Kopi Indonesia Dipersulit, Filipina Tolak Barter Investasi

Hambatan dagang atas produk kopi kemasan asal Indonesia di Filipina tampaknya masih akan bertahan. Terbaru, Filipina menolak tawaran dari Indonesia untuk berinvestasi merndirikan pabrik kopi olahan di negara tersebut.

Seperti dikutip dari The Philipine Star, Wakil Menteri Pertanian Filipina Segfredo Serrano mengungkapkan, RI menawarkan rencana investasinya di sektor tersebut sebagai bagian dari lobi-lobi agar hambatan dagang terhadap ekspor kopi kemasan dicabut. Namun, Pemerintah Filipina tidak menerima penawaran Indonesia tersebut.

“Indonesia ingin kita mencabut SSG [special safeguard) secara permanen dengan menawarkan rencana investasi. Namun, di hukum kami tidak berlaku seperti itu. Kami tidak akan bersedia mencampurkan urusan investasi dengan kebijakan perdagangan,” tegasnya, Selasa (19/3).

Menanggapi kabar tersebut, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Adhi S. Lukman mendesak pemerintah untuk terus meyakinkan Filipina bahwa produk kopi kemasan RI tidak melakukan kecurangan perdagangan.

“Kami yakin, Indonesia memang memilki produk kopi kemasan yang efisien dan berkualitas dari sisi produksinya. Jadi, tidak adil jika produk kita dianggap ancaman bagi mereka,” ujarnya.

Dia mengatakan, PT Mayora Indah Tbk. memang telah berkomitmen untuk membangun pabrik di Filipina pada tahun ini. Mayora merupakan pemasok kopi kemasan ke Filipina terbesar dari Indonesia.

Langkah tersebut, menurutnya, sesuai dengan permintaan produsen kopi olahan lokal Filipina. Mereka selama ini mengeluh, perusahaan asing hanya mau mengekspor kopi kemasan ke negaranya tanpa mau berinvestasi.

Direktur Utama Mayora Andre Sukendra Atmadja berharap, pemerintah mampu meningkatkan upaya lobi-lobinya kepada Filipina. Pasalnya, sejak dikenai SSG tahun lalu, ekspor kopi kemasan Mayora terganggu. Tahun lalu, Mayora merugi US$16 juta akibat kebijakan SSG Filipina. Terlebih, ekspor ke Filipina memiliki porsi 25%—30% terhadap total ekspor produk perseroan.

Demi mempermudah akses pasarnya ke negara tersebut, Mayora pun berencana berinvestasi membangun pabrik senilai US$70 miliar di negara tersebut. Dia menargetkan rencana tersebut dapat terlaksana pada kuartal IV/2019. “Kami berharap pemerintah kembali melobi Filipina demi menjaga pangsa pasar ekspor kita di sana,” katanya.

Saat dimintai konfirmasinya, Direktur Pengamanan Perdagangan Kementerian Perdagangan Pradnyawati mengatakan, saat ini pemerintah belum bisa berkomentar terkait kebijakan Filipina tersebut.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, ekspor produk kopi instan ke Filipina berkisar US$300 juta—US$400 juta per tahun. Negara tersebut merupakan salah satu tujuan ekspor kopi olahan utama RI. |BISIND/RED

Comments

comments