PRABOWO & KULTUR BANYUMAS

Capres 02, Prabowo saat kampanye di Jawa Tengah, masa yang membludak ini meyakinkan bahwa Prabowo makin dicintai rakyat/ ist-prb

Pada September 1998, Tabloid DETAK No. 9/I, yang dipimpin oleh Eros Djarot, menulis laporan utama mengenai buka kartunya Sumitro Djojohadikusumo atas seluruh gosip yang menimpa anaknya, Letjen TNI (Purn.) Prabowo Subianto. Eros Djarot menganggap bahwa kesaksian Sumitro itu penting dan menilai bahwa apa yang sudah dilakukan Prabowo waktu itu menunjukkan sikap seorang kesatria, berbeda jauh jika dibandingkan dengan para jenderal lainnya yang secara pengecut cuci tangan.

Salah satu bagian yang menarik perhatian saya dari wawancara di Tabloid Detak waktu itu adalah tentang kuatnya ikatan Sumitro dengan tanah kelahirannya, Kebumen. Sebagai orang kosmopolitan, karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di luar negeri, ternyata ayah Prabowo tetap membanggakan identitasnya sebagai orang Banyumas. “Saya ini orang Banyumas, kalau ngomong blak-blakan,” demikian ujarnya pada suatu kali.

Dalam budaya Jawa, Banyumas memang merupakan sub-kultur tersendiri. Selain dialek bahasa yang berbeda, dan segi perilaku juga berbeda, dibanding kultur Jawa “pusat” Mataram (Yogya dan Solo). Secara umum, kultur Banyumasan dianggap lebih terbuka. Dari wilayah dengan kultur seperti itulah ayah Prabowo, berasal. Ia lahir di Kebumen, 28 Mei 1917.

Sebagai orang Banyumas, di benak Sumitro selalu ada tempat bagi segala sesuatu yang berbau Banyumas. Jika sedang menulis, misalnya, baik buku atau karya lainnya, yang memerlukan konsentrasi tinggi, Sumitro lebih senang mengerjakannya di Kebumen, ketimbang di rumahnya yang asri di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Hingga akhir hayatnya Sumitro tercatat menjadi sesepuh Paguyuban Seruling Mas (Seruan Eling Banyumas), organisasi kekerabatan warga asal Banyumas di Jakarta.

Ciri menonjol lain dari kultur Banyumas adalah tradisi kemiliterannya yang kental. Sejak zaman kolonial, kawasan Banyumas (ditambah Kedu dan Bagelen), merupakan sumber rekrutmen terpenting bagi calon personel KNIL. Terlebih pusat pendidikan calon bintara KNIL memang terletak di Gombong, Kabupaten Kebumen. Tak heran jika kemudian kedua adik Sumitro, alias kedua paman Prabowo, juga menempuh jalan hidup sebagai tentara. Keduanya gugur dalam sebuah pertempuran di masa revolusi.

Saat masih berbesan dengan Soeharto, hubungan keluarga Prabowo dengan keluarga mertuanya tak bisa dibilang mesra. Beberapa kali bahkan diwarnai perbedaan pendapat. Sulitnya terjalin hubungan yang akrab itu, menurut analisis Sumitro, bersumber dari perbedaan kultur antara kedua keluarga.

Soeharto yang berasal dari Yogya, dan isterinya yang berasal dari lingkungan keraton Mangkunegara, Solo, telah membentuk sebuah keluarga yang sangat kental warna Jawanya: amat feodal. Sebaliknya, keluarga ayah Prabowo sangat berbeda dalam hal tradisi. Mereka lebih terbuka, egaliter, sangat modern, berpendidikan barat, dan dalam banyak hal justru “tak paham” dengan tradisi Jawa. Ibu Prabowo, misalnya, berasal dari Minahasa yang lama hidup di Eropa. Sedangkan ayahnya, Sumitro, dibesarkan keluarganya di daerah Banyumas yang memiliki tradisi “memberontak”.

Sumitro dalam wawancaranya menjelaskan bahwa silsilah keluarganya sebetulnya juga berasal dari Yogya, namun dari kelompok pemberontaknya, sehingga harus terusir ke Banyumas. Leluhurnya ialah Pangeran Diponegoro dan Pangeran Moerdoningrat, yang memberontak kepada pemerintah kolonial.

Sumitro mengemukakan bahwa ia tidak mungkin dapat menempatkan diri dalam suasana keluarga yang sangat Jawa seperti di keluarga Soeharto. “I can’t do that, daripada saya harus munafik.” Sumitro menyadari bahwa pribadinya sangat berbeda, dengan kebiasaan untuk senantiasa bersikap terbuka, dalam mengutarakan sesuatu tak ada yang perlu ditutup-tutupi. Semuanya serba terus-terang.

Jadi, melihat pembawaan Prabowo yang terbuka, terus terang, dan apa adanya, saya kira karakter itu tak lepas dari pengaruh kultur Banyumas yang melatari keluarganya.

Tak heran, saat berkampanye di Purwokerto hari ini, warga Banyumas menyambutnya dengan spanduk yang mengharukan ini: “Rika ora dewekan, Pak!”

Ya, Anda tidak sendirian, Pak Prabowo!

OLEH Tarli Nugroho

Comments

comments