Pekerjaan Berat Kompas, Mengembalikan Independensi

Ninuk berjalan bersama Prabowo/indosiar

Oleh: Tjahja Gunawan
(Mantan Wartawan Kompas, Penulis Buku)

Di Twitter, wartawan senior Kompas yang telah pensiun Renne Pattiradjawane membuka “pertempuran” dengan Pemimpin Redaksi Kompas Ninuk Mardiana Pambudy.

Dalam cuitannya Rene menyebutkan @renepatti : Sejak kapan Pemred @ninuk_pambudy di masa-masa kampanye pilpres nempel disalah satu calon….nanti semboyannya berubah menjadi “ Amanat Nurani Hati 02” siapa yang bertanggung jawab.

Akun @Ninuk_pambudy kemudian menjawab sambil melampirkan fotonya bersama Presiden Jokowi dan para petinggi Kompas lainnya : Ini bagian dari menjaga independensi karena pada Januari 2019 sudah bertemu Joko Widodo.

Jawaban Ninuk dijawab kembali oleh @renepatti : That was not the point…..bukan tugas pemred utk jaga independensi dg pres/capres….Steve Jobs punya ungkapan bagus: If you want every one happy don’t be a leader. Sell Ice Cream!!!! capiche???

Lalu @ninuk_pambudy membalas: Terima kasih masukannya. Tiap orang punya jalannya sendiri. Dan saya yakin, saya tidak sedang jualan es cream.

Pemimpin Redaksi Ninuk Pambudy (kanan) kedapatan sedang jalan bersama Capres Prabowo di sebuah lapangan hijau, dengan latar belakang sejumlah sapi perah, dan bukit hijau./Indosiar

Sebagai orang yang pernah bekerja bersama-sama Ninuk Mardiana Pambudy di Kompas, seharusnya Renne bisa menanyakan langsung latar belakang dan motif Ninuk “mendekati” Prabowo. Pertanyaan yang sama, mengapa Ninuk dan para petinggi Kompas lainnya ramai-ramai bertemu dengan Jokowi bulan Januari 2019 lalu.

Bagi saya, terlalu childish kalau seorang wartawan senior seperti Renne mempersoalkan pertemanan seorang wartawan atau pemred dengan pihak lain.

Justru wartawan apalagi Pemred harus banyak memiliki teman dan nara sumber agar bisa memperoleh informasi lengkap dan utuh dari berbagai pihak. Bekerja di media menjadi jurnalis, justru harus memperluas jejaring dan bukannya membatasi pergaulan.

Sikap yang ditunjukkan Ninuk dengan berteman baik dengan dua capres yang bertarung dalam Pilpres 2019, sangat boleh jadi merupakan upaya untuk mengembalikan independensi Kompas.

Saya pernah menjadi bagian dari Kompas dan ikut menyaksikan sendiri bagaimana pada Pilpres tahun 2014, Kompas dengan gegap gempita mendukung Jokowi.

Ketika itu isi Harian Kompas penuh dengan berita, tulisan serta artikel yang berisi puja puji terhadap Jokowi. Tidak hanya konten berita dan tulisan tetapi iklan politik yang terpampang di Kompas waktu itu juga hanya dari pasangan Jokowi-Jusuf Kalla.

Waktu itu Jokowi yang belum lima tahun rampung menuntaskan sebagai Gubernur DKI Jakarta, sudah ikut dalam kontestasi Pilpres. Sama dengan Pilpres 2019, saingan Jokowi lima tahun lalu adalah Prabowo.

Yang membedakan hanya pasangan calon wapresnya saja. Tahun 2014, Jokowi berpasangan dengan Jusuf Kalla sedangkan Prabowo pasangannya Hatta Rajasa.
Kala itu, saya masih bekerja sebagai wartawan Kompas sebelum akhirnya pensiun dini tahun 2016.

Saat Pilpres 2014, saya mengetahui dinamika yang berkembang dalam rapat-rapat redaksi Kompas. Dan waktu itu Ninuk Mardiana Pambudy belum menjadi Pemred Kompas. Beliau baru diangkat menjadi Pemred Kompas menjelang akhir tahun 2018 lalu.

Pendiri Kompas Jakob Oetama yang biasanya selalu ikut dalam rapat redaksi pagi dan selalu memantau berbagai peristiwa penting, sejak 2014 beliau sudah berlepas diri dari urusan redaksi karena faktor kesehatan.

Biasanya keputusan akhir dari setiap isu-isu politik yang akan diangkat Kompas senantiasa menunggu sinyal dan fatwa dari Jakob Oetama (JO). Setelah konten tidak lagi dikontrol JO, Kompas seperti ayam kehilangan induk. Bukan hanya karena dia pendiri Kompas, tetapi JO senantiasa memberi perspekatif jauh ke depan tentang peran yang harus dimainkan Kompas dalam peta politik kebangsaan.

Setelah JO berlepas diri, saya merasakan ada sesuatu yang terlepas dari Kompas yang selama ini menjadi modal utama kepercayaan pembaca yakni independensi. Hilangnya independensi itu terlihat pada Pilpres 2014.

Harapan masyarakat untuk bisa membaca berita yang berimbang dan objektif seputar Pilpres 2014, tidak bisa didapat di Harian Kompas. Dampaknya, banyak diantara pembaca yang memutuskan berhenti berlangganan Kompas.

Dalam setiap pelaksanaan Pilpres, biasanya para calon presiden berlomba datang dan bertamu ke Kantor Kompas sekaligus sowan ke Pa JO. Namun pada tahun 2014, hanya Capres Jokowi yang datang ke Kantor Kompas.

Kemana Capres Prabowo Subianto? Waktu itu saya mendapat informasi bahwa PS merasa diperlakukan tidak adil oleh media termasuk Kompas. Tidak puas dengan info tersebut, saya kemudian melakukan investigasi sendiri. Ketika itu, saya merasa ingin bertemu langsung dengan Prabowo untuk menanyakan hal tersebut.

Setelah menghubungi berbagai nara sumber yang saya kenal, akhirnya saya dipertemukan oleh salah seorang direktur BUMN dengan tangan kanan Prabowo yakni Bung Ony di Jalan Cisanggiri Jakarta.

“Pa Prabowo bukan ingin dirinya disanjung-sanjung secara berlebihan tapi media seharusnya bisa memberitakan secara objektif, professional dan proporsional,” kata Bung Ony waktu itu.

Walaupun tidak bertemu dengan PS tetapi dari Bung Ony sejumlah pertanyaan yang mengganjal sudah terjawab. Misalnya, Mengapa PS tidak mau diwawancara Kompas? Mengapa PS tidak pasang iklan politik di Kompas ?.

Ketika itu pun, kata Bung Ony, Tim Sukses Prabowo-Hatta sudah mengusulkan untuk memasang iklan politik di Kompas meskipun PS tidak bersedia diwawancara media. Pertimbangan perlunya placing iklan di Kompas, antara lain karena faktor segmentasi pembacanya. Namun, usulan tersebut tetap tidak disetujui PS.

Sebelum bertemu dengan tangan kanan Prabowo, sebelumnya saya juga bertanya kepada CEO Kompas Gramedia waktu itu, Agung Adiprasetyo. “Mas Agung, kenapa pasangan Prabowo-Hatta tidak memasang iklan di Kompas?”.

Mas Agung mengatakan, “Kita sudah mengirim Account Executive (AE) dan memberikan penawaran kesana, tapi tidak mendapat respon. Ya kita tidak bisa memaksa,” katanya.

Setelah pelaksanaan Pilpres 2014 berakhir, hubungan diantara sejumlah elite politik kembali cair termasuk para politisi dari parpol yang berbeda koalisi.

Sebaliknya hubungan Prabowo Subianto dengan media termasuk Kompas, belum juga pulih waktu itu. Baru akhir-akhir ini saja, PS mau diwawancara media massa seperti diantaranya RCTI, SCTV dan Indosiar.

Dilemanya sekarang bagi Ninuk Mardiana Pambudi, dia mungkin ingin “mendekat” kepada dua capres tapi ketika berusaha mendekati PS, disitu juga ada suaminya Ninuk yakni Rahmat Pambudy.

Saya bukan hanya kenal dengan Mbak Ninuk, tapi saya juga berkawan baik dengan Mas Rachmat, dosen dan ahli pertanian. Dia sudah lama bersama PS yakni sejak sama-sama di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sampai sekarang.

Namun, Saya mengetahui betul bagaimana sikap profesional dan pekerjaan Mbak Ninuk sebagai wartawan tidak bisa diganggu dan diintervensi suaminya.

“Saya di rumah Memang sebagai ‘kepala negara’, tapi Saya sama sekali tidak bisa mempengaruhi pekerjaan istri sebagai wartawan,” begitu kira-kira pernyataan Mas Rachmat dalam obrolan santai dengan saya beberapa tahun lalu.

Jadi, kalau sekarang Pemred Kompas Ninuk Mardiana Pambudy berusaha mendekati kubu petahana maupun oposisi, sangat boleh jadi bukan semata untuk mengembalikan reputasi dan independensi Kompas tetapi sekaligus ingin mengajak masyarakat luas untuk tetap bersatu meskipun pilihan politik berbeda. Wallohu A’lam.

Comments

comments