yang sebenarnya tidak berpengaruh apakah divestasi 51% itu terjadi atau tidak.
Keuntungan finansial seharusnya disebutkan dalam Valuasinya bukan dinyatakan angka-angka parsial. Saya kira INALUM tahu bagaimana menyajikan parameter keuangan ketika satu proyek itu menguntungkan secara finansial atau tidak. Jangan ditutup-tutupi dan dibesar-besarkan yg tak perku, kalau kenyataannya tidak seperti itu, pada akhirnya masyarakat bisa marah. Logikanya sederhana, kalau memang dapatnya segitu tapi “tetep miskin” duwitnya di”curi” siapa. Jadi INALUM dalam membuat pernyataan jangan memyesatkan.kalau memang secara Valuasi nilai Freeport tidak setinggi yang dipublikasikan terutama dikaitkan dengan investasi smelter dan masalah lingkungan.

Keuntungan manajemen yg dikatakan Inalum, akan tetapi pada kenyataannya Komut dan Dirut masih diisi orang2 dari Freeport mac Moran, kalau kenyataanya tidak memiliki otoritas dalam pengurus perusahaan ?, maka bisa2 pihak yg ditunjuk cuma sebagai “proxy” saja. dan bahkan operasional masih dipegang oleh “Freeport”, kalau mau belajar yg benar, sesorang harusnya memiliki otoritas. Karena kalau cuma sebagai pendamping bangsa ini tidak akan mampu berdiri sendiri.

Posisi dibawah pemerintah seperti kata Inalum, maka Inalum harus memahami kondisi ini karena amanah undang2, jadi bukan karena divestasi, sehingga pernyataan Inalum justru terkesan melecehkan Undang2 dan menyesatkan.

Karena dilakukan akuisisi atau tidak , UU Minerba sudah seharusnya KK berubah menjadi IUPK.

Begitu juga dengan kata Inalum bahwa cadangan emas terbesar di dunia, Terminologi cadangan tidak ada dalam bentuk nilai uang, harus tonase dan kadar. Pernyataan ini juga sangat menyesatkan dan berbahaya. kalau pernyataan dalam bentuk uang bisa dipersepsikan sebagai VALUASI tambang tersebut. kalau niiai tambangnya sebesar itu maka sangat bodoh Freeport menjualnya dengan nilai USD 3.85 miliar.

Kesan yang kuat PT INALUM hanya ingin menunjukan bahwa “take over” tersebut sangat cerdas dan kalau sampai muncul persepsi bahwa angka tersebut adalah nilai tambang, maka bisa membuat penilaian publik yg salah dan kalau tambang itu memang nilainya segitu besar dan ternyata rakyat cuma dapat yg kecil, akan ada pertanyaan. Duwitnya siapa yg nyuri. INALUM harus mengkoreksi ini.

Masyarakat Papua diuntungkan, informasi yg didapatkan dari Pak Simon, sewaktu beliau menjadi Dirjen, seharusnya masyarakat Papua dapat gratis 10% saham Freeport, sebagai kompensasi sungai Akwa yg dipergunakan sebagai bagian dari “proses produksi”, karena sungai tersebut tidak dapat difungsikan secara ekonomi oleh masyarakat PAPUA kecuali untuk kepentingan tailingnya Freeport. Dan menurut pak Simon, James Moffet sudah setuju kompensasi 10% tersebut gratis dan pernah dikemukakan kepada Gubernur sekarang, sekitar 4 tahun lalu. Justru pernyataan menguntungkan ini malah memalukan, seharusnya gratis, disuruh membayar kok disebut menguntungkan.

Keuntungan 6, 7 dan 8 dan 9, ada atau tidak adanya akuisisi 51% , tetap akan terjadi, justru skali lagi, menunjukan Inalum sangat mengecewakan karena tidak ada perubahan mendasar walau pemerintah Indonesia mengeluarkan dana yg begitu besar.
Menyoroti Transfer teknologi, juga menunjukan bahwa seolah2 Freeport “memberikan” teknologi dan jerih payah tenaga ahli Indonesia dianggep pemberian teknologi dari asing. Mereka secara pribadi berjuang meningkatkan diri dan berkompetisi dengan koleganya dari negara lain. Kalau disebut dengan divestasi 51% Indonesia lebih melek teknologi, ini, sangat merendahkan tenaga ahli Indonesia dan bangsa Indonesia secara umum. Selama ini Freeport pun juga beli teknologi dan walau sudah dibeli tetap hak paten teknologi tersebut merupakan milik providernya.

Pernyataan INALUM secara umum, cenderung sebagai pernyataan politik daripada seorang profesional. Sebaiknya INALUM menjelaskan program road mapnya kedepan, bagaimana bangsa ini lebih bisa membanggakan dalam pengelolaan SDA dan memiliki kedaulatan.

Jakarta 26 Febuari 2019
Direktur Eksekutif CIRUSS

Budi Santoso.

Comments

comments