KAMPANYE AKBAR PRABOWO-SANDI & BAPER SBY

OLEH AENDRA M Kartadipura*)

Jenderal Purnawirawan itu kirim surat dari Singapura. Ia Ketua Umum Partai dan partainya ada dalam daftar Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai partai koalisi pendukung salah satu Capres di Pilpres 2019. Surat itu menguncang paska Kampanye Akbar yang dihadiri jutaan masa. DItulis sehari sebelum kampanye Akbar (yang tanpa ada suap nasi bungkus ataupun kaos dan lainnya). Masa datang ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan Jakarta, 7 April 2019 itu. Kampanye fenomena ini adalah yang pertama di semesta tanah air Indonesia.

Kampanye ini kuat dan menyebar luas baik foto dan video kuat dan mengetarkan, merinding. Tak bisa dipungkiri, ini dahsyat sekali dan memberikan kejutan yang tak terduga. Ini masa 411 atau 212? Bukan ini bukan sedang reuni demo anti penista agama yang pernah terjadi di Monas itu.

Ini masa yang ada dalam kekuatan pilpres dari pasangan 02. Masa ini masanya Prabowo Sandi. Masa yang ingin perubahan dan rakyat yang ingin perubahan di 2019 mereka ini pemilih yang damai tanpa pemilih yang anti kecurangan. Masa yang datang dengan tulus dari seluruh antero samudra tanah air datang sehari sebelum acara kampanye. Mereka datang bermalam disana, seluruh Hotel penuh di kawasan senayan. Ini jarang terjadi.

Acara sukses? Jangan ditanya karena jawabannya cuma satu. Mengetarkan tadi, alias sukses banget dan sekali lagi sukses banget pisan. Lantas televisi nasional kenapa adem ayem, hanya satu TVOne yang menayangkan Live. Ah yang lain sudah lupa bahwa mereka  “Media is the forth estate”, atau Media is a watch dog” mestinya begitu. Tapi biarlah kenyataan sudah demikian.

Teater Kolasal

Umumnya drama atau teater kolosal adalah pemainnya yang banyak. Namun Pagi di Ahad 7 April 2019 di SUGBK, aktornya satu dan penontonnya adalah yang kolosal. Satu bentuk ekspresi yang kuat saat sang tokoh utama melalukan orasi atau pidato pagi yang cerah ini. Membumi. Dan menjadi central poin di panggung itu.

Ia tanpa teks bagai memainnkan monolog, meski secara struktur dramatiknya lompat-lompat ia mampu menguasi panggung. Ia kuasai panggung dan paham adegan, sadar akan blocking dan paham dimana public yang ada dihadapannya, membagi ruangnya dalam bertutur. Disinilah ia menjadi aktor memperlihatkan kualitasnya dengan diksi kuat. Sebuah monolog panggung kolosal penonton. Ia kritik tajam rejim petahana, mlai soal bohon dan dan kartu, mulai soal bagi-bagi jabatan dan banyaknya korupsi, sampailah ia akan bebaskan dan bawa pulang sang Imam Besar Habib Rizieq. Keren, tentu secara visual. Dan menguncang secara kenyataan di panggung GBK. Karena ia telah menunjukkan kelasnya dan hadir tanpa rekayasa. Ia adalah Prabowo Subianto, Presiden masa depan Indonesia. Semoga.

Pakar Semiotika dari ITB Acep Iwan Saidi (AIS) kirim tulisan ke saya isinya mengatakan ini akhir pekan yang menyenangkan buat politik. Terutama, pasti, bagi Prabowo-Sandi (02) dan para pendukungnya. Pasalnya, gelar rapat akbar 02 di Gelora Bung Karno (GBK) subuh hingga pagi ini (Ahad, 7/04/ 19), sukses abis. GBK putih polos. Prabowo juga berada pada puncak stamina. Pidatonya keren. Lalu kang AIS demikian ia biasa disapa mengutip dialognya dengan Kang Eep Saefullah Fatah yang isinya: “Itu pidato orang berbahagia,” demikian pesan pendek via whatsApp (WA) kepada Kang AIS. Lalu mereka pun diskusi selanjutnya.

Saya juga ingin mengutip tulisan Kang AIS sebagian lagi yang cukup membawa pesan soal Ahad Pagi di GBK, dia menuliskan begini:

Soalnya, saya belum percaya kalau mereka datang karena dukungan politik semata. Bukankah tidak pernah ada pula partai politik yang bisa memobilisasi rakyat sedemikian hebat. Mereka datang, saya pikir, karena dihela oleh kegelisahan dari dalam dirinya sendiri.

Apa itu? Saya tidak tahu persis. Jika boleh menduga, barangkali mereka ingin menyatakan dirinya ADA, sebagai MAKNA.

Mereka tidak betah terus-menerus diposisikan di luar layar, sebagai pemerhati gambar. Indonesia bukan sebuah lukisan. Mereka sudah jenuh dengan citra. So, mereka ingin menembus ke balik layar, menjadi bagian dari sejarah. Mereka ingin tegaskan: Indonesia itu nyata. Kekayaan tanah air juga nyata.

Sebagai penonton di antara “dua televisi”, tentu saja saya ikut berbahagia. Khususnya karena pagi di akhir pekan ini saya menyaksikan seorang calon presiden berpidato dengan “gaya dan konten” yang nyaris sempurna. Prabowo sedang tunjukkan kepada publik kualitas dirinya: “diri-luar dan diri-dalam sekaligus”.

Dari diri-luarnya saya bersaksi atas bahasanya yang mengalir, gesture-nya yang terjaga, dan penguasaan panggungnya yang oke. Pagi ini Prabowo benar-benar tahu: Beliau tengah berada di mana dan sedang apa. Saya seperti sedang menyaksikan sejarah orasi politik para pemimpin kelas dunia.

Tony Rosyid pengamat politik dan pemerhati bangsa mengatakan : Kita bisa saksikan hari ini di GBK, jutaan pendukung Prabowo dari berbagai wilayah hadir. Arak-arakan motor dari Solo, konvoi mobil dari Bandung, para pejalan kaki dari Surabaya dan Ciamis, Sewa sejumlah pesawat dari luar Jawa. Massa betul-betul militan dan bisa dimobilisasi. Hari ini jutaan rakyat berhasil memutihkan kawasan Senayan dan sekitarnya. Ini unjuk kekuatan yang tak boleh dianggap remeh.

Apakah mereka hadir karena digerakkan oleh cintanya kepada Prabowo? Sebagian mungkin iya. Tapi rasa kecewa dan marah kepada rezim hampir dipastikan sebagai alasan yang paling dominan. Marah, bukan saja karena faktor ekonomi dan semua masalah terkait pengelolaan pemerintahan, tapi juga prilaku politik rezim yang oleh mereka dianggap terlampau represif. Dan nampaknya, tak cukup waktu tersisa lagi bagi kubu Jokowi untuk meredam kemarahan rakyat itu.

“Anda bisa bayangkan, jika kecurangan terbukti dan mereka tak terima, mungkinkah people power bisa dihindari? Karena itu, hentikan segala bentuk kecurangan dan praktek-praktek kampanye yang melanggar jika kita ingin pilpres aman. Hanya itu caranya. Tak ada cara yang lain. Siapapun yang akan jadi pemenang, jika pilpres jurdil, pasti akan diterima oleh semua pihak. Rakyat legowo,” tulis Tony dilaman Pribuminews.co.id

Itulah kira-kira yang terjadi, sebuah drama kolosal yang menguncang dan mengetrakan dan terjadi dalam ruang besar Indonesia.

SBY BAPER

Kembali soal sang Jendral Purnawirawan yang bikin surat, dan ini menjadi curi adegan ketika drama itu akan digelar. Surat beredar. Pertunjukan kolosal yang dahsyat tetap berjalan dengan ketidapuasan melului surat mempertanyak run down. Inilah surat baper yang sebenarnya tidak menarik. Jika saja ini pengantar apresiasi mungkin ini terlalu persaan Pak?

Kali ini Sang Jenderal itu sebenarnya satu tim lalu dengan menulis surat dengan yang ditujukan untuk partainya dan terbuka ke publik kemana posisi sang Jenderal itu? Abu-abukah?

Silakan simak isinya berikut ini:

Kepada yang terhormat

1. Ketua Wanhor PD Amir Syamsudin
2. Waketum PD Syarief Hassan
3. Sekjen PD Hinca Panjaitan

Bismilahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam Sejahtera

Salam Demokrat!

Sebenarnya saya tidak ingin mengganggu konsentrasi perjuangan politik jajaran Partai Demokrat di tanah air, utamanya tugas kampanye pemilu yang tengah dilakukan saat ini, karena terhitung mulai tanggal 1 Maret 2019 yang lalu saya sudah memandatkan dan menugaskan Kogasma dan para pimpinan partai untuk mengemban tugas penting tersebut. Sungguhpun demikian, saya tentu memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan agar kampanye yang dijalankan oleh Partai Demokrat tetap berada dalam arah dan jalur yang benar, serta berlandaskan jati diri, nilai dan prinsip yang dianut oleh Partai Demokrat. Juga tidak menabrak akal sehat dan rasionalitas yang menjadi kekuatan partai kita.

Sore hari ini, Sabtu, tanggal 6 April 2019 saya menerima berita dari tanah air tentang ‘set up’, ‘run down’ dan tampilan fisik kampanye akbar atau rapat umum pasangan capres-cawapres 02, Bapak Prabowo Subianto-Bapak Sandiaga Uno, di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Karena menurut saya apa yang akan dilakukan dalam kampanye akbar di GBK tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif, melalui sejumlah unsur pimpinan Partai Demokrat saya meminta konfirmasi apakah berita yang saya dengar itu benar. Malam hari ini, saya mendapat kepastian bahwa informasi yang didapat dari pihak lingkaran dalam Bapak Prabowo, berita yang saya dengar itu mengandungi kebenaran.

Sehubungan dengan itu, saya minta kepada Bapak bertiga agar dapat memberikan saran kepada Bapak Prabowo Subianto, capres yang diusung Partai Demokrat, untuk memastikan hal-hal sebagai berikut:

Penyelenggaraan kampanye nasional (dimana Partai Demokrat menjadi bagian didalamnya) tetap dan senantiasa mencerminkan ‘inclusiveness’, dengan sasanti ‘Indonesia Untuk Semua’ juga mencerminkan kebhinnekaan atau kemajemukan. Juga mencerminkan persatuan. ‘Unity in diversity’. Cegah demonstrasi apalagi ‘show of force’ identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuasa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrem. 

Pemilihan Presiden yang segera akan dilakukan ini adalah untuk memilih pemimpin bangsa, pemimpin rakyat, pemimpin kita semua. Karenanya, sejak awal ‘set up’-nya harus benar. Mindset kita haruslah tetap ‘Semua Untuk Semua’ , atau ‘All For All’. Calon pemimpin yang cara berpikir dan tekadnya adalah untuk menjadi pemimpin bagi semua, kalau terplih kelak akan menjadi pemimpin yang kokoh dan insyaallah akan berhasil. Sebaliknya, pemimpin yang mengedepankan identitas atau gemar menghadapkan identitas yang satu dengan yang lain, atau yang menarik garis tebal ‘kawan dan lawan’ untuk rakyatnya sendiri, hampir pasti akan menjadi pemimpin yang rapuh. Bahkan sejak awal sebenarnya dia tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin bangsa. Saya sangat yakin, paling tidak berharap, tidak ada pemikiran seperti itu (sekecil apapun) pada diri Pak Jokowi dan Pak Prabowo.

Saya pribadi, yang mantan capres dan mantan Presiden, terus terang tidak suka jika rakyat Indonesia harus dibelah sebagai ‘pro Pancasila’ dan ‘pro Kilafah’. Kalau dalam kampanye ini dibangun polarisasi seperti itu, saya justru khawatir jika bangsa kita nantinya benar-benar terbelah dalam dua kubu yang akan berhadapan dan bermusuhan selamanya. Kita harus belajar dari pengalaman sejarah di seluruh dunia, betapa banyak bangsa dan negara yang mengalami nasib tragis (retak, pecah dan bubar) selamanya. The tragedy of devided nation. Saya pikir masih banyak narasi kampanye yang cerdas dan mendidik. Seperti yang kita lakukan dulu pada pilpres tahun 2004, 2009 dan 2014. Bangsa kita sangat majemuk. Kemajemukan itu disatu sisi berkah, tetapi disisi lain musibah. Jangan bermain api, terbakar nanti.

Para kader pasti sangat ingat, Partai Demokrat adalah partai Nasionalis-Relijius. Bagi kita Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika adalah harga mati. Tidak boleh NKRI menjadi Negara Agama ataupun Negara Komunis. Indonesia adalah ‘Negara Pancasila’ dan juga ‘Negara Berke-Tuhanan’. Inilah yang harus diperjuangkan oleh Partai Demokrat, selamanya.

Saya berpendapat bahwa juga tidak tepat kalau Pak Prabowo diidentikkan dengan kilafah. Sama tidak tepatnya jika kalangan Islam tertentu juga dicap sebagai kilafah ataupun radikal. Demikian sebaliknya, mencap Pak Jokowi sebagai komunis juga narasi yang gegabah. Politik begini bisa menyesatkan. Sejak awal harusnya narasi seperti ini tidak dipilih. Tetapi sudah terlambat. Kalau mau, masih ada waktu untuk menghentikannya. 

Dari pada rakyat dibakar sikap dan emosinya untuk saling membenci dan memusuhi saudara-saudaranya yang berbeda dalam pilihan politik, apalagi secara ekstrem, lebih baik diberi tahu , apa yang akan dilakukan Pak Jokowi atau Pak Prabowo jika mendapat amanah untuk memimpin Indonesia 5 tahun mendatang (2019-2024). Apa solusinya, apa kebijakannya? Tinggalkan dan bebaskan negeri ini dari benturan identitas dan ideologi yang kelewat keras dan juga membahayakan. Gantilah dengan platform, visi, misi dan solusi. Tentu dengan bahasa yang mudah dimegerti rakyat. Sepanjang masa kampanye, bukan hanya pada saat debat saja.

Demikian Pak Amir, Pak Syarief dan Pak Hinca pesan dan harapan saya. Ketika saya menulis pesan ini, saya tahu AHY berada dalam penerbangan dari Singapura ke Jakarta, setelah menjenguk Ibu Ani yang masih dirawat di NUH. Partai Demokrat harus tetap menjadi bagian dari solusi, dan bukan masalah. Selamat berjuang, Tuhan beserta kita.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Singapura, 6 April 2019

Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono

Jika dilihat dari gaya Pak SBY yang Baper ini mungkin saja kita maklumi. Soal SBY dipertanyakan posisi abu-abu ini menarik. Apakah ia tidak berjuang untuk partai koalisinya. Ia seperti berada tengah-tengah tapi tak fokus juga.

Hendrajit pengamat dari GFI menilai bahwa SBY ini kan sangat memahami kultur dan tradisi NU ya. Mestinya paham dong kalau di GBK berkumandang Salawat Badar, nggak ada cerita itu yang namanya khilafah atau islam esklusif. Cair sudah. “Nggak ada itu politik identitas segala macam,” ujar Hendrajit.

Akhirnya suka-tidak suka jangan salahkan kampanye di GBK yang besar itu, tapi mari buka cakrawala yang luas agar alam membuka tabir yang sebenarnya, dan jangan suka baper deh buang enegi..karena publik sudah melek sekarang Bro…!!!

*) Wartawan Senior

Comments

comments