PIDATO SABTU SORE

OLEH Acep Iwan Saidi

Hari ini, Sabtu (13/04/19), GBK kembali putih, meskipun melalui layar televisi tidak sepenuhnya tampak begitu. Pasalnya, sebagian besar dari peserta tidak memakai topi putih. Di samping itu, umumnya pada kaos mereka yang putih, terdapat pula huruf dan gambar bercetak merah dan warna lain. Akibatnya, melalui layar televisi, pantulannya menjadi tidak terlalu membuat GBK putih. Silakan bandingkan dengan peserta sepekan sebelumnya.

Tentu, seperti pekan lalu, hari ini pendukung Pak Jokowi (01) pastilah juga bahagia. Pun demikian saya. Saya bahagia sebab, paling tidak, 01 telah berikhtiar dengan segala daya untuk mengukir prestasi yang sama dengan 02 dalam membuat sebuah acara. Paling tidak, pada soal jumlah massa yang hadir. Bukankah itu baik buat semua. Baik buat 01 dan 02, juga baik buat kita yang ingin menonton sebuah pentas demokrasi yang usianya memang masih belia.

Dari balik panggung bagian belakang, pada acara itu, kita kemudian menyaksikan 01 muncul: setengah berlari ke depan, ke kanan, ke kiri, sebelum berhenti di tengah, di hadapan tiang “mik berdiri”. Sejurus tampak 01 terengah-engah. Tentu saja berlari ke beberapa sudut panggung itu meminta tenaga.

Tapi, seperti dalam sebuah orkestra, mau tidak mau, 01 harus mengikuti tangga nada, juga pasti, gerak tangan dirigen. Tidak mengapa, bukankah rakyat memang harus dibuat bahagia. Kita ingat 2014. Pemandangan seperti ini juga pernah kita saksikan. Setidaknya kita ingat Grup Band Slank. Dulu mereka di panggung tersebut. Sekarang juga masih tetap di sana. Tentu ini sebuah tanda bahwa Pak Jokowi telah berhasil “merawat” mereka, mungkin juga merawat peserta yang hadir di GBK. Bukankah kampanye akbar tahun 2014 juga fenomenal dalam jumlah peserta.

Panggung yang steril, yang tampak hanya diperuntukkan untuk 01 sendiri menjadikan suasana menjadi kian tertata dengan rapi. Pak Jokowi lantas menyapa dalam berbagai bahasa: Sunda, Jawa, Aceh, Papua, Solo, dan seterusnya, dalam bahasa daerah tersebut. Tentu 01 tidak menguasai seluruh bahasa daerah itu—setidaknya kita bisa melihat 01 yang beberapa kali membaca.

Tindakannya menyapa, dengan begitu, lagi dan lagi, menjadi tampak sebagai sebuah upaya yang demikian terencana. Dari situ, saya menangkap ada upaya untuk berdekatan dengan massa, tapi sekaligus juga “menjauhkan diri” darinya. Teks yang dibaca 01 adalah media yang diupayakan untuk menjadi dekat dengan massa di satu sisi, tapi pada sisi lain ia justeru mengantarai 01 dengan yang disapanya. Merujuk kepada T.Hall, dari strategi ini ternganga sebuah antara, beberapa hasta. Itulah yang dikategorisasi Hall sebagi jarak formal.

Saya tidak ingin menyinggung konten, seperti juga tak saya singgung konten pidato 02 pekan lalu. Pasalnya, konten pidato keduanya sudah sering kita dengar. Hal yang menarik adalah bagaimana konten itu disampaikan. Di sini saya melihat upaya keras 01 yang terus-menerus ingin keluar dari teks sehingga hanya sesekali saja ia membacanya. Mungkin juga di atas kertas itu hanya tertulis pointers, semacam acuan agar sistematika pembicaraan terus terjaga.

Sementara itu, pada 02 beban tersebut sudah diatasi sejak mulai bicara. Ia bilang ada teks yang sudah ditulis, tapi ia lebih suka berbicara langsung. Ia bebaskan dirinya dari ikatan teks, juga dari ikatan jarak dengan peserta yang hadir. Tentu semua ingat, panggung 02 penuh sesak. Bahkan nyaris dirinya tidak bisa bergerak. Di tengah kerumunan itu 02 larut. Tidak tersedia ruang bagi 02 untuk menampilkan dirinya yang lain. Alih-alih demikian, ia menjadi kerumunan itu sendiri.

Sebaliknya, seperti telah disinggung di atas, pada 01 panggung hanya untuk 01 saja. Sebab itu, segera tampak ruang yang luas membentang. Tapi pun demikian, sesungguhnya 01 juga tidak sendirian. Di kiri kanan panggung, berjejer dari depan ke belakang, “layar-layar maya bergelantungan”. Dan di situ kita bisa melihat bayangan sosok 01: sosok-sosok yang memantul pada layar, semacam cermin yang menghadirkan diri menjadi gambar.

Baiklah saya simpulkan saja. Jika Pidato Ahad Pagi pekan lalu adalah parole, sebuah ekspresi individu; Pidato Sabtu Sore adalah langua (language), sebuah ujaran yang tertata secara sistemik. Dan karena esei ini secara spesifik membicarakan yang terakhir, saya akan tutup dengan hal yang menarik di kubu ini. Pada kampanye akbar tersebut—seperti juga pada kampanye-kampanye lainnya—01 selalu meminta kepada publiknya mengkonfigurasi sebuah gerak gestural. Kurang lebih 01 selalu berteriak begini: “Ayo silakan acungkan jarinya, lalu angkat jempolnya!” Saya tidak tahu persis, apakah ketika ibu jari diacungkan, jarinya telah diturunkan.

Selamat memilih. Barangsiapa punya pilihan, tentu ia punya harapan***

Comments

comments