Prabowo Biasa Buat Survei dengan Responden 100,000 Orang

By Asyari Usman

Berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, kubu petahan mengeluarkan biaya ratusan miliar rupiah untuk survei-survei yang respondennya hanya 1,200 orang saja. Sebaliknya, Prabowo Subianto (PS) dan Sandiaga Uno melakukan survei sendiri, langsung di lapangan. Respondennya, per survei, bisa mencapai 100,000 orang atau bahkan lebih. Hebatnya, ‘margin of error’ survei mereka ini 0%.

Responden 100,000 orang itu disurvei dalam beberapa jam saja. Kok bisa? Bisa. Dan lebih akurat dibandingkan dengan survei-survei yang menyetop responden di jalan-jalan. Atau responden yang didatangi ke rumah-rumah.

Nah, 100,000 orang itu disurvei secara simultan. Mereka berkumpul di satu tempat secara sukarela. Rela berhujan, ikhlas berpanas. Bukan seperti survei biaya tinggi yang sering susah mencari responden.

Mana yang lebih valid?

Pastilan survei Pak PS dan Sandi. Beliau berdua ini tidak pakai metode tanya-tanya responden. Sebaliknya, respondenlah yang meneriakkan jawaban kepada mereka. Kalau jumlah responden LSI Denny JA, SMRC, Indikator Politik, PoliticaWave, Litbang Kompas, dan lembaga-lembaga survei lainnya rata-rata 1,200 atau 1,500 orang, jumlah responden Pak PS atau Sandi bisa mencapai 30,000 orang, 40,000 orang, 50,000 orang, 80,000 orang. Bahkan bisa lebih.

Pak PS dan Sandi tidak pakai multi-stage sampling, convenience sampling, judgement sampling atau yang lainya. Yang mereka pakai adalah metode “massive crowd sampling”. Belum pernah dengar, bukan? Itulah sampel khalayak jumlah besar. Inilah yang beliau berdua lakukan di banyak kota dan pedesaan yang mereka datangi.

Masih lagi mereka di atas mobil, para responden yang berjumlah puluhan ribu itu tak henti-henti meneriakkan “Prabowo, Prabowo” atau “Sandi, Sandi” sebagai jawaban untuk pertanyaan tunggal “Siapa yang kalian pilih sebagai presiden?”.

Kalau mereka pakai pentas atau podium, baru mau naik saja para responden di stadion atau aula-aula besar langsung memekikkan jawaban untuk pertanyaan tunggal tadi. Mantapnya, jawaban mereka disertai dengan acungan ‘dua jari’ sebagai pelengkap.

Begitulah Pak PS dan Sandi melakukan survei yang keabsahannya tak terbantahkan. Dengan tingkat elektabilitas 100%. Baik itu dengan responden 30 ribu, 40 ribu, 50 ribu orang maupun 100 ribu. Mereka sudah lakukan ini di ribuan tempat yang mereka datangi. Termasuklah Medan, Kisaran, Rantauprapat, Pekanbaru, Dumai, Batam, Bukittinggi, Jambi, Palembang, Bengkulu, Jakarta, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Cianjur, Jogjakarta, Solo, Purbalingga, Madura, Makassar, Ambon, Lombok, dst, dst.

Yang sangat mengherankan, Jokowi dan Ma’ruf Amin (Ko-Ruf) malahan ikut menjadi ‘peneliti’ (reasearcher). Ketika paslon 01 ini berkunjung ke berbagai tempat, warga yang disangka responden 01 yang berdiri di kiri-kanan jalan, malah meneriakkan “Prabowo, Prabowo”. Tak terkatakan betapa anehnya. Seolah-olah paslon Ko-Ruf tidak punya pendukung lagi.

Jadi, Prabowo-Sandi tidak hanya sedang menginspirasi perubahan menuju Indonesia yang berdaulat penuh, adil dan makmur. Mereka bahkan menciptakan metode baru dalam ilmu survei. Yaitu, “massive crowd sampling” dengan ruang kesalahan (margin of error) nol persen.

Cuma, metode ini tidak mudah dilakukan. Jokowi dan Kiyai Ma’ruf selalu gagal. Orang tidak rela berkumpul. Apalagi dikumpulkan dengan paksa. Walaupun disediakan macam-macam insentif. Sekian kali Ko-Ruf terpaksa membatalkan acara silaturahmi yang disiapkan dengan suasana mewah. Gara-gara tak cukup ‘responden’ yang datang.

(Penulis adalah wartawan senior)

Comments

comments