Mahfud MD itu dalam Semiotika, Disebut Rheme

Acep Iwan Saidi

Pak Mahfud itu org hukum yg politisi. Tindakan politiknya selalu berusaha beliau “carikan legalitasnya” pada hukum, dan sebaliknya, tindakan hukumnya suka punya nuansa politis.

Waktu Beliau bilang ( saya sebut saja sebagai “tuturan 1”) bahwa KPU banyak salah input dan lemot, saya sebenarnya mulai meraba ke mana arahnya, pasti ada yang dilakukan setelah itu. Dan benar, beliau datang ke KPU lalu bikin statemen (tuturan 2) yang bernuansa makna sebaliknya.

Tampak di situ, ” tuturan 1″ adalah tindakan politis, sebab tidak disertai data. Sebab itu beliau lalu datang ke kpu (tindakan hukum, klarifikasi data). Setelah itu kemudian beliau bikin “tuturan 2”

Apakah “tuturan 2” tersebut bisa kita sebut sahih secara hukum? Saya pikir ada bias politis di situ. Ini justeru karena tuturan pertamanya. Berbeda kalau tidak ada tuturan pertama itu. Alias langsung datang ke kpu dan setelah itu baru bicara.

Tapi, tentu publik akan melihat itu “semacam” pernyataan akurat atau seharusnya begitu seorang tokoh/pakar sejatinya menilai. Tabayyun, Bro!

Tapi, bagi saya tidak. Bagi saya, tuturan pertama adalah menggali lubang, tuturan kedua mengubah lubang itu menjadi bukit. Dan doski kemudian bediri di atas bukit itu, setidaknya berharap bisa begitu.

Kalau soal penilaian ttg suku2, politik identitas, dan radikalisme etnis itu, dalam semiotika disebut rheme, interpretasi awal yg tergesa-gesa dituturkan. Kenapa begitu? Sepertinya posisi ketika beliau melihat/menilai sudah berada jauh di “dalam” sana.

ACEP IWAN SAIDI, Pakar Semiotika ITB

Comments

comments